Wednesday, February 24, 2010

Terminal Rawasari Memprihatinkan Fasilitas Minim, Papan Trayek Tak Punya




JAMBI – Kondisi terminal Rawasari hingga saat ini masih memprihatinkan. Selain tempat penumpang menunggu kendaraan yang tak dipunyai, juga papan trayek yang tak ada. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh Kadis Perhubungan Kota Jambi, A Pinem.

Kepada Koran ini, kemarin, dia menyampaikan, ingin menghidupkan kembali fungsi terminal itu sesuai dengan Keputusan Menteri No 31.

“ Seharusnya di terminal ada tempat tunggu penumpang. Sehingga bila hujan, tak kehujanan. Begitu juga kalau panas tak kepanasan. Tidak hanya itu juga harus ada papan trayek, terminal kita ini tak memiliki semuanya itu,” ujar Pinem.

Tetapi hal itu bukanlah kendala bagi pihaknya dan hal ini di buktikan dengan memasang sejumlah tenda yang digunakan untuk penumpang menunggu angkot. Dia berharap dengan dipasangnya tenda tersebut , tidak ada lagi penumpang yang menunggu di luar terminal.

Peran dari masyarakat atau pengguna Angkot memiliki peran penting dalam ketertiban terminal, sebab tanpa ada peran serta masyarakat maka kondisi terminal tak akan berubah.

“Kalau penumpangnya masih menunggu diluar tentu Angkotnya juga akan menaikan penumpang diluar, untuk itu kita himbau kepada penumpang untuk naik kendaraan di dalam terminal,” tambahnya.

Pinem juga mengatakan bahwa fungsi terminal bukan sebagai tempat Angkot untuk mangkal menunggu penumpang.

“ Kalau masuk ke terminal dan menurunkan penumpang, kendaraan tetap berjalan pelan setelah membayar retribusi harus langsung menuju kemana tujuannya,” tukasnya sambil mengatakan bahwa disitulah perlu adanya terminal penyangga. Dimana terminal penyangga akan mengatur jadwal keberangkatan apakah setiap lima menit atau lebih. Dia juga menyayangkan adanya genangan air yang berada dalam terminal.

“ Segera kita akan koordinasi dengan Dinas PU bagaimana air tersebut tidak lagi menggenangi sengan memperbaiki drainasenya,” akhirnya.

(cr1)

Tembak Bayaran Minuman di Kafe, Debt Collector Keluarkan Pistol




Buhari saat diamankan di Percut Sei Tuan.


MEDAN-Meski hanya seorang debt collector di perusahaan jual beli sepeda motor, Buhari (42) melengkapi diri dengan senjata api. Bahkan, warga Pasar V Gang Bunga, Tembung, Percut Sei Tuan ini, menodongkan pistolnya ke seorang waitress di Kafe Diki di Jl.Jermal XV, Kec.Medan Denai, dinihari kemarin (23/2).

Menurut Kapolsekta Medan Area, AKP Juliani, sepucuk senjata api jenis revolver berukuran 22 milimeter made in USA berikut 6 butir peluru diamankan dari Buhari. Malam itu, terang Juliani, Buhari sedang makan minum di Kafe Diki. Namun, saat Laila Apipah (29), seorang waitrees, memberikan tagihan atas biaya makan minum sebesar Rp 150 ribu, Buhari malah tak mau membayar.

Meski didesak, Buhari tetap menolak membayar dan berjanji membayar pada lain hari saja. Namun Laila bersikeras. Buhari akhirnya emosi apalagi dia telah dipengaruhi miras. Spontan dia mencabut pistol dari pinggangnya dan menodongkannya ke Laila.

Suasana di Kafe Diki berubah tegang. Pengunjung lain pun jadi ciut, juga waitress. Diam-diam, pemilik kafe akhirnya menghubungi polisi dan Buhari akhirnya diringkus lalu diboyong ke Mapolsek Medan Area.

Saat ditemui, Buhari mengaku mendapatkan pistol itu dari seseorang kenalannya di Calang, NAD, saat ia bertugas hendak menarik mobil sekira 3 bulan yang lalu. Pistol itu pun dibelinya seharga Rp 250 ribu berikut 6 butir pelurunya.

“Kita masih melakukan penyelidikan, apakah senjata api yang dimilikinya pernah dilakukan untuk tindak kejahatan. Kita masih melakukan penyelidikan lebih dalam,”ujar Juliani. Atas perbuatannya dan kepemilikan senjata illegal tersebut. Buhari pun diancam pasal 335 ayat I jo UU Darurat no.12 tahun 1951 dengan ancaman 20 tahun penjara. (johan)

Saturday, February 20, 2010

Disdik Sumut Belum Alirkan Dana BOS

Rabu, 17 Februari 2010
MEDAN

Dinas Pendidikan Sumatera Utara belum juga mengalirkan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) tahap pertama tahun 2010 untuk Kota Medan. Harusnya per triwulan, paling lambat Maret 2010 sudah digelontorkan.

“Dana BOS 2010 untuk Kota Medan memang belum disalurkan. Karena dananya juga belum tersalur dari Dinas Pendidikan Sumatera Utara (Disdik Sumut),” terang Manajer BOS Dinas Pendidikan Kota Medan, Hj Mahninda, kepada wartawan, Selasa (16/2).

Mahninda juga mengatakan, tak bisa memastikan tepatnya tanggal penyaluran Dana BOS tersebut. “Jika menurut jadwal, harusnya paling lambat Maret 2010 ini sudah disalurkan. Jadi kami masih menunggu dari Dinas Pendidikan Provinsi untuk tanggal tepatnya penyaluran dana ini,” jelasnya.

Lebih lanjut Mahninda mengatakan, jika dana tersebut telah turun dari dinas pendidikan provinsi, maka akan segera disalurkan ke seluruh sekolah yang telah kami ajukan, melalui rekening sekolah tersebut. “Prosesnya ada di pusat, dan langsung ke dinas pendidikan provinsi kemudian langsung disalurkan ke rekening masing-masing sekolah. Jadi tak ada singgah ke dinas kabupaten/kota,” jelasnya.

Kita ketahui bersama, anggaran Dana BOS Tahap Pertama 2010 untuk Kota Medan mencapai Rp39.497.112.500. Dana BOS ini dialokasikan untuk siswa tingkat SD dan SMP, baik itu negeri, swasta, luar biasa, dan terbuka. “Sekolah penerima Dana BOS untuk tingkat SD berjumlah 783 sekolah dan untuk tingkat SMP berjumlah 338 sekolah. Siswa SD Negeri di Kota Medan penerima Dana BOS mencapai 131.131 siswa, dengan anggaran dana Rp13.113.100.000. Sedangkan untuk siswa SD Swasta mencapai 116.390 siswa, dengan anggaran dana Rp11.639.000.000,” jabar Mahninda.

Sedangkan untuk tingkat SMP, siswa SMP Negeri penerima Dana BOS mencapai 36.850 siswa, dengan anggaran dana Rp5.297.187.500. Untuk siswa SMP Swasta mencapai 71.491 siswa, dengan anggaran dana Rp9.360.137.500. Dan untuk siswa SMP Terbuka mencapai 610 siswa, dengan anggaran dana Rp87.687.500.

Per tahun per siswa, untuk tingkat SD/SDLB di kota mendapatkan Rp400.000, sedangkan di kabupaten Rp397.000. Untuk tingkat SMP/SMPLB/SMPT di kota mendapatkan Rp575.000, sedangkan di kabupaten Rp570.000. (saz/smg)

8 Jam Diguyur Hujan, Kota Banjir Disinyalir Akibat Drainase Sempit

JAMBI - Hujan yang mengguyur kota Jambi kemarin memang betul-betul luar biasa. Selama delapan jam sejak Subuh kemarin, hujan turun membasahi kota hingga siang harinya. Kondisi ini membuat debet Sungai Batanghari naik dan beberapa daerah di dataran rendah terendam air. Hampir seluruh sudut-sudut kota kemarin mengalami kebanjiran. Mulai dari jalan raya Jambi- Palembang di Kenali Asam bawah, hingga Kampung Legok. Kondisi ini mengusik Walikota dr Bambang Priyanto. Sehingga kemarin, dirinya meninjau kondisi daerah-daerah yang terendam. Dirinya menyebutkan, kondisi terjadi dikarenakan pengelolaan drainase kota yang kurang baik.

“ Drainase yang ada sangat sempit,sehingga mengakibatkan air meluap, dan menggenang “ katanya.

Seperti diketahui, beberapa wilayah di Kota Jambi siang kemarin tergenang,bahkan di wilayah Pal V, ada 20 rumah, kenali asam bawah 40 rumah, bagan pete 50 rumah, yang mana semua rumah tersebut tenggenang air.

Menanggapi banyaknya rumah yang terendam, Walikota Jambi menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membangun rumah di daerah yang rawan banjir. Selain itu, juga diharapkan bisa menjaga lingkungan. Sehingga tidak ada luapan air yang ada.

Sementara itu, Sahrudin, monitoring ND mengatakan bahwa pada pagi harinya, ketinggian air mencapai 13, 46. Sedangkan pada siang harinya mengalami kenaikan 13,50.

Kenaikan ketinggian ini, selain dikarenakan curah hujan yang tinggi, juga disebabkan banyaknya drainase yang berukuran kecil dan rumah masyarakat dekat dataran rendah.

“ Untuk ukuran banjir, ketinggiannya mencapai 13,80, mudah-mudahan ini tidak terjadi, “ jelasnya.

Oleh karena itu, diharapkan kepada masyarakat yang tinggal atau rumahnya berada di dataran rendah untuk dapat mengantisipasi hal ini. Sementara, Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Sosnakertrans) Provinsi Jambi Rafli Nur melalui Kabid Zulfikri mengakui kepada wartawan bantuan yang telah disiapkan belum bisa diberikan karena Laporan Pertanggungjawaban (LPj) yang sebelumnya belum diserahkan.

“Bantuan banjir yang sebelumnya hingga kini belum ada yang memberikan laporannya untuk dijadikan Laporan Pertanggungjawaban (LPj), bagaimana mau disalurkan bantuannya sedangkan bantuan yang lama belum ada laporannya," kata Zulfikri, kemarin.
Ia menambahkan bantuan akan disalurkan bila daerah sudah memberikan laporan terhadap hasil bantuan yang telah diberikan sebelumnya. "Dulu Pemerintah Provinsi melalui dinas sosial memberikan bantuan sebanyak 5 ton beras setiap daerah. Mungkin bantuan yang lama itu masih ada sehingga belum ada laporan kepada kita," jelasnya.
Berdasarkan laporan yang dirangkum Dinas Sonakertrans, kata Zulfikri, saat ini terdapat satu Kabupaten yang sudah dilanda banjir yakni Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun. Sedangkan kabupaten-kabupaten lain yang tergolong rawan banjir saat ini masuk tahap waspada mengingat Air Sungai Batanghari terus naik, seperti Kabupaten Batanghari. "Daerah lain airnya terus naik. Maka dari itu hal ini patut untuk diwaspadai," jelasnya lagi.
Soal kesiagaan. Menurut Zulfikri, Dinas Sosial tetap siaga, apalagi, disetiap daerah sudah ada tim siaga penanggulangan banjir. "Jadi, setiap daerah sudah ada tim siaganya," terangnya.
Banjir melanda daerah Provinsi Jambi beberapa bulan hampir menyeluruh dibeberapa daerah, terutama daerah yang terdapat aliran Sungai Batanghari. Seperti Kabupaten Bungo, Tebo, Batanghari, Sarolangun, Merangin, dan Kabupaten Muarojambi.

(cr1)

Sejumlah Kepsek Terancam Diganti kabupaten muarao tebo

Ditulis oleh amu/rib
Jumat, 19 Februari 2010

Kinerja Tidak Memuaskan

MUARATEBO - Sejumlah kepala sekolah (kepsek) di lingkungan Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan olahraga (Dikbudpora) Tebo, dalam waktu dekat bakal diganti. Hal itu terkait buruknya kinerja beberapa kepsek. Hal itu diutarakan Kepala Dinas Dikbudpora Tebo, Abubakar, kemarin (18/2).

Saat ini pihaknya telah mengantongi beberapa nama kepsek yang bakal diganti. “Ini adalah hasil evaluasi,” katanya. Evaluasi itu sendiri, berdasarkan laporan dari pengawas yang ditugaskan untuk mengontrol sekolah-sekolah. Dan ternyata, ada sejumlah sekolah prestasinya terus menurun.

Padahal menurut Abubakar, semua sekolah di Kabupaten Tebo diharapkan prestasinya menanjak. “Kondisi buruk di sebuah sekolah tidak bisa dibiarkan, kalau kepala sekolahnya dianggap tidak sanggup, maka kita akan langsung ganti,” ujarnya.

Namun Abubakar belum dapat mengumumkan kepala sekolah mana saja yang akan diganti. “Yang jelas mulai dari SD sampai SLTA,” terangnya.

Mengenai kapan pergantian, Abubakar hanya menyatakan dalam waktu dekat, “Yang jelas tahun 2010 banyak kepala sekolah yang diganti,” terangnya.

Menurunnya kinerja dari sejumlah Kepsek ini, menurutnya karena para kepsek sudah lama memangku jabatan sebagai kepala sekolah. “Rata-rata sudah jenuh dengan tempatnya memimpin, tetapi ada juga yang malas-malasan bekerja,” ungkapnya.

Kondisi itu akan berdampak terhadap aktivitas belajar mengajar di sekolah. Sehingga prestasi siswa bisa menurun. Menurutnya, pihaknya sudah sering memperingati kepsek yang jarang sekali berada di sekolah. “Kalau yang itu telah kita beri peringatan keras karena selalu melanggar,” tambahnya.

Selain dicopot, sebagian kepala sekolah juga akan ada yang dirolling. Ini menurutnya untuk menumbuhkan semangat baru kepada sekolah. Sekaligus untuk melihat sejauh mana kemampuan kepala sekolah tersebut. “Di suatu tempat dia bagus, lalu ditempatkan pada sekolah lain hasilnya buruk, ini akan menjadi catatan sendiri bagi kita,” tandasnya.(amu/rib)

Kasus Korupsi Satpol PP Batanghari Diusut

Ditulis oleh rib
Selasa, 16 Februari 2010
JAMBI – Diam-diam Sat II Dit Reskrim Polda Jambi telah mengusut kasus dugaan penggelapan dana pengurusan izin senjata api (senpi) di jajaran Satpol PP Kabupaten Batanghari.

Penyidik telah memintai keterangan dari berbagai pihak. Di antaranya mantan Kasi Penyidikan, mantan Kasubag TU, Bendaharawan serta mantan Kakan Satpol PP Batanghari.

Kabid Humas Polda Jambi AKBP Almansyah ketika dikonfirmasi kemarin (15/2) membenarkan pemeriksaan itu. “Masih dalam penyelidikan, kita baru meminta keterangan dari beberapa saksi,” kata mantan Kabid Propam Polda Jambi itu.

Informasi yang dihimpun, dugaan penggelapan dana mengurus izin senpi Sat Pol PP Kabupaten Batanghari ini terjadi 2007 lalu.

Saat itu, Satpol PP Batanghari berniat mengurus izin 16 pucuk senpi dengan bantuan rekanan atau pihak ketiga. Pada waktu itu, Satpol PP menarik dana dari kas daerah kemudian menyerahkan dana sebesar Rp 127,5 juta pada pihak ketiga, yaitu perwakilan PT Bumame di Jambi.

Dalam prosesnya, hingga akhir 2007 sampai saat ini, kabarnya izin perpanjangan senpi tersebut belum juga keluar. Meskipun izin belum keluar dari Polri, namun PT Bumame tidak mengembalikan dana ke Kas Daerah. Hal ini tentunya menimbulkan kerugian negara.

Meskipun PT Bumame tidak berhasil mengurus izin penggunaan senpi itu, tapi sebagai laporan akhir tahun, Satpol PP Batanghari dikabarkan sudah membuat Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) uang untuk izin tersebut.

Mantan Kakan Satpol PP Batanghari, Asmid Jabar ketika dikonfirmasi, membenarkan dirinya sudah dipanggil penyidik Polda Jambi.

Menurutnya sebelum penyerahan dana kepada PT Bumame, sudah dibuat perjanjian. Perjanjian tersebut berbunyi, apabila PT Bumame tidak bisa mengurus perpanjangan izin senpi sampai selesai, maka perusahaan bersedia mengembalikan uang tersebut secara utuh.(rib)

Pemberi Kredit Diperiksa Jaksa

Ditulis oleh ira
Jumat, 19 Februari 2010

Terkait Kredit Raden Motor

JAMBI – Penyidik intelijen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi kembali memeriksa saksi terkait kasus Raden Motor. Setelah sebelumnya memeriksa Account Officer (AO) BRI Cabang Jambi berinisial Rd, kemarin (18/2) giliran Es yang merupakan mantan account officer BRI Cabang Jambi. Es ini telah dimutasikan ke Linggau.

Dia diperiksa jaksa penyidik Douglas P Nainggolan. Dia diperiksa selama enam jam di kantor Kejati Jambi, Telanaipura. Ditemui usai pemeriksaan, Douglas menyatakan Es diperiksa sebagai saksi dalam kasus penyimpangan pemberian kredit BRI Cabang Jambi kepada PT Raden Prima Lestari (PT RPL) alias Raden Motor. Materi pemeriksaannya seputar prosedur pencairan kredit yang diajukan PT RPL, apakah sudah sesuai dengan prosedur atau tidak.

ES, kata Douglas, orang yang terlibat langsung dengan masalah pencairan kredit RPL tersebut. “Dari keterangan ES memang ada sedikit permasalahan dalam pembuatan laporan keuangan PT RPL,” kata Douglas yang enggan menyebutkan nama lengkap saksi Ee.

Douglas menambahkan, pihaknya terus melakukan pendalaman untuk mencari perbuatan melawan hukum yang dilakukan dalam proses pencairan kredit tersebut. Selain itu, pihaknya tetap akan memantau proses penyelesaian pembayaran kredit oleh PT RPL kepada Bank BRI.

“Sebab penyelesaiannya akan dilakukan secara internal oleh pihak BRI. Apalagi mereka (BRI, Red) telah menyurati kantor pusat, mengenai penyelesaian kredit tersebut,” ungkapnya.

Dalam kasus kredit Raden Motor ini, saksi yang telah dimintai keterangannya sudah banyak. Meski telah diperiksa sebelumnya, mereka bakal kembali dipanggil. “Ini untuk melakukan pendalaman. Dari keterangan saksi sebelumnya telah kita mintai keterangannya. Hingga kini sudah ada 10 sampai 15 saksi yang telah dimintai keterangan,” pungkasnya.(ira)

Kejari Bangko Obok-Obok Kantor Diknas

Ditulis oleh ctr
Sabtu, 20 Februari 2010

Kasus Penyimpangan DAK 2009

BANGKO – Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangko terus mengumpulkan bukti-bukti untuk menguak dugaan penyimpangan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2009. Kamis lalu (18/2) mereka melakukan pengeledahan di kantor Diknas Merangin. Korps Adhyaksa tersebut mencari berkas-berkat maupun dokumen yang terkait masalah DAK. Maklum, dana yang bermasalah itu mencapai Rp 14 Miliar. Penggeledahan yang sempat membuat kejut para pegawai maupun tenaga honorer tersebut berlangsung 90 menit.

Meski demikian, menurut sumber di Diknas Merangin, Kepala Diknas Merangin Fauzi tidak keder. Dia sangat santai, saat tim kejaksaan mengeledah kantornya.

Selain berkas maupun dokumen otentik, tim kejaksaan juga menyita uang tunai Rp 60 Juta dari brangkas Bendahara DAK yang ada di kantor Diknas. Uang tersebut diduga kuat sebagian kecil dari penyimpangan DAK.

“Berkas yang dibawa banyak. Bisa jadi itu berhubungan dengan penyelidikan dugaan kasus penyimpangan dana DAK,” kata sumber tersebut.

Terkait penggeledahan itu, Kepala Kejari Bangko Syafruddin Djamain tidak mau berkomentar banyak. Namun dia membenarkan anak buahnya telah melakukan pengeledahan di kantor Diknas. Dia pun mengakui pengeledahan itu, terkait dugaan penyimpangan DAK 2009 di Diknas Merangin.

“Kita belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Sebab, kasusnya masih dalam penyelidikan. Termasuk dana yang disimpangkan belum bisa kita sebutkan,” kata Syafruddin.

Mengenai hasil penggeledahan di Diknas, Syafruddin belum bersedia menjelaskan. Dia beralasan tim penyidik belum memberikan laporan secara resmi hasil pengeledahan yang dilakukan itu. “Sekarang belum. Nanti, pasti akan kita beberkan kepada media,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Merangin Fauzi membenarkan adanya pengeledahan yang dilakukan kejaksaan di kantornya. Tapi, Fauzi mengelak jika uang Rp 60 juta yang disita kejaksaan tersebut hasil dari penyimpangan DAK. Menurutnya, uang tersebut merupakan uang pajak DAK yang akan disetorkan. “Uang yang ditemukan di kantor Diknas oleh tim Kejaksaan merupakan, dana pajak DAK yang akan di setorkan,” ungkapnya.

Meski demikian, Fauzi optimis penggunaan DAK sudah sesuai dengan prosedur dan ketentuan berlaku. ”Yang mana yang di korupsikan sampai sekarang saya pun bingung, dimana celah korupsinya. Karena semua ketentuan dalam pengunaan dana tersebut sudah kami lakukan sesuai prosedur,” katanya.(ctr)

Kejari Usut Penyimpangan Anggaran Pelatihan Guru

Ditulis oleh Finarman Wapu, Jambi
Jumat, 19 Februari 2010

Mantan Kadis Pendidikan Kota Diperiksa

JAMBI – Kasus-kasus korupsi di Kota Jambi terus menjadi bidikan Kejaksaan Negeri (Kejari) Jambi. Belum tuntas kasus proyek PPPK Dinas Tenaga Kerja Kependudukan dan Catatan Sipil (Disnakerdukcapil) Kota Jambi, sudah muncul temuan baru. Kejari diam-diam mengusut penyimpangan anggaran pelatihan guru di Dinas Pendidikan Kota Jambi 2008. Mereka menduga ada ketidakberesan dalam penggunaan anggaran tersebut.



Korps Adhyaksa itu bahkan menaikkan level pengusutan kasus tersebut dari penelaahan laporan ke tingkat penyelidikan.

Penyelidikan itu sudah dimulai awal pekan lalu. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut terbaru setelah tim intelijen Kejari Jambi mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak untuk menelaah laporan dugaan penyimpangan

anggaran pelatihan guru untuk memenuhi standar kompetensi itu. "Sebelum memutuskan penyelidikan, kami memeriksa banyak orang. Salah seorangnya adalah mantan kepala dinas pendidikan M Rawi sebagai saksi. Yang pasti, kami memiliki banyak bahan," ungkap Kepala Kejari Jambi Bambang Riyawan kepada wartawan kemarin (18/2).

“Untuk lebih jelasnya, silahkan tanyakan langsung kepada Kasi Intel,” pintanya.

Biasanya, di level penyelidikan, pemeriksaan bakal berkembang. Kejaksaan akan menindaklanjuti dengan memeriksa siapa saja yang mengetahui kasus yang diusut. Apabila ditemukan dua alat bukti yang cukup, kejaksaan biasanya langsung menaikkan status kasus ke tingkat penyidikan. Pada tahap itu, kejaksaan sudah menyebut tersangka sebagai pihak yang harus bertanggung jawab.

Kasi Intel Dayan Sirait menjelaskan, pengusutan kasus tersebut bermula dari laporan yang masuk ke kejari soal dugaan ketidakberesan kegiatan pelatihan guru yang dilaksanakan tiga hari. Namun laporan akhir kegiatan untuk guru SMP dan SMA tersebut dinyatakan telah dilaksanakan selama 6 hari. Dana pelatihan tersebut bersumber dari APBD tahun 2008.

“Yang kami cari saat itu, apakah ada dugaan korupsinya. Apalagi kegiatan pelatihan tersebut dilaksanakan tahun 2009, sedangkan dananya sudah cair tahun 2008. Diduga ada sekitar Rp 100 juta lebih dana kegiatan tersebut yang diselewengkan,” terang Dayan Sirait.

Dayan mengungkapkan hal itu, berdasar laporan kegiatan pelatihan yang diterima kejaksaan. “Laporannya ada biaya pembuatan sertifikat peserta. Tetapi sertifikatnya tidak diberikan kepada peserta. Honor yang dijanjikan juga tidak diterima sebagian peserta,” jelasnya.

Menurut Dayan, dari hasil penyelidikan timnya, ada empat item kegiatan pelatihan tersebut diduga diselewengkan.

Yaitu honor pemberi materi, panitia dan peserta, biaya makan minum, biaya sewa gedung, dan biaya alat tulis kantor (ATK). “Penyimpangan lainnya jumlah peserta yang hadir dibengkakan. Sementara pelatihan tersebut hanya dihadiri 125 guru, panitia membuatnya 200 orang,” jelas Dayan..

Selain memeriksa mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Jambi M Rawi, kejaksaan juga telah memanggil sejumlah guru yang mengikuti pelatihan tersebut, PPTK, bendahara pengeluaran pembantu, dan staf kepanitiaan. Mereka diperiksa bergiliran. Pemeriksaannya dimulai pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB.

Mengenai pemeriksaan M Rawi, Dayan mengatakan materinya seputar kegiatan pelatihan kompetensi yang diadakan Dinas Pendidikan Kota. “Minggu depan akan ada sejumlah saksi lainnya yang akan kita mintai keterangannya,” tandasnya.

Jaksa Aditya menambahkan, dana pelaksanaan kegiatan tersebut dicairkan pada Desember 2008 dan kegiatannya dilaksanakan 2009. Anehnya, laporan pertanggungjawaban kegiatan itu dibuat pada Desember itu juga. “Padahal, kegiatan belum dilaksanakan,” katanya.(ira)

Banjir Genangi RS Pirngadi, Tinja Ngapung di Ruangan Pasien Miskin

Sabtu, 20 Februari 2010
MEDAN-Hujan yang mengguyur Kota Medan, Jumat (19/2) siang langsung membanjiri ruang kelas III RSU Dr Pirngadi Medan. Kamar istirahat yang menampung pasien miskin itu semakin tampak kumuh dan memprihatinkan. Terlebih saat wc yang tumpat meluap, tinja pun mengapung di ruangan.

Puluhan pasien yang tengah menderita sakit tak mampu berbuat banyak saat air hujan menggenangi bawah ranjang mereka. Meski genangan air tak sampai naik ke bangsal, kecemasan tergambar di wajah pasien miskin yang mendiami ruangan XVIII, XXI, III anak, dan ruangan XIV.

Kondisi terparah terlihat di ruang XVIII, tempat pasien paru dirawat. Di dua ruangan ini, air membanjiri semua lantai. Apalagi air juga masuk dari atap berasbes yang sudah bolong. Ruangan tersebut semakin basah karena kiriman air dari lantai ruang XIV. Parahnya lagi, kotoran manusia keluar dari kamar mandi dan mengapung di ruangan tersebut hingga menyebar ke jalan umum.

Beberapa pasien dan keluarganya memilih keluar dari ruangan, namun ada pula yang bertahan di atas tempat tidur karena tidak bisa bergerak. Seorang pasien di Ruang XVIII yang enggan namanya dikorankan mengaku terkejut saat ingin buang air kecil. Kamar mandi telah digenangi tinja yang keluar dari wc.

“Saya mau buang air kecil, begitu masuk kamar mandi sudah parah saya lihat. Lantas saya laporkan sama perawat dan petugas medis di luar. Dan saya memilih keluar,” ujarnya.

“Dari pada di dalam lihat pemandangan begitu, mending keluar. Nggak tahan saya baunya,” imbuh pria yang sudah 12 hari dirawat di ruang XVIII tersebut. Hingga pukul 13.30 WIB, ruangan tersebut belum juga dibersihkan.

Roslita (55), keluarga pasien yang sedang menunggu anaknya di ruang III mengaku miris dengan kondisi genangan air. “Ginilah pasien miskin dirawat ruangan miskin. Tak terawat, tak diperhatikan,” ujarnya saat melintas di genangan air menuju ruang III, yang bersebelahan dengan ruang XXI.

Warga Jalan Gurila ini mengatakan jika banjir di luar ruangan bisa dimaklumi, tapi kalau banjir di dalam ruangan itu yang luar biasa. “Inilah luar biasanya, banjir luar dalam,” tukasnya.

Sementara itu, Dirut RSU dr Pirngadi Medan, dr Dewi Fauziah Syahnan Sp.THT mengatakan sejatinya pihak rumah sakit sudah menugaskan petugas mengangkut kotoran dari riol. “Padahal sudah ada orang yang saya suruh membersihkan riol dan mengangat kotoran dengan ember, tapi ternyata masih ada ya,” ungkapnya.

Dewi yang baru saja dilantik sebagai direktur defenitif, Jumat (19/2) pagi, mengatakan,” Dalam beberapa hari ini, tapi saya belum tahu pastinya. Saya hanya standbye saja. Kalau nanti sudah ada kepastian, dalam waktu dekat pasien kelas III akan segera dipindahkan ke gedung baru,” ungkapnya.

Kabag Hukum dan Humas RSU dr Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin yang meninjau lokasi malah berkilah kalau kejadian itu disebabkan tingginya curah hujan. “Kalau selama ini cuaca panas terus, jadi begitu hujan tumpah semua airnya yang selama ini tertahan,” kilahnya.

Dirut Bukan Boneka

Menanggapi parahnya kondisi rumah sakit milik Pemko Medan itu, Anggota Komisi B DPRD Medan, Bahrumsyah mencium sebuah ketidak wajaran. Pasalnya, meski bangunan baru yang diperuntukkan bagi pasien miskin rampung, Direktur RSU dr Pirngadi tak juga memanfaatkannya.

“Sebenarnya kita sudah minta supaya ini diusut. Apa yang membuat Dirut menerima sementara bangunan itu belum itu selesai,” ujar Bahrumsyah.

Lebih lanjut, ia mengatakan, ada sesuatu yang tidak beres dibalik serah terima bangunan yang belum selesai tersebut. “Kejadian ini sudah luar biasa. Untuk itu harus dilakukan investigasi. Sudah capek kita bilang ke mereka. Tampaknya Dirut ini pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya dia berada di bawah tekanan saat serah terima. Kita tidak mau Dirut hanya dijadikan boneka disitu,” beber Bahrum.

Karena bangunan gedung baru kelas III telah menghabiskan APBD sebesar Rp20 miliar. Karenanya, Bahrum mendesak agar RSU Pirngadi segera diaudit. (Widya)

Jutaan Hektare Hutan Dialihkan Paksa Jadi Perkebunan

Sabtu, 20 Pebruari 2010
Pontianak (ANTARA ) - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Sabtu, menyatakan bahwa dia dan kementeriannya telah mendapat laporan bahwa jutaan hektare areal hutan telah dialihkan untuk kawasan perkebunan.

"Laporan pelanggaran ini misalnya hutan produksi, hutan lindung yang dialihkan untuk perkebunan," kata Zulkifli di sela kunjungan ke Pontianak, Sabtu.

Menurutnya, pemanfaatan lahan di areal hutan produksi, hutan lindung atau hutan konservasi yang belum mendapat izin dari Menhut masuk adalah pelanggaran pidana dan diancam hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp5 miliar.

Kementerian Kehutanan sejak Januari lalu sudah bekerjasama dengan aparat penegak hukum dari kepolisian, Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kejaksaan untuk membentuk tim terpadu yang menangani kasus-kasus kejahatan sektor kehutanan.

Selain perusahaan yang melanggar, pihak pemberi izin juga dapat dikenakan ancaman hukuman. "Sudah banyak bupati yang tersangkut hukum," katanya.

Saat ini sudah ada sekitar 20 perusahaan yang diperiksa dalam masalah izin kuasa pertambangan di areal hutan, sedangkan yang sudah disidangkan dan divonis bersalah pengusaha DL Sitorus dengan hukuman delapan tahun penjara.

"Prosesnya lama," kata Zulkifli.

Ia menegaskan, untuk areal penggunaan lain tidak masalah kalau digunakan ke sektor perkebunan atau pertambangan.

Ia juga menolak kalau ada usulan dari daerah untuk menetapkan pengalihan areal hutan yang sudah digunakan ke sektor lain, seperti perkebunan dan pertambangan.

"Tidak boleh dan tidak dapat diputihkan," kata Zulkifli Hasan. (*)

artikel photo




Korban Banjir
Sejumlah warga korban banjir mengantre air bersih di daerah Baleendah Bandung, Jawa Barat, Sabtu (20/2). Korban banjir tersebut mengeluhkan kurangnya pasokan air bersih serta kebutuhan MCK akibat rumah mereka masih terendam banjir dengan ketinggian rata -rata 1,5 Meter. Sabtu, 20 Pebruari 2010




Gerobak Sapi
Seorang warga menumpang gerobak sapi saat pulang dari kebun di Desa Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (20/2). Masyarakat di Desa tersebut masih menggunakan gerobak sapi untuk mengangkut berbagai hasil pertanian. Sabtu, 20 Pebruari 2010




Padi Ambruk
Sejumlah petani berusaha mendirikan kembali tanaman padi yang ambruk di Desa Dompo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (20/2). Akibat hujan deras yang disertai angin kencang merobohokan puluhan hektar tanaman padi yang buahnya mulai berisi di wilayah Kecamatan Kraton. : Sabtu, 20 Pebruari 2010


Minim RTH
Sejumlah bangunan tinggi terlihat samar tertutupi kabut yang disebabkan polusi di Surabaya, Jumat (19/2) pukul 10.00 wib. Minimnya ruang terbuka hijau (RTH) di Surabaya, membuat kualitas udara menurun. Adanya pepohonan di RTH, mampu mengisap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis.: Sabtu, 20 Pebruari 2010

Tuesday, February 16, 2010

Puluhan Truk Over Tonase Diamankan Razia Gabunga Dishub, TNI, Polri



MUARABULIAN - Razia yang dilakukan Dishub Prov Jambi bersama Polres dan TNI di jalan raya Kec Muara Tembesi, Kab Batanghari, berhasil mengamankan lebih dari 50 truk selama dua hari. Petugas sempat berang karena sopir truk batu bara kucing-kucingan begitu tahu ada razia.

Pantauan Koran ini Jumat lalu, kendati puluhan truk bertonase besar terjaring razia, namun tak satu pun diantaranya truk batu bara. Setelah ditelusuri, ternyata truk batu bara yang selama ini sering melintas itu memang kini tak ada yang berani melintas.

“Hari pertama ini banyak yang terjaring, walaupun truk batu bara tak satu pun yang berani melintas. Kemungkinan ada bocoran bahwa ada razia. Dari siapa, kita tidak tahu. Ini yang membuat kita kesal,” ungkap Drs H Erwan Malik, Kadis Perhubungan Prov Jambi, melalui Kepala UPTD Jembatan Timbang, Ibrahim SH, kepada Koran ini di lokasi razia.

Menurutnya, razia ini akan berlangsung selama sebulan penuh, bekerjasama dengan TNI dan Polres Batanghari. Tujuannya, memberantas truk over tonase. “Jika ditemukan, selain kita bongkar juga akan kita tilang sesuai aturan berlaku. Karena, jika melebihi tonase, banyak yang dirugikan,” ungkapnya.

Sementara itu, informasi lain yang menyebutkan, razia yang baru berlangsung dua hari itu memang sudah bocor. Pasalnya, banyak truk batu bara tak berani melintas di lokasi razia. Mereka memilih parkir di pinggir jalan dan rumah makan di seputaran Kec Muara Tembesi sambil menunggu razia selesai.

(fri)

Butuh Jalan Nasional Hubungkan Tebo-Riau Dinas PU Usulkan ke Pusat



MUARATEBO - Secara geografis Kab Tebo tergolong strategis. Sayangnya, saat ini akses jalan belum memadai untuk mempercepat laju pertumbuhan pembangunan dan ekonomi, terutama akses jalan ke beberapa daerah.

Sebagai penghubung ke Kab Darmasraya (Sumbar), Tebo memiliki jalan Padang Lamo. Namun, perawatan jalan ini kewenangan Pemprov Jambi. Sejak beberapa tahun lalu jalan ini kurang diperhatikan dan mengalami keruskaan sangat parah.

Perkembangan Kab Tebo diprediksi juga akan cepat maju, jika akses jalan ke Prov Riau terbuka. Saat ini, pemkab Tebo telah membangun jembatan melintasi Sungai Batanghari. Dari seberang sungai ini, jika dibangun jalan, dari Tebo ke perbatasan Riau hanya butuh waktu beberapa jam.

Kabid Bina Marga Dinas PU Tebo, Ir Arif Makruf, mengatakan rencana strategis itu telah diusulkan ke pemerintah pusat. Untuk membangun jalan ke Riau dibutuhkan dana dari pusat. “Jika jalan itu disetujui, maka akses Tebo ke luar semakin terbuka dan akan berdampak besar terhadap kemajuan Tebo. Karena, dengan adanya jalan itu, letak Kab Tebo bertambah strategis dan mobilisasi masyarakat akan meningkat,” kata Arif.

Dikatakannya, pembangunan diusulkan ke pemerintah pusat, karena dana APBD Tebo terbatas. APBD Tebo diprioritaskan untuk pengembangan sarana dan prasarana dalam kabupaten yang saat masih banyak yang harus dibangun.

“Jalan yang diusulkan itu yaitu dari jalan Simpang Kandang, Kec Tebo Tengah, hingga Kab Peranap, Prov Pekan Baru. Jalan yang diperkirakan sepanjang sekitar 100 Km itu akan membelah Kecmatan Serai Serumpun, yang merupakan kecamatan baru hasil pemekaran,” jelasnya.

Usulan pembangunan jalan ini juga untuk mendukung pembangunan jembatan Tebo II yang telah selesai pada 2009 lalu. Jalan nasional itu nantinya tak hanya menghubungkan Kota Muaratebo dan Peranap, tapi juga ke Kec Tebo Ulu dan sekitarnya. Juga membuka akses ke Kab Bungo dan Dharmasraya.

“Namun, ini masih bersifat usulan ke pemerintah pusat. Semoga disetujui. Kalau ini disetujui, maka dari sisi geografis, letak Tebo akan sangat strategis dan kemajuannya akan semakin cepat,” tandasnya.

(pay)

Saturday, February 13, 2010

Proyek Kualanamu Telan Nyawa

Jumat, 12 Februari 2010
BERINGIN

PROYEK pembangunan Bandara Kulanamu menelan korban, Rabu (10/2) sore lalu. Suhendri (19), buruh asal Tebingtinggi jatuh dari prancah saat memasang panel listrik di terminal penumpang. Kepalanya pecah. Dari mulut dan hidung juga mengeluarkan darah.

Menurut beberapa buruh, mereka sempat melarikan Suhendri ke RSU Deliserdang. Tapi setibanya di rumah sakit pemerintah itu, tim medis menyatakan pria malang itu sudah tidak bernyawa. Usai dibersihkan, jasad pria ini langsung dibawa ke rumah duka.

Anehnya, kecelakaan kerja itu tidak dilaporkan PT. Atap Teduh Lestari, Sub Kontraktor PP Hutama Karya, penyalur Suhendri. Buktinya, Kapolsek Beringin AKP Deny mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut.

Wisnu, Humas PT Angkasa Pura proyek pembangunan bandara kualanamu mengatakan, saat ini dirinya sedang di Jakarta. Meski begitu, dia telah menerima laporan tewasnya Suhendri.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, korban jatuh dari perancah setinggi 5 meter.

Terkait tidak dilaporkannya kejadian itu ke polisi, Wisnu mengungkapkan pihaknya tidak berniat menutupinya, hanya saja kesibukan membuat mereka lupa melapor ke Polsek Beringin, Deliserdang. (pasta)

Dokter Cantik Digrebek Mesum Sama Supir Truk





Dua hari dr. Frimaneti (38) menyimpan seorang supir truk di tempat prakteknya di Jl. Kartini No. 4 Pangkalan Brandan Barat, Langkat. Mereka bermesum ria. Tapi kemarin (11/1), ratusan warga menggrebek, bahkan nyaris mengarak ibu dokter ini ke kantor polisi.

Begini cerita sejumlah warga. Dr. Hj. Frimaneti bermesum ria dengan seorang lelaki bernama Alamsyah (45), warga Tembung, Medan. Alamsyah adalah sopir truk pengangkut air mineral. Nah, Rabu (10/1) sore lalu sekira pukul 16.00 WIB, Alamsyah mengantar air mineral ke tempat praktek dokter yang belum menikah itu. Setelah itu Alamsyah tak keluar-keluar lagi.

Warga yang selama ini sudah menaruh curiga, lalu menginvestigasi. Saat itu, mobil tangki pengangkut air mineral yang sering dibawa Alamsyah masih parkir di depan praktek dokter Frimaneti.

“Warga Link. IV Kel. Brandan Barat yang menaruh curiga lalu melakukan pengintaian hingga pukul 03.00 Wib dini hari,” kata Yanti (38), warga setempat kepada POSMETRO MEDAN di lokasi praktek dokter Frimaneti.

Disusunlah rencana. Besok paginya, atau Kamis (11/1) sekira pukul 7, seratusan warga Link IV Kelurahan Brandan Barat berkumpul dan sepakat mengrebek tempat praktek sekaligus rumah ibu dokter berhidung mancung, berkulit putih, dan berambut lurus semampai ini.

Tapi sebelum mengrebek, kepling setempat sudah menghubungi Lurah Brandan Barat, Musa Pasaribu. Akibatnya penggerebekan tak berlangsung lancar karena polisi dari Mapolsek Pangkalanbrandan sudah turun ke tempat praktek Dr Frimaneti yang berstatus PNS bertugas di salah satu Puskemas di Pangkalan Brandan.

Begitupun, ratusan warga yang sudah geram atas aksi mesum si ibu dokter terus berusaha menggerebek rumah bertingkat itu. Mereka ingin bertemu langsung dengan ibu dokter yang kata warga kurang bersahabat. Nama ibu dokter dipanggil warga agar keluar. Pintu rumah pun digedor-gedor. Tapi dokter Frimaneti tetap bertahan di dalam rumah bersama Alamsyah. “Jangan sembunyikan sopir truk itu dalam rumah! Ayo keluar!” jerit warga.

Melihat situasi makin tak kondusif, polisi lalu mengambil inisiatif dengan menemui dokter Frimaneti agar bersedia membuka pintu, sehingga warga dapat dibubarkan. Tapi ibu dokter tak bersedia. Warga pun makin kesal.

“Buka pintu ini dokter murahan. Kau buat sial di kampung ini saja!” pungkas sejumlah warga yang berkerumun di depan rumah dokter Frimaneti. Aksi warga sempat membuat jalan macet sepanjang 50 meter.

Emosi warga pun semakin memuncak. Sejumlah orang lalu berusaha mendobrak pintu. Tapi polisi langsung sigap mencegah tindakan itu. Nah ketika itulah Alamsyah si sopir truk melompat dari pintu belakang untuk menghindari tangkapan warga.

“Si Alamsyah itu kabur lewat pintu belakang. Dia diselamatkan tetangga si ibu dokter yang memang berteman karib,” kata Wati. “Kalau sempat tertangkap warga, si Alamsyah itu pasti babak belur,” sambungnya lagi sembari mengungkapkan, perbuatan mesum dokter Frimaneti sudah dicium warga sejak setahun lalu. “Tapi tak ada bukti,” timpalnya.

Bagaimana nasib dokter Frimaneti? Saat warga sudah berkerumun di depan rumahnya, beberapa polisi mengevakuasinya dari dalam rumah ke Mapolsek Pangkalan Brandan. Dan saat menuju mobil pribadi Kapolsek Pangkalan Brandan, yakni Suzuki Escudo B 1961 BS, wajah dokter Frimaneti tampak ditutupi sarung. Warga pun menjerit sambil menyumpah serapah.

“Dokter murahan! Dokter sialan! Kau mengotori kampung ini,” teriak warga kepada dokter Frimaneti yang terus mendapat pengawalan polisi. Berutung dokter Frimaneti tak mendapat perlakukan fisik karena langsung dilarikan ke Mapolsek Pangkalan Brandan.

Kapolsek Pangkalan Brandan AKP Muhammad Sofian S ketika dikonfirmasi mengatakan, warga berang atas sikap dr. Frimaneti yang telah menyembunyikan pria yang bukan mukhrimnya dan diduga telah berbuat zinah.

“Kita sudah memeriksa keduanya yang diduga berselingkuh, yaitu dokter Frimaneti dan Alamsyah. Apabila terbukti kita akan mengambl tindakan,” janji AKP Sofian. (jok)

Miliaran Harta Warisan Olo Panggabean Dicuri






Jumat, 12 Februari 2010
Sedikitnya, 27 cincin emas dan berlian, sejumlah BPKP mobil, truk roda 6 dan 8, sertifikat tanah, rumah, deposito di Bank Mega, Mandiri, BCA, juga 5 unit jam tangan Rolex masing-masing seharga Rp 1 miliar hingga 3 miliar, serta ribuan lembar mata uang dolar Amerika dan Euro, mendadak raib dari 2 brankas baja di kamar pribadi sang (alm) Ketua Besar di Gedung Putih, Jl. Sekip, Medan. Pelaku dicurigai dari keluarga sendiri.

Demikian kata Hara Ito Panggabean SE pada POSMETRO MEDAN, kemarin. Anak abang dari (alm) Olo Panggabean ini mengaku, peristiwa ini telah dilapor pihak keluarganya ke Mapolsekta Medan Baru pada Senin (8/2) lalu, tapi ‘ditolak’ polisi dengan dalih pengaduan belum disertai kelengkapan surat dari ahli waris.

Selama ini, beber Hara Ito, harta warisan bernilai ratusan miliar rupiah itu disimpan di 2 brankas yang berada di kamar lantai 2 Gedung Putih. Brankas baja itu masing-masing berukuran sekira 1 x 05 meter.

“Saya dan kami dari keluarga besar (alm) Bapak Uda Olo Panggabean, mendiang Ketua Besar IPK (Ikatan Pemuda Karya) menyatakan, harta peninggalan almarhum hilang dan pelakunya keluarga sendiri. Kasus ini sudah kami sampaikan pada Polsek Medan Baru, namun ditolak oleh mereka. Pun begitu, dalam waktu dekat nanti, kami akan laporkan kembali kasus ini kepada pihak berwajib,” tegas Hara Ito, didampingi Wakil Ketua DPD IPK Sumut Drs Didhin Maidin, dan 2 pengacara keluarga besar (alm) Olo Panggabean, yakni Syafaruddin SH dan Irwansyah Gultom SH.

Hingga kemarin, menurut Hara Ito, dugaan sementara soal pelaku pencurian mengarah pada seseorang dari anggota keluarga besar (alm) Olo Panggabean, yakni berinisial MSP. Itu karena kunci 2 brankas dan kamar pribadi (alm) Olo dipegang oleh MSP. “Kalau dia (MSP -red) merasa gerah, datang dong kemari. Kita bicarakan bagus-bagus, karena kesepakatan lalu, saat almarhum meninggal, brankas itu tidak bisa dibuka sebelum ada kesepakatan,” jelas Hara Ito.

Dugaan MSP sang maling juga diperkuat pengakuan Carles Panggabean. Anak abang dari (alm) Olo Panggabean ini mengaku pernah melihat MSP masuk ke dalam kamar itu dengan membawa tas. Itu terjadi pada Senin 8 Februari 2010. Tak lama di kamar pribadi (alm) Olo, “Dia (MSP -red) turun dengan membawa tas dan terburu-buru,” kata Charles. Saat itu Carles tak punya pikiran negatif. Itu karena MSP adalah Bapak Udanya (adik bapak) sendiri.

Bukti lain, sambung Hara Ito, keluarga menemukan truk milik (alm) Olo Panggabean sudah terjual. Begitu juga dengan aset tanah di Belawan serta beberapa mesin genset. “Surat tanah dan BPKB mobil itu ada di dalam brankas. Mana mungkin orang mau beli mobil dan tanah tanpa disertai surat-surat. Yang jelas, kuat dugaan pelakunya MSP, keluarga sendiri,” tandas Hara Ito.


Warisan Dalam Brankas Belum Dibagi

(alm) Pendiri dan Ketua Besar IPK itu memiliki 10 saudara, 8 laki-laki, 2 perempuan. (alm) Olo adalah anak ke-9. “Almarhum (Olo) itu Bapak Uda saya. Orang tua saya merupakan anak laki-laki tertua, namanya AM Panggabean dan saat ini aku dipercayakan mengusut kasus ini. Siapa pelakunya? Kita tunggu perkembangan selanjutnya,” kata Hara Ito, lalu bercerita.

Saat Olo Panggabean meninggal dunia pada 30 April 2009 lalu setelah dikebumikan pada 3 Mei 2009, seluruh keluarga besar almarhum menyaksikan isi dari 2 brankas di kamar pribadi tokoh terkenal dari Sumut itu. Sesuai kesepakatan keluarga besar, MSP lalu dipercayakan untuk memegang kunci kamar dan 2 brankas itu.

Catatannya, brankas-brankas itu tak boleh dibuka sebelum atau tanpa persetujuan 9 ahli waris (alm) Olo Panggabean. Begitu juga dengan sejumlah harta warisan bernilai ratusan miliar, tetap belum dapat dibagi-bagi. Itu karena, jelas Hara Ito, pihak keluarga besar masih akan mendata ulang semua aset peninggalan (alm) Olo Panggabean, seperti gedung dan toko-toko. “Jika ada yang mengontrak salah satu gedung juga akan dipertanyakan, kepada siapa ia membayar (sewanya),” kata Hara Ito.

Sementara, sebagai pengacara keluarga besar (alm) Olo Panggabean, Syafaruddin SH dan Irwansyah Gultom SH kemarin mengaku akan berupaya menyelesaikan masalah ini hingga ke pengadilan.

“Sejak awal kami sudah tahu akar masalah. Intinya, mereka (keluarga besar) berjumlah 10 orang. Yang hidup, kini tinggal dua orang lagi. Meski begitu, masing-masing keluarga memiliki ahli waris. Artinya, meski tinggal 2 lagi yang hidup, kedelapan orang lainnya juga harus turut, terkecuali almarhum (Olo) memiliki anak,” kata Syafaruddin.

Soal tuntutan hukum jika dugaan MSP sebagai maling benar, menurut Syafaruddin itu jelas melanggar pidana. “Ia masuk dan membuka lantai 2 dengan cara paksa. Begitu juga brankas, dibuka tanpa sepengetahuan 8 ahli waris lainnya. Ini jelas perbuatan melanggar hukum,” tandasnya. (mula

2010, PNPM MANDIRI KEMENTERIAN PU SASAR 17.420 DESA

Jumat, 12 Februari 2010


Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Kementerian Pekerjaan Umum yang dinakhodai oleh Ditjen Cipta Karya menyasar 17.420 desa pada tahun ini. Program ini terdiri dari Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di 8.200 desa, Program Pembangunan Infrastruktur Perkotaan (PPIP) di 3.900 desa, Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) di 4.000 desa dan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di 1320 desa.

Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Budi Yuwono mengatakan, pada pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II ini perhatian pemerintah sangat besar terhadap program-program pemberdayaan. Kedepannya program –program seperti ini akan terus ditingkatkan tiap tahunnya. Disamping itu, anggaran untuk program ini juga cukup besar.

“Beberapa waktu lalu, Wakil Presiden Budiono baru saja menyerahkan bantuan langsung sebesar Rp 1,2 triliun untuk program pemberdayaan. Di Ditjen Cipta Karya sendiri pada tahun 2010 sebanyak 40 persen dari total anggaran yang ada atau sekitar Rp 4 triliun dialokasikan untuk program pemberdayaan. Sorotan pemerintah maupun publik terhadap program ini cukup besar , sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,” katanya disela-sela acara Konsolidasi RIS PNPM di Jakarta, (9/2).

Budi Yuwono kembali menekankan, inti dari program pemberdaayaan adalah untuk memberdayakan masyarakat agar aktif. Masyarakat bukan lagi menjadi obyek tetapi subyek dalam pembangunan. Semua dana diserahkan dan dikelola oleh masyarakat.

Ia juga mencontohkan tentang program serupa yang ada di negara tetangga Thailand. Menurutnya, di Thailand dana yang dikelola tidak hanya oleh masyarakat tapi juga dikelola bersama oleh pihak swasta.

“Auditor pun berasal dari auditor profesional, sehingga prosesnya berjalan transparan dan akuntabel. Konsep mereka sudah lebih maju daripada kita,” tambahnya.

Direktur Bina Program Ditjen Cipta Karya Danny Sutjiono mengatakan, perbedaan program pemberdayaan tahun 2010 ini dengan tahun lalu adalah setiap desa sasaran harus membuat Program Jangka Menengah (PJM).

“PJM penting, karena program tidak hanya berjalan satu tahun tapi paling tidak tiga tahun. Untuk itu setiap desa sasaran harus menyusun PJM agar program yang berjalan berkelanjutan, tidak berhenti di jalan. Sementara untuk penanggung jawab struktural serta fasilitatornya masih sama dengan tahun sebelumnya,” katanya.(dvt)

ALOKASI DANA SUMBER DAYA AIR TAHUN 2010 Rp8,9 TRILIUN

Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Mochammad Amron, Kamis (11/2) melakukan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Dalam RDP tersebut dibahas pencapaian program sumber daya air tahun 2005 - 2009 serta pemaparan program tahun 2010. Dalam RDP juga mendengar penjelasan dari Direktur Perum Jasa Tirta I Tjuk Waluyo yang membawahi pengelolaan daerah aliran sungai Brantas, Bengawan Solo dan Direktur Perum Jasa Tirta II Djendam Gurusinga yang membawahi pengelolaan DAS Citarum, Waduk Djuanda Jatiluhur, Cirata dan Saguling.



Dalam pemaparannya, Plt Dirjen SDA Moch. Amron menyampaikan beberapa capaian program 2005 – 2009 yang telah dilakukan oleh Kementerian PU. Diantaranya rehabilitasi jaringan irigasi yang dilakukan Kementerian PU berhasil melebihi target yakni dengan area seluas 1,9 juta hektare dari target Renstra PU 1,5 juta ha. Rehabilitasi jaringan rawa dari taget 800 ribu ha menjadi 923 ribu ha, pembangunan 11 waduk, 443 embung dan pembangunan sarana pengendali banjir untuk mengamankan kawasan seluas 10 ribu ha. Kementerian PU juga melakukan pembinaan dan peningkatan peran serta pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengelolaan prasarana sumber daya air misalanya melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), GNKPA dan pemberdayaan masyarakat sekitar waduk.



Sementara itu untuk tahun 2010, Kementerian PU mengalokasikan dana sebesar Rp8,9 triliun dibidang SDA. Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional mendapat porsi terbesar dengan alokasi dana sebesar Rp3,2 triliun. Pengembangan, pengelolaan dan konservasi sungai, danau, dan sumber air lainnya sebesar Rp2,1 triliun, pengendalian banjir dan pengaman pantai sebesar Rp1,9 triliun, penyediaan dan pengelolaan air baku sebesar Rp1,09 trilun dan sisanya untuk meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik.



Beberapa sasaran di tahun 2010 adalah pembangunan 7 buah waduk, 45 embung, peningkatan 117 ribu ha jaringan irigasi, operasi dan pemeliharaan pada 2,3 juta jaringan irigasi, 83 ribu jaringan rawa, pembangunan pengendali banjir sepanjang 205 km dan pembangunan pengaman pantai sepanjang 32,6 Km. Alokasi yang diperoleh tahun 2010, lebih kecil dibandingkan dengan usulan skenario pendanaan moderat yang disampaikan Kementerian PU untuk pemantapan infrastruktur SDA yakni sebesar Rp17 triliun.

(gt)

Tuesday, February 9, 2010

Pengorekan Drainase Dituding Hamburkan Uang Rakyat Program Pendidikan di Medan ‘Rapot Merah’



Selasa 09/02/2010
MEDAN | - Program pendidikan gratis di Kota Medan ternyata mendapat ‘Rapot Merah’. Dilema ini sangat menyentuh terhadap masyarakat khususnya masyarakat lemah di pinggiran Kota Medan yang putus sekolah akibat mahalnya biaya pendidikan.



Demikian “petikan” statemen Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Medan, di Kantor Walikota Medan, Selasa (09/02).

PMII juga memberikan, ‘rapot merah’ untuk program pendidikan di Medan perlu perhatian serius dari Pemerintah Kota (Pemko) Medan untuk segera mengambil sikap dalam menyelamatkan anak bangsa.

“Kinerja Pj Walikota Medan Drs H Rahudman Harahap MM dinilai tidak profesional. Kenapa semakin bertaburnya anak jalanan dan pengemis di Kota Medan, itu dikarenakan putus sekolah yang kurang perhatian dari Pemko Medan,” kata mereka.

Selain itu, mereka juga menyoroti peran DPRD Medan yang dianggap kurang berfungsi dalam mengawasi secara profesional Pemko Medan sesuai dengan amanah rakyat dalam melaksanakan pembangunan yang berujung kepada kesejahteraan Kota Medan.

Kemudian, PMII juga menyoroti tentang kinerja Dinas Bina Marga Kota Medan dalam melaksanakan program pengorekan drainase dan perbaikan jalan berlobang dinilai hanya menghambur-hamburkan uang rakyat karena tidak tepat sasaran, dan pelaksanaan pekerjaan dilapangan terutama dalam pengorekan drainase yang amburadul.

Untuk itu, PC PMII Kota Medan meminta Pj Walikota Medan agar mematuhi surat edaran Mendagri No:135/439/SJ-tanggal 27 Pebruari 2007 tentang Pejabat Walikota tidak diperbolehkan mengundurkan diri selama menjabat sebagai Pejabat Bupati/Walikota sampai terpilihnya Bupati/Walikota definitif.

Petani Terancam Gagal Panen

Selasa, 9 Februari 2010
LANGKAT-Kemarau panjang yang melanda sebagian wilayah Kabupaten Langkat mengakibatkan ratusan hektar sawah mengalami kekeringan dan terancam gagal panen, terutama di Kecamatan Secanggang.

Pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Karang Gading, Kecamatan Secanggang, Tumin, kepada wartawan, Senin (8/2), mengungkapkan, tanaman padi yang terancam kekeringan itu tersebar di tiga desa, yakni Desa Karang Gading, Desa Secanggang dan Desa Selotong. Di tiga desa itu, diperkirakan ada 120 hektar lahan padi akan mengalami kekeringan.

Tumin menambahkan, ratusan hektar arela persawahan itu merupakan sawah tadah hujan. Hingga saat ini pemerintah tidak pernah membuat saluran irigasi, sehingga pada musim kemarau sawah-sawah mereka retak.

“Sudah 25 hari belakangan sawah tidak mendapat curah hujan. Persawahan menjadi gersang dan padi terancam gagal panen. Jika pun ada hujan, petani hanya bisa memanen padi mereka hanya 30 hingga 40 persen,” ujar Tumin.

Tumin mengatakan, kondisi tanaman padi petani ini sudah mulai berbulir, sehingga peluang panen sangat kecil. Tumin dan petani lainnya berharap, ke depan pemerintah harus mulai berpikir membangun irigasi di kawasan persawahan mereka. “Kita minta pemerintah membangun irigasi karena sejak berdirinya Kecamatan Secanggang, belum pernah ada irigasi di kawasan ini,” katanya.

Erlanto selaku Kepala Cabang Dinas (KCD) Pertanian Kecamatan Secanggang ketika dihubungi belum mengetahui persis kondisi persawahan warga yang terancam gagal panen itu. “Saya belum mengetahuinya, coba saya cek dulu melalui PPL,” katanya. (ndi/smg)

6 Polisi Pukul dan Injak Mahasiswa di Ruang Kuliah

Selasa, 9 Februari 2010
Andi Aisyah -

MAKASSAR - Enam orang polisi dari Dalmas Samapta Polda Sulsel saat ini ditahan di Mapolda Sulsel di Jalan Perintis Kemerdekaan Km 20 Makassar.

Mereka ditahan karena melakukan penyerangan ke area perkuliahan kampus Politeknik Kesehatan Fisioterapi Makassar yang beralamat di Jalan Paccerakkang Makassar.
Keenam orang ini ditangkap oleh Polsekta Biring Kanayya, siang tadi, Selasa (9/2/2010).

Penyerangan yang dipimpin Bripda Faisal diduga dilakukan untuk membalas dendam terhadap seorang mahasiswa bernama Suwandi. Faisal bersama lima rekannya Widodo, Ardi,Muhamad Alam, Samaludin dan Wiliam menyerang Suwandi setelah Faisal menerima pesan singkat dari adik kandungnya Fredi yang sebelumnya berselisih paham dengan Suwandi dan sempat terlibat adu jotos.

Setelah peristiwa itu, Fredi mengirimkan SMS ke Faisal. Mendapat SMS ini Bripda Faisal bergerak dari Polda ke kampus yang berjarak sekitar tiga kilometer. Tiba di dalam kampus, Faisal langsung masuk dan menyerang Suwandi dengan pukulan dan injakan, sehingga Suwandi mengalami luka di bibir, dan darah mengucur di sekitar pelipisnya.

Menurut salah saksi mata, habis menghajar Suwandi, Faisal sempat berusaha menghilangkan jejak dengan menghapus darah di sepatunya.

Selain Suwandi, empat temannya ikut terluka karena terkena pukulan. Di antaranya Nunung yang mengalami memar di bagian punggung, Farid, mengalami luka memar di bagian pipi, Andi Syaiful Hakim memar di wajah. Sementara Rahmat mengaku dicekik oleh teman-teman Faisal.

Setelah melakukan penyerangan, Faisal sempat akan melarikan diri namun pihak kampus mengamankan lokasi sehingga mereka tidak bisa melarikan diri. Pihak kampus lalu menghubungi Polsekta Biring Kanayyang untuk menjemput mereka.

Ketua Program Diplomat III Poltekes Fisioterapi Makassar Abdul Latif meminta agar pelaku diproses dan dihukum sesuai hukum yang berlaku. Latif mengaku tidak tahu pokok masalah yang berujung penganiayaan itu.

Menanggapi kejadian itu Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Polisi Heri Subiansauri mengaku sangat kecewa atas tindakan para oknum polisi itu.

“Tidak ada yang kebal hukum, walaupun dia seorang polisi, ini akan kami proses lebih lanjut tapi azas praduga tak bersalah tetap dikedepankan,” ungkapnya.


(fit)

BKSDA Riau Segera Razia Toko Penjual Organ Harimau




Organ Harimau (Foto: Banda Haruddin Tandjung/okezone)

PEKANBARU - Belasan toko di Pekanbaru, Riau, terindikasi memperdagangkan organ Harimau Sumatera. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengaku akan melakukan tindakan tegas terhadap perdagangan ilegal itu.

“Kita akan melakukan penyelidikan tentang adanya perdagangan harimau, jika nanti terbukti, mereka akan kita proses secara hukum,” kata Kepala Teknis BKSDA Riau Sahimen kepada okezone di Pekanbaru, Selasa (9/2/2010).

Pihaknya sudah menerima laporan tentang perdagangan bagian tubuh harimau dari WWF mengaku geram dan segera menerjunkan intelijen dan jika tempatnya sudah dipastikan, pihaknya akan melakukan razia.

Karena menurutnya harimau adalah satwa yang dilindungi oleh UU No 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem dengan pidana kurungan 4 tahun penjara. “Harimau adalah satwa yang dilindungi, kita minta kepada masyarakat untuk tidak melakukan perburuan harimau lagi,” pintanya.

Sementara itu, WWF menyebutkan ada 11 toko di Pekanbaru memperdagangkan harimau. Kulit harimau misalnya dijual dengan harga sekira Rp25 juta sedangkan kemaluan harimau jantan dihargai Rp10 juta, taring dihargai Rp1,5 juta dan organ lainnya. Selain itu para pemburu juga melakukan penjualan organ harimau hingga ke luar Riau seperti Sumatera Barat dan Jambi.(mbs)

Kerap Dilintasi Kontainer

Selasa, 9 Februari 2010
TANJUNG MORAWA-Baru selesai diaspal petugas PU Deliserdang, namun jalanan umum di Dusun V, Gang Rahayu, Desa Tanjung Baru, Kecamatan Tanjung Morawa, sudah rusak. Pasalnya, jalan tersebut kerap dilintasi truk kontainer yang bermuatan botol-botol pabrik di kawasan tersebut.

Kondisi itu mengakibatkan warga kesal dan memblokir jalan yang menuju lokasi pabrik milik PT Sentral Botol. Protes warga itu pun sontak membuat pihak PT Sentral Botol kalang kabut. Pasalnya, puluhan truk kontainer yang mengangkut bahan baku serta bahan jadi dari perusahaan itu terhalang. Jelaslah, aksi warga itu dianggap telah mengganggu operasional perusahaan pembuat botol tersebut.

Kepada wartawan, beberapa warga yang tengah menggelar aksi itu diantaranya, Atik (48) dan Maisarah (34) menyatakan, mereka warga sekitar sudah tak tahan dengan banyaknya truk keluar masuk melalui jalan lingkungan mereka itu. Selain membuat jalan cepat rusak, puluhan truk kontainer yang kerab melintas disana juga tak pernah pelan hingga menimbulkan suara ribut dan debu.

Sebelum melakukan aksinya warga juga sempat menyampaikan keluhan mereka kepada kades setempat. Namun kades setempat acuh tak acuh. Alhasil, warga pun mengambil tindakan sendiri dengan memblokir jalan pabrik.(Pasta)

Guru Fitnes Hotel Emerald Join Raja Ekstasi Tj. Balai



Ir Raja Indra Jaya Pane dan Muhammad RafiiSelasa, 9 Februari 2010


MEDAN-Tiga anggota sindikat pengedar ekstasi dijebak polisi di kamar 411 Hotel Sukma, Jl. SM Raja, Medan, Jumat (5/2) sore pukul 18.00 Wib. Disita 792 butir ekstasi berlogo XP asal Malaysia. Seorang tersangka guru fitnes di Hotel Emerald.

Ketiga tersangka adalah Ir Raja Indra Jaya Pane (42) warga Jl Pusara Ujung Kota Tanjungbalai, Muhammad Rafii (26) alias Fii warga Jl Sari Sitorus II Kota Tanjungbalai, dan Rosni Soniful (42) alias Aping, guru fitness dan karyawan di tempat hiburan The Song. Ketiganya ditangkap Dit Narkoba Poldasu pada sebuah penyamaran.

Hampir sebulan petugas mengikuti gerak-gerik sindikat ini hingga kemudian berhasil mendapat nomor handphone Ir Raja Indra. Polisi juga sudah mengenali ciri-ciri Raja Indra yang berkulit putih dan berambut gondrong, plus menjabat Direktur LSM Tropical Indonesia di Tanjung Balai.

Berawal dari nomor handphone itu, polisi mencoba berkomunikasi dengan Raja Indra yang lahir dari ibu bersuku Tionghoa itu. Tapi komunikasi putus dan polisi sempat kehilangan jejak.

Polisi mencoba lagi berkomunikasi dan berhasil. Lalu, dengan berpura-pura jadi pembeli, petugas mengajak Raja Indra bertransaksi dengan memesan ratusan butir. Raja Indra terpancing dan menjanjikan akan berangkat dari Tanjungbalai ke Medan Sabtu (6/2).

Ternyata Jumat (5/2) Raja Indra sudah berada di Medan dan check-in di tiga kamar di Hotel Sukma. Lalu Raja Indra menghubungi petugas yang menyamar agar datang ke Hotel Sukma dan mengatakan transaksi dipercepat. Ditelpon begitu, 6 petugas turun ke hotel. Namun agar tidak mencurigakan, 3 petugas berjaga di sekitar hotel dan dua petugas mengikuti rekan mereka yang menyamar.

Saat seorang petugas mengetuk pintu, dua petugas menjauh dari pintu kamar. Begitu pintu dibuka, petugas yang mengetuk pintu langsung mengacungkan senjata dan memerintahkan orang yang ada di dalam kamar untuk tidak bergerak.

Ada tiga orang di kamar itu; Ir Raja Indra, Fii, dan Apin. Dan saat kamar digeledah, ditemukan 8 bungkus berisi pil ekstasi berwarna kuning kemerah-merahan dengan jumlah keseluruhan 792 butir ekstasi.

Dari Malaysia Dijual Rp130 Ribu per Butir

Dari hasil laboratorium, petugas menyimpulkan ekstasi itu didatangkan dari Malaysia. “Saat kita test, MDMA yang banyak bukan sabu-sabunya. Yang seperti ini biasa didapat dari Malaysia,” terang Kasat II Dit Narkoba Poldasu, AKBP Andi Rian.

Diterangkan Andi Rian lagi, ketiga pelaku punya jam terbang besar di dunia narkoba. Sindikat ini, kata Andi Rian, berani memberikan dan mengantarkan contoh ekstasi hingga puluhan butir kepada pelanggan. Setiap butir dijual Rp130 ribu.

“Temuan kita di lapangan, ekstasi berlogo XP ini dijual Rp 210 ribu hingga Rp 250 ribu,” terang Andi Rian.

Andi Rian juga menerangkan kalau Aping guru fitness di Emerald dan karyawan di tempat hiburan The Song. Sedangkan Muhammad Rafii adalah kaki tangan Raja. Namun Raja yang ditemui di Markas Dit Narkoba Poldasu mengaku hanya kurir. Setiap butirnya, Raja dapat Rp 10 ribu.

“Cobalah abang berpikir, sudah tak ada lagi cara untuk bisa menghidupi keluarga. Ini hanya keterpaksaan,” ungkap Raja. Namun, saat ditanyai banyak beredar ekstasi XP di tempat hiburan malam yang diduga memang melibatkan dirinya, Raja enggan berkomentar. “Apa harus semua saya jawab,” ujarnya.
3 Pria Gagal Rayakan Imlek

Di tempat terpisah, Sabtu malam (6/2), Dit Narkoba Poldasu juga berhasil menangkap tiga pelaku sindikat pengedar ekstasi yaitu Jeri (29) alias Alung warga Jl Pasar I, Sunggal, Kevin (34) alias Ationg warga Jl Sutrisno, Medan, dan Weilung (26) alias We warga Jl Pancing. Barang bukti yang disita 40 butir ekstasi, 35 butir di antaranya berlogo XP dan 5 butir berlogo jangkar.

Kasat II Dit Narkoba Poldasu AKBP Marsidi mengatakan, ketiganya ditangkap setelah petugas berpura-pura ingin bertransaksi dengan Jeri alias Alung. Tak seperti bandar narkoba lainnya, Alung memilih bertransaksi di luar hotel.

Nah, polisi pun berpura-pura membeli ekstasi dari Alung. Alung mengarahkan SPBU Putri Hijau tepatnya di depan Hotel Emerald sebagai tempat traksaksi. Pria Tionghoa ini pun dicokok dengan barang bukti 10 butir ekstasi. Akibat ketangkap, Alung gagal merayakan Imlek dengan keluarganya.

Saat diinterogasi, Alung mengaku mendapatkan ekstasi dari Kevin alias Ationg. Seperti cara kerja pertama, petugas menyamar sebagai pembeli dan berhasil menangkap Ationg di sekitar Jalan Skip. Ationg dibonceng naik sepedamotor oleh temannya, Weilung. Dari Ationg diamankan 17 butir ekstasi.(Rusdi)

Protes Hutan Terus Dirusak, Patih Laman Berniat Kembalikan Kalpataru



Patih Laman berniat mengembalikan penghargaan Kalpataru yang diterimanya 2003 silam. Langkah ini sebagai protes atas terus berlanjutnya perusakkan hutan
PEKANBARU- Mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Megawati Soekarno Putri pada 2003 silam ternyata tak membantu mewujudkan mimpi Patih Laman, tetua Suku Talang Mamak yang mendiami kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) di Kabupaten Indagiri Hulu (Inhu). Baginya lebih baik tak dapat Kalpataru, asal hutan yang menjadi penompang hidup sukunya tetap lestari. Sayangnya, fakta berwujud lain. Aksi perusakkan hutan terus berlanjut dan kian parah. Kondisi itulah yang mendorong Patin Laman ingin mengembalikan Kalpataru kepada pemerintah pusat.

Patih Laman tak bergurau dengan niatnya itu. Kakek berusia 89 tahun tersebut serius. Bahkan tadi, Jumat (5/2/10) ia rela menempuh perjalanan jauh, sekitar 250 kilometer dari kampung halamannya yang menjelang punah ranah untuk ke Kantor Gubernur Riau. Tujuannya satu: Mengembalikan piala Kalpataru kepada pemerintah pusat melalui Gubernur Riau M Rusli Zainal.

Namun sayangnya, niatnya tak kesampaian, gubernur yang dicarinya sedang tak ditempat. "Saya mau ketemu Pak Gubernur, untuk mengembalikan piala Kalpataru kepada pemerintah pusat. Penghargaan yang pernah saya dapatkan itu, tidak ada gunanya. Pemerintah tidak mau menjaga hutan alam kami. Hutan alam kami terus dijarah pendatang, padahal kaum kami hidup dari kemurahan hutan itu sendiri," kata Patih Laman saat mencurahkan isi hatinya kepada sejumlah wartawan di Pekanbaru, Jumat (5/2/10).

Dikatakan Patih Laman, Semula ia berharap dengan mendapatkan penghargaan Kalpataru dari presiden, hutan yang menjadi sumber nafkah sukunya bisa terlindungi, namun kenyataan berkata lain. Aksi perusakan hutan berlangsung terus dan kian parah.

"Hutan kami terus menerus dijarah, pemerintah daerah dan pusat tidak mau tahu soal nasib Talang Mamak. Kami ini hanya bisa hidup dari hutan, tapi justru jantung kehidupan kami itu sendiri yang terus menerus dibabat habis oleh pendatang. Pemerintah tidak mau perduli. Makanya saya akan kembalikan piala Kalpataru ini," keluh Patih Laman.

Disaat usianya sudah rembang petang, Patih Laman mengaku kini tidak sanggup lagi membendung laju kerusakan hutan di kawasan penyanggah TNBT. Dulu, di era tahun 90-an, Patih ini gagah berani menghadang semua pihak yang akan merambah hutan alam mereka. Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan hutan. Walau kadang yang dihadapi di lapangan harus berhadap dengan aparat.

Sikap Patih Laman yang konsisten ini pula, sebelum Kalpataru dia terima, terlebih dahulu dunia Internasional memberikan penghargaan tertinggi bidang lingkungan. Dia menerima Award dari WWF Internasional pada tahun 1999 di Kinibalu, Malaysia. Saat ke Malaysia itulah, Patih Laman mengaku, seumur hidupnya baru memiliki KTP karena harus mengusur paspor.

Kini gaek itu sudah patah arang. Baginya kerusakan hutan di kawasan TNBT merupakan ancaman kematian untuk suku Talang Mamak. Kalpataru bukanlah bagian dari akhir perjuangannya untuk menyelamatkan hutan. Dia terus menerus memperhatikan nasib hutan alam yang kini sudah disulap menjadi kebun kelapa sawit milik pengusaha ataupun pejabat pemerintah daerah sendiri.

Hari ini, Patin Laman gagal menyerahkan Kalpataru kepada gubernur untuk dikembalikan ke pemerintah pusat. Ia kemudian pulang dan berencana pada Senin (8/2/10) akan kembali ke Kantor Gubernur Riau dengan tujuan sama: mengembalikan Piala Kalpataru sebagai protes atas hutannya yang terus dirusak.***(mad)

Setahun, Hanya 15 Proyek di Bengkalis Miliki Amdal

Sabtu, 6 Pebruari 2010
Bukan hanya pihak swasta yang abai terhadap Amdal, kalangan pemerintah juga demikian. Terbukti dalam setahun, hanya 15 proyek di Bengkalis kantongi analisa dampak lingkungan amdal
BENGKALIS- Badan Lingkungan Hidup Bengkalis setidaknya melaporkan ada 15 kegiatan proyek miliki dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan hanya 45 kegiatan proyek memiliki dokumen Upaya Pengolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL/UPL) sejak tahun 2009 lalu. Sedangkan untuk kegiatan sedang berjalan pelaku usaha/ swasta maupun pemerintah senditi belum ada yang melengkapi dokumen pengelolaan dan pemantauan lingkungan (DPPL) ke pihak Badan Lingkungan Hidup Bengkalis. Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No 27 tahun 1999 tentang AMDAL, pelaku usaha/ swasta baik pemerintah harus mentaati ketentuan yang ada, dan yang tertuang dalam Permen Lingkungan Hidup No 08 tahun 2006 tentang pedoman penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).

”Hanya 15 kegiatan miliki dokumen Amdal di BLH, kemudian 45 kegiatan dokumen UPL/ UKL sampai sekarang, padahal para pelaku usaha/ swasta dan pemerintah ini, wajib penuhi aturan yang sudah ada tentang lingkungan,” ungkap Kepala Badan Lingkungan Hidup Bengkalis H. TS. Ilyas kepada Riauterkini Sabtu (6/2/10) di Bengkalis.

Dikatakan Ilyas, para pelaku usaha/ swasta atau stockholder yang ada di Bengkalis sangat kurang kesadarannya terhadap lingkungan. Hanya sedikit saja pelaku usaha yang benar-benar mentaati aturan lingkungan itu. Bahkan, para pelaku usaha/ swasta terkesan asal-asalan dalam menangani persoalan limbah seperti pembuatan instalasi pengolahan air limbah (ipal) dan sengaja mengenyampingkan persoalan di lingkungan sekitar usahanya.

”Mereka pelaku usaha/ swasta atau stockholder, masih sangat kurang kesadaran akan memperhatikan lingkungan. Ada juga perusahaan melalaikan masalah limbah dan ada yang perhatian tetapi asal-asalan saja, seperti pembuatan intalasi pengelohan air limbah (ipal),” katanya lagi.

Meskipun jumlah pelaku usaha diharuskan taat akan aturan, tapi hingga saat ini belum ada tindakan tegas atau sanksi dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) terhadap para pelaku usaha yang enggan melaksanakan ketentuan yang ada itu. Pihak BLH Bengkalis hanya sebatas menghimbau saja kepada seluruh pelaku usaha untuk melengkapi sejumlah dokumen yang dianjurkan tentang kegiatan perusahaan di lingkungan sekitarnya.

”Dihimbau kepada pelaku usaha/ swasta maupun pemerintah sendiri mentaati aturan yang ada, agar melaksanakan dan melengkapi dokumen-dokumen penting analisis mengenai dampak, pemantauan dan pengelolaan lingkungan ini.” pintanya.***(dik)

Bayi Bertuliskan Lafaz ‘Allah’ di Telinga Lahir di PMC Pekanbaru




Rumah Sakit PMC Pekanbaru heboh. Kelahiran seorang bayi laki-laki dengan telinga bertuliskan mirip lafaz ‘Allah’ sebagai pemicu.Selasa, 9 Pebruari 2010


PEKANBARU- Satu lagi kebesaran Allah ditunjukkan melalui kelahiran seorang bayi laki-laki dengan telinga terdapat guratan menyerupai lafaz ‘Allah’. Bayi tersebut lahir di RS Pekanbaru Medical Centre (PMC), Senin (8/2/10) sekitar pukul 17.05 WIB. Keajaiban tersebut baru diketahui tiga jam kemudian oleh ibunya, Wahyuningsing (33), warga Jalan Parit Indah, Bukitraya Pekanbaru.

“Kemarin itu saya akan menyusuinya, tiba-tiba saya melihat sesuatu yang menarik di telinga anak saya tersebut. Seperti ada guratan mirip tulisan Allah di telinga kirinya,” tutur Wahyuningsih.

Keanehan yang terjadi di telinga kiri bayi telah disiapi nama Tabriz Abdul Hafiz tersebut kontan menjadi daya tarik perawat dan kemudian menyebar ke pengunjung rumah sakit di Jalan Lembaga (Kapling II) Pekanbaru tersebut. Sejak tadi pagi tadi banyak pengunjung yang ingin melihat guratan mirip tulisan Allah di telinga bayi tersebut.

Meskipun telinga kiri anaknya dianggap ajaib, namun Wahyudi, ayah bayi tersebut menyikapinya biasa saja. “Saya tidak melihat itu sebagai sebuah keajaiban, tapi kalau itu memang sebuah pertanda, kami berharap itu pertanda baik. Semoga anak saya menjadi anak yang sholeh,” tutur Wahyudi.

Sebagai data tambahan, bayi ajaib tersebut lahir melalui metode watter bath ditangani Dokter Suhaimi dengan berat 3,2 kilogram dan panjang 50 centimeter.***(tam)

5 Tahun 36 Kali Konflik, 11 Ekor Harimau dan 5 Manusia Tewas di Riau

Sabtu, 6 Pebruari 2010
Sepanjang tahun 2005 hingga 2009 telah terjadi 36 kasus konflik antara harimau-manusia. Dalam konflik tersebut, 11 harimau dan 5 nyawa manusia melayang.

PEKANBARU-Dalam rangka memperingati hari harimau se-dunia (Tigers Day) yang jatuh pada 14 February nanti, Direktur Program World Wide Fund (WWF) Riau, Suhandri dalam eksposnya menyatakan bahwa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini, (2005-2009) telah terjadi 36 kasus konflik antara harimau dengan manusia.

“Dari 36 konflik yang terjadi telah menewaskan sebanyak 11 ekor harimau dan 5 nyawa manusia melayang dan 13 manusia luka-luka,” ungkapnya pada Riauterkini Jum’at (5/2/10).

Data WWF menyebutkan bahwa tahun 2005 terjadi 11 kasus konflik. Dalam konflik yang terjadi di sepanjang tahun 2005 tersebut, 2 orang manusia tewas, 2 ekor harimau mati dan 9 orang luka-luka. Tahun 2006 terjadi 15 kasus konflik harimau-manusia dengan membawa korban 7 ekor harimau meregang nyawa, 3 orang manusia tewas dan 3 orang lainnya luka-luka.

Tahun 2007 tercatat 8 kasus konflik harimau-manusia dengan korban 2 ekor harimau mati. Tidak ada manusia yang tewas maupun terluka. Tahun 2008 terjadi 5 kasus konflik dengan korban 1 ekor harimau mati. Tahun 2009 lalu, terjadi 3 kasus konflik antara harimau-manusia dengan korban 4 ekor harimau mati dan 4 orang mengalami luka-luka.

“Tingginya konflik antara manusia dengan harimau sumatera (Phantera Tigris Sumatrae) disebabkan karena rusaknya habitat harimau oleh aktivitas penebangan hutan. Menyempitnya ruang gerak harimau dan menurunnya kuantitas makanan harimau membuat ‘sang datuk’ harus berburu mangsa di luar habitatnya. Yaitu habitat manusia (perkampungan manusia).” Terangnya.

Jumlah Menipis, Harimau Sumatera Bisa Punah

Diantara jenis harimau yang ada didunia ini, seperti harimau Bali, Harimau Jawa, Harimau Africa dan harimau jenis lainnya, harimau Sumatera merupakan species harimau yang paling cantik warnanya. Hal itu dikatakan oleh Koordinator Bidang Pengawasan dan Penyelamatan Satwa Harimau Sumatera WWF Riau, Osmantri.

Menurutnya, Phantera Tigris Sumatrae memiliki warna kuning-orange keemasan yang sangat terang. Sangat kontras dengan loreng hitamnya. Badannya sangat ramping dengan berat harimau dewasa antara 80-120 Kg. Dibandingkan dengan harimau Bali maupun harimau Jawa, warnanya kurang terang dan agak kekuningan. Badannya lebih besar dengan bobot harimau dewasa lebih dari 150-an Kg.

“Jumlah harimau Sumatera pada tahun 2007 lalu sebanyak 300 ekor. Untuk wilayah Riau sendiri dari hasil bidikan kamera trap diperkirakan sebanyak 60-an ekor. Jumlah tersebut sangat menipis. Karena pada tahun 1978 jumlah harimau sumatera diperkirakan sebanyak 1.000 ekor. Tahun 1987 menurun menjadi 800-an ekor. Tahun 1992 jumlah Harimau Sumatera kembali turun menjadi 400-500-an ekor. Tahun 2007 kembali turun menjadi 300 ekor. Jika tidak dijaga kelestariannya, maka jumlah Harimau Sumatera akan kembali turun dan bisa-bisa punah,” terangnya.

Untuk itu, tambahnya, WWF bersama dengan BKSDA Riau telah membentuk satuan unit perlindungan harimau (Tigers Protection Unit/TPU) di Rimbang Baling. Hasilnya, 171 jerat harimau berhasil ditemukan dan dimusnahkan. Tim juga melaksanakan program pemantauan perburuan dan perdagangan satwa liar yang dilindungi (harimau). Juga programpenelitian dan usaha penyadaran pentingnya konservasi satwa liar terhadap masyarakat.***(H-we)

Satu di Antaranya Bayi, Api dari Ledakan Panel, 417 Orang Terjebak di Lift, 8 Operasi Dibatalkan, Seorang Perawat Pingsan





Para pasien yang berhasil lari menyelamatkan diri ke luar gedung RSU dr Pirngadi Medan.Selasa, 9 Februari 2010
RS Pirngadi Meledak, 3 Tewas

MEDAN-Duarr! Semua lampu dan alat medis yang terkoneksi dengan listrik, mendadak mati. Ratusan pasien dan keluarganya panik dalam ruang gelap gulita. Lalu, asap tebal menyergap mereka. Siapa yang bertanggung jawab atas insiden maut ledakan panel listrik RSU dr Pirngadi Medan, kemarin (8/2) pagi?

Peristiwa amat tak terduga itu terjadi pukul 09.20 WIB, saat para pasien yang terbaring opname baru saja bangun dari tidurnya. Sejumlah saksi mata kejadian mengaku, ledakan berasal dari panel induk listrik di ruang elektrikal gedung rumah sakit milik Pemko Medan itu. Ruang itu berada di lantai 1.

Ledakan panel kontan menghasilkan efek domino. Listrik mendadak padam, dan api memercik di sana sini hingga membuat ratusan orang seketika lari tunggang langgang keluar dari ruang-ruang rumah sakit itu. Beberapa pasien dengan tangan diikat infuse, juga nekat berusaha menyelamatkan diri. Mereka berlari panik tak tentu arah. “Kebakaran! Kebakaran!” teriak massal di sana.

Kepulan asap tebal dari ruang elektrikal seketika bergulung masuk ke ruang IGD di lantai 1. Asap juga dengan cepat memenuhi ruang-ruang di lantai 2. Kepanikan sontak terjadi di sana-sini. Pengunjung yang pagi itu akan memasuki Pirngadi dan tidak mengetahui kejadian, juga ikut berlari saat melihat pengunjung berlarian ke luar dari rumah sakit itu.

“Saya mau bawa anak saya berobat. Sampai di IGD saya dengar suara ledakan dan ada asap keluar. Saya langsung panik karena saya kira kebakaran, terus saya lari keluar menyelamatkan anak dan istri saya,” ujar Nano (36), warga Kuala Simpang, Aceh.

Kepanikan juga dirasakan Doni, yang saat panel meledak dia berada dalam lift bersama belasan orang lainnya. “Saya terkejut, kok tiba-tiba mati, ada apa ini pikir saya. Sempat panik juga karena baru kali ini saya terkurung di dalam lift, serem juga,” tuturnya.

Menurut seorang petugas security RS Pirngadi, petaka itu berasal dari panel lsitrik yang terbakar. “Itu terbakar, saya lihat sendiri,” ujarnya, tapi enggan menyebut nama.

Akibat panel meledak, aliran listrik kontan mati dan membuat ruang-ruang inap pasien di lantai 2,3, 4 menjadi gelap gulita, termasuk ruang IGD, Bahkan ruang tangga darurat menuju lantai atas.

Empat kamar lift yang sedang beroperasi juga seketika mati. Sedikitnya, 17 orang pengunjung dan pasien terjebak dalam lift. Bahkan, seorang perawat yang tengah berada di lantai 2, pingsan akibat terhirup asap dari lantai 1.

Akibat peristiwa itu, Herna, perawat yang bertugas di Ruang IX itu, hingga kemarin terbaring lemah di Ruang XVII Kamar Putri Palem. Herna adalah salah satu diantara perawat yang terjebak dalam lift. Pantauan waratawan di Kamar Putri Palem, Herna masih terbaring lemah dan sedikit trauma akibat peristiwa yang menimpanya dan saat ini Herna dibantu dengan oksigen dan botol infuse. Sebelumnya, ketika terjadi korslet, sedikitnya 5 pasien dievakuasi dari Ruang IGD ke area parkir rumah sakit dan terjadi kepanikan keluarga, pasien dan tim medis rumah sakit tersebut. Seorang kakek mengaku bahkan shock saat di bawa ke ruang IGD karena ia ikut terjebak di dalam lift.

Pantauan POSMETRO MEDAN, ratusan pengunjung yang menyelamatkan diri, berlari ke luar gedung RSU Pirngadi. Tragisnya lagi, kepanikan atas banyaknya kepulan asap tampak tidak membuat pihak rumah sakit itu mengutamakan pasiennya. Sebagian dari mereka tak nampak memberikan masker kepada pasien yang terjebak di ruang IGD, tempat yang paling dekat dengan asal ledakan, meski ruangan itu dipenuhi asap.

Semua petugas medis di ruangan itu malah sibuk menggunakan masker. “Tidak apa apa, mereka sudah pakai oksigen,” kelit drg. Susyanto, juru bicara RSU Pirngadi.

3 Pasien Meninggal

Terbakarnya panel yang menyebabkan padamnya listrik juga berbuntut kematian 3 pasien inap RS Pirngadi. Mereka adalah Feri Capri (19), warga Dusun 6 Sidomulyo, Sei Lepan, Langkat, DM. Pangaribuan (82), warga Jl. PON III, Medan, dan seorang bayi berusia 4 hari - anak Ny. Duryati.

Fery yang masuk ke Pirngadi pada Sabtu (6/2) malam lalu, dirawat di ruang ICU karena kecelakaan. Ia mengalami cidera kepala yang cukup serius. Fery meninggal dunia sekira pukul 11 kemarin siang, saat listrik belum juga hidup di RS Pirngadi.

Menurut keluarganya, Fery meninggal lantaran luka di kepalanya. Tapi fakta mengatakan, hingga kemarin pagi Fery masih menggunakan alat bantu pernapasan yang mendadak tak lagi berfungsi akibat meledaknya panel RS Pirngadi. “Mungkin juga, soalnya dari tadi lampu hidup mati terus,” kata seorang teman wanita Ferr.

“Meskipun listrik padam, tapi ruang ICU ada ventilator manual. Di situ juga banyak perawat dan dokter anastesi yang membantu pasien. Jadi tidak benar kalau mereka meninggal karena mati lampu,” bantah dr. Dewi Fauziah Syahnan Sp.THT, Dirut RSU Pirngadi.

Sedangkan DM. Pangaribuan (82), yang dirawat di ruang ICCU lantai 4, meninggal karena mengalami kanker paru. “Pasien ini sudah stadium 4 dan merupakan pasien kiriman dari RS. Elisabeth. Keadaannya sudah parah benar sewaktu dibawa ke sini. Dan ketika mati lampu, kita sudah melakukan pertolongan dengan nambu (pernapasan tangan/manual), tapi kondisinya memang sudah parah benar dan tidak dapat diselamatkan,” cetus dr. Dewi.

“Kondisi DM sudah terminal, artinya secara medis dia sudah tidak mungkin sembuh,” tambah Dewi lagi. Namun, Dewi tidak menampik adanya keterkaitan antara padamnya listrik dengan meninggalnya pasien. “Ada kaitannya sedikit,” akunya.

Seorang bayi berusia 4 hari juga meninggal dunia teridentifikasi sebagai warga Dusun I Desa Saentis, Kec. Percut Sei Tuan, Deli Serang. Bayi Ny. Duryati yang tidak dilahirkan di RS Pirngadi ini juga dibantah meninggal akibat insiden itu. “Dia tidak menggunakan peralatan listrik, hanya menggunakan alat bantu tabung oksigen,” imbuh Dewi. Dewi juga mengatakan, sebelum hidup genset semua peralatan mati kecuali ventilator yang menggunakan batrey.

Listrik yang padam selama hampir 4 jam ini, juga mengakibatkan 8 operasi yang seharusnya dilangsungkan pagi kemarin, terpaksa ditunda. “Tidak ada dokter yang melakukan operasi. Dan yang akan melangsungkan operasi pun ditunda. Dan memang kalau operasi harus dijadwalkan terlebih dahulu,” beber Dewi. “Waduh nggak tahu saya, nggak sampai ke sana,” katanya saat ditanya soal pasien penderita penyakit apa saja yang gagal operasi itu.

Pirngadi Tuduh Insiden Akibat PLN

Berbeda dengan keterangan sejumlah saksi mata dan petugas security, juru bicara RSU dr. Pirngadi Medan, drg. Susyanto mengatakan, terbakarnya panel akibat adanya pemadaman listrik. Menurut Susyanto, api terjadi sekira pukul 09.20 WIB. Saat itu, terjadi pemadaman listrik di lingkungan rumah sakit milik Pemko Medan itu. “Tadi kan ada mati lampu, secara otomatis genset kita kan menyala, di saat terjadi pertukaran itu terjadi trouble meteran lift sehingga timbul panas dan menyebabkan terjadinya percikan api,” jelas Susyanto disela-sela kepanikan.

Masih Susyanto, dikatakannya, pihaknya sudah berkoordinasi dengan PLN dan teknisi lift. “Dan untuk mengatasi hal ini, terutama di Ruang ICU kita sudah melakukan penghidupan genset untuk menghidupkan ventilator, itulah bantuan untuk memberikan pernapasan kepada pasien,” sebutnya.

Ditambahkannya, bahwa ruangan ICU menjadi prioritas. “Ada genset di ruang ICU untuk menghidupkan ventilator,” cetus Susyanto. Hingga pukul 12.00 wib, penerangan di semua ruangan belum menyala. Namun, ia mengatakan akan memprioritaskan semua pasien. “Kalau kita tidak bisa mengendalikan keadaan ini, kita akan evakuasi pasien ke rumah sakit lain.

“Kita akan meminta kemitraan dengan rumah sakit lainnya seperti RSUP H Adam Malik Medan, RS Medica, RS Haji Mina dan rumah sakit lainnya untuk menolong pasien demi keselamatannya,” ujar Susyanto Susyanto juga mengatakan, bahwa kejadian ini baru yang pertama di Pirngadi. Sebelumnya, tidak ada masalah jika terjadi pemadaman lsitrik. “Biasanya secara otomatis akan hidup ketika listrik mati. Tapi karena ada trouble tadi maka terjadilah hal ini,” papar Susyanto.

PLN Tolak Bertanggung Jawab

Meledaknya trafo di RSU Pirngadi Medan yang berbuntut kematian 3 pasien, ternyata tak diketahui Humas PLN Kota Medan, Rosna. “Saya baru dengar ini. Besok saya kasih tahu apa penyebabnya,” kata Rosna pada POSMETRO MEDAN.

Begitu disinggung petaka meledaknya trafo akibat pemadaman listrik, Rosna bilang, itu bukan kesalahan PLN. Sebab, sebelum trafo meledak, listrik di kawasan itu masih hidup dan begitu meledak baru listrik padam. “Kalau travo itu tak terduga dan tak bisa diprediksi. Tanpa sepengetahuan kita, bisa saja ada gangguan teknisi makanya bisa meledak,” ungkapnya. Mengenai nasib para korban yang meninggal dunia, Rosna juga belum bisa memastikannya apakah ditanggung pihak PLN atau tidak. “Kita kurang tahu penyebabnya. Kita lihat saja nanti kronologis sebenarnya,” tandasnya singkat.

Kepanikan Keluarga Pasien

Keluarga pasien juga turut panik karena kejadian ini. Seperti pengakuan Kiki (28) warga Jalan Bromo yang kemarin tampak terduduk lemas di lantai 4 RSU Pirngadi Medan. Saat peristiwa terjadi, Kiki tengah menunggui ibunya yang dirawat di ruang ICCU sejak Jum’at lalu. Ia mengaku panik saat ditelpon kakaknya ketika listrik padam. “Saya laagi tiduran di rumah. Tiba-tiba kakak saya telepon bilang ada kebakaran, lampu mati, saya jadi panik. Mana ibu saya diopname lagi. Akhirnya saya buru-buru ke sini,” cetusnya.

Ia mengatakan, ada kecemasan sebagai keluarga pasien jika terjadi sesuatu pada rumah sakit. Ditambahkanya, seharusnya rumah sakit sebesar Pirngadi tak perlu terjadi hal sepeti ini. “Jangan sampai terulang lagi lah, terus terang saya jantungan,” beber Kiki.

Belum Ada Kesiapan Managemen Mengatasi Kepanikan

Terbakarnya panel RSUD.Pirngadi, membuat anggota Komisi B DPRD Medan Bahrumsyah angkat bicara. T Bahrumsyah juga hadir saat itu mengatakan, rumah sakit sebesar Pirngadi seharusnya memiliki engine cadangan. Ia juga mengatakan bahwa rumah sakit juga harus mengutamakan keselamatan pasien. Bahrum juga melihat adanya kepanikan yang terjadi. “Meskipun terjadi kepanikan, namun pihak rumah sakit tidak ada sama sekali tindakan yang maksimal untuk menyikapi kepanikan tersebut,” jelas Bahrumsyah.

“Kita melihat ini memang kejadian yang luar biasa, seperti lift tidak dapat beroperasi dan tindakan operasi tidak dapat dilakukan,” sebutnya. Ironisnya Bahrum menilai, ketika pasien membutuhkan perawatan yang maksimal dan terjadi peristiwa itu, pasien terkesan diabaikan.

“Kita lihat saja, bukan pasiennya yang diurus, namun perawat-perawatnya dulu yang memakai masker, seharusnya pasien dulu yang lebih diutamakan,” bebernya. Ditambahkannya, ruang IGD seharusnya memiliki lampu-lampu emergency agar masyarakat merasa lebih nyaman.

DPRD Medan : Belum Ada Kesiapan Managemen Mengatasi Kepanikan

Saat terjadi mesin elektrikal RSU Dr Pirngadi Medan, anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Medan, T Bahrumsyah juga hadir saat itu. Dengan kejadian seperti itu, Bahrum juga melihat adanya kepanikan yang terjadi. “Meskipun terjadi kepanikan, namun pihak rumahsakit tidak ada sama sekali tindakan yang maksimal untuk menyikapi kepanikan tersebut,” jelas Bahrumsyah, Senin (8/2). Seyogianya memang, lanjut Bahrum, ketika terjadi hal seperti ini, rumahsakit harus memiliki engine cadangan. “Kita melihat ini memang kejadian yang luar biasa, seperti lift tidak dapat beroperasi dan tindakan operasi tidak dapat dilakukan,” sebutnya. Ironisnya Bahrum menilai, ketika pasien membutuhkan perawatan yang maksimal dan terjadi peristiwa itu, pasien terkesan diabaikan. “Kita lihat saja, bukan pasiennya yang diurus, namun perawat-perawatnya dulu yang memakai masker, seharusnya pasien dulu yang lebih diutamakan,” bebernya. Saat ini memang Bahrum tidak mengetahui adanya korban jiwa, namun terjadi kepanikan yang luar biasa yang dialami oleh pasien. “Saat saya tanya tadi kepada pasien, dirinya terlihat sangat down,” timpalnya.

Pemerintah Harus Mencari Solusi Pemadaman Listrik

Terkait terjadinya pemadaman listrik dan berujung mesin elektrikal RSU Dr Pirngadi Medan menjadi korslet, anggota Komisi B DPRD Medan, T Bahrumsyah menegaskan agar pemerintah mencari solusi yang cepat dalam mengatasi hal ini. Menurut Bahrum, terjadinya korslet ini merupakan salah satu eksis dari pemadaman listrik ini. “Kita tegaskan kepada pemerintah untuk secepat mungkin mengatasi permasalahan ini,” ujar Bahrum di RSU Dr Pirngadi Medan, Senin (8/2). Ini harus ditindaklanjuti oleh pemerintah, agar seluruh pelayanan-pelayanan yang sifatnya kepada masyarakat khususnya di rumahsakit tidak terulang kembali. Bahrum juga menyayangkan mengapa rumahsakit pemerintah ini tidak memiliki lampu emergency yang seharusnya ada dan membuat masyarakat dalam hal ini pasien lebih nyaman. “Bukan hanya genset saja, namun lampu untuk keadaan emergency juga harus ada,” tandasnya sembari mengakhiri. (widya)
Cetak Berita Ini

Kasus PAK Palsu 1.820 Guru, Komisi A DPRD Riau Himbau tak Cepat Cerca Guru

Selasa, 9 Pebruari 2010
Komisi A DPRD Riau minta penjelasan kasus PAK palsu 1.820 guru dari PGRI. Diharapkan semua pihak tak terlalu dini mencerca para guru.

Riauterkini-PEKANBARU- Usai melakukan dengar pendapat dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Riau terkait kasus kecurangan Penetapan Angka Keridit (PAK), Selasa (9/2/10) di Gedung Guru, Pekanbaru. Komisi A DPRD Riau menegaskan kepada pemerintah agar tidak terlalu cepat mencerca atau memojokkan guru, apalagi mengambil keputusan yang merugikan guru.

“Ini sebenarnya dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, bukan kesalahan guru. Seperti yang dijelaskan tadi, guru hanya memenuhi syarat-syarat permintaan orang yang menawarkan jasa pengurusan penaikan pangkat,” jelas Ketua Komisi A DPRD Riau Bagus Santoso, Selasa (9/2/10).

Pernyataan yang sama oleh Anggota Komisi A DPRD lainya Zukri, Selasa (9/2/10), yang perlu diproses itu adalah orang dibalik kejadian itu semua, bukan guru yang bersangkutan. “Karena mereka juga menjadi korban, merekakorban materil dan juga moril,” jelasnya. “Pemerintah juga harus sadar, tanpa guru, kita tidak akan maju dan sukses seperti ini,” tegasnya.

Sebelumnya mereka mendengarkan penjelas dari Ketua PGRI Riau, Isjoni, Selasa (9/2/10), bahwa , pengalaman menunjukkan pengusulan karya ilmiah yang telah dibuat oleh guru dikirim ke Jakarta, banyak yangtidak kembali, bahkan tidak ada berita, apakah karya ilmiah itu diterima atau di tolak.

Dampak dari itu semua, tambah Isjoni, para guru patah semangat dan enggan untuk mengurus kenaikan pangkat mereka, secara tiba-tiba ada prang yang menawarkan jasa baik untuk menguruskan kenaikan pangkat mereka kembali, dan tentu dengan senang hati guru akan menerimanya.

“Jadi kami minta kepada pemerintah untuk diluruskan kembali berita-beritayang telah menyudutkan guru, karena Pemalsuan PAK dan karya ilmiah itu bukan dilakukan oleh guru, namun oleh oknum yang menjadi calo pengurusan tersebut,” jelas Isjoni.

Ia melanjutkan, kepada penegak hokum (Kapolda) usut tuntas siapa dibalik itu semua, sehingga masalah tersebut cepat terselesaikan. “Sehingga guru dapat kembali bekerja dengan perasaan tidak tertekan,” terangnya.***(tam)

Kajati Tempuh Jalur Persuasif . Upaya Jebloskan As’ad Syam ke Penjara

Ditulis oleh fes
Selasa, 09 Februari 2010

MUAROJAMBI – Kejaksaan masih terus beralibi untuk mengeksekusi mantan Bupati Muarojambi As’ad Syam. Yang teranyar, korps Adhyaksa akan melalui pendekatan persuasif. Itu berarti upaya jemput paksa terhadap terpidana 4 tahun penjara itu tidak akan dilakukan kejaksaan.

Langkah persuasif yang bakal ditempuh kejaksaan tersebut diungkapkan langsung Kepala Kejaksaan Tinggi Jambi Yuswa Kusuma Basri Apandi ketika berkunjung di Muarojambi kemarin (8/2). “Dia akan tetap kita eksekusi. Namun akan kita lakukan melalui pendekatan persuasif dulu,” katanya.

Yuswa belum berani mengungkapkan akan melakukan upaya jemput paksa terhadap As’ad Syam. Padahal dia mengetahui bahwa selama ini Kejaksaan Negeri (Kejari) Sengeti telah berulang kali memanggil yang bersangkutan dan tetap tidak diacuhkan. “Dia tetap akan kita eksekusi, namun kita upayakan melalui pendekatan dululah,” katanya lagi.

Untuk mengingatkan kembali, surat putusan kasasi A’ad Syam terkait perkara korupsi pembangunan PLTD Unit 22, Sungaibahar, telah turun dari MA pada Jumat (16/10). Dalam Putusan Nomor 1142K/Pidsus/2008 tanggal 10 Desember 2008 itu, MA mengabulkan tuntutan kasasi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sengeti nomor 207/T/2007 tanggal 13 April 2008 atas nama terdakwa Drs H As’ad Syam.

MA menyatakan, As’ad telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berkelanjutan. Dia dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 junto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 junto UU Nomor 20 Tahun 2001, Pasal 55 ayat 1 KUHP, atau Pasal 3 junto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 junto UU Nomor 20 Tahun 2001 Pasal 55 ayat 1 KUHP, dengan hukuman 4 tahun penjara dikurangi masa tahanan.

Selain itu, dia juga wajib membayar denda sebesar Rp 200 juta. Apabila denda itu tidak dipenuhi, maka harta bendanya akan disita. Kalau tidak memiliki harta benda, maka As’ad diwajibkan menjalani sanksi penambahan hukuman selama enam bulan kurungan.(fes)

Eksekusi terpidana 4 tahun penjara As’ad Syam bakal dilakukan melalui pendekatan persuasive. Demikian diungkapkan Kepala Kejaksaan Tinggi Jambi Yuswa Kusuma Basri Apandi kemarin.

“Dia akan tetap kita eksekusi. namun, akan kita lakukan melalui pendekatan persuasive dulu,”katanya ketika ditanyai wartawan di rumah dinas Bupati Muarojambi, Kemarin.

Yuswa sendiri belum berani mengungkapkan akan melakukan upaya jemput paksa terhadap as’ad syam. Padahal dia mengetahui bahwa selama ini, Kejaksaan Negeri Sengeti telah berulang kali memanggil yang bersangkutan namun tetap tidak diacuhkan “dia tetap akan kita eksekusi. namun, kita upayakan melalui pendekatakan dululah,”katanya.

Untuk mengingatkan kembali, surat putusan kasasi A’ad Syam terkait perkara korupsi pembangunan PLTD unit 22 Sungai Bahar telah turun dari MA pada Jumat (16/10). Dalam Putusan Nomor 1142K/Pidsus/2008 tanggal 10 Desember 2008 itu, MA mengabulkan tuntutan kasasi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sengeti nomor 207/T/2007 tanggal 13 April 2008 atas nama terdakwa Drs H As’ad Syam.

MA menyatakan, As’ad telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berkelanjutan. Dia dijerat dengan dakwaan Pasal 2 ayat 1 junto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 junto UU Nomor 20 Tahun 2001, Pasal 55 ayat 1 KUHP, atau Pasal 3 junto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 junto UU Nomor 20 Tahun 2001 Pasal 55 ayat 1 KUHP, dengan hukuman 4 tahun penjara dikurangi masa tahanan.

Selain itu, dia juga wajib membayar denda sebesar Rp 200 juta. Apabila denda itu tidak dipenuhi, maka harta bendanya akan disita. Kalau tidak memiliki harta benda, maka as’ad diwajibkan menjalani sanksi penambahan hukuman selama enam bulan kurungan.(fes)

Polisi Ciduk Dokter Perpanjang Alat Vital

Selasa, 9 Pebruari 2010
Tangerang (ANTARA ) - Petugas Polres Metro Tangerang, Banten menciduk HN (36) dari tempat persembunyian, setelah tiga hari diintai petugas. Oknum"dokter" ini mengaku dapat memperpanjang alat vital laki-laki.

Wakil Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Mapolres Metro Tangerang Kabupaten, AKP Sunaryo dihubungi Selasa membenarkan bahwa petugas telah menciduk HN yang mengaku dokter dapat memperpanjang alat kelamin laki-laki.

"Kami menangkapnya pada suatu tempat setelah bersembunyi selama tiga hari menghilang dari tempat usahanya," katanya.

Sedangkan HN membuka klinik terapi dan mengaku dokter ahli di Desa Sumur Bandung, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang pada sebuah rumah kontrakan.

Menurut dia, polisi memburu pelaku karena sejumlah pasien mengalami sakit setelah diobati dan menimbulkan alergi usai disuntik.

Semula HN mengaku kepada pasiennya bahwa untuk membesarkan alat vital dengan cara diurut menggunakan minyak tertentu, tapi belakangan diketahui bahwa pelaku menyuntik para korban.

Namun beberapa pekan setelah disuntik ketika tiga korban yang masing-masing Aw (29), Tr (30) dan Zn (28) merasakan alat kelamin mereka mengecil 3,1 hingga 5,1 cm.

Dalam penuturan korban kepada petugas bahwa ada sekitar 20 pasien lainnya yang mengalami nasib serupa, tapi mereka tidak bersedia untuk melaporkan kepada polisi dengan alasan malu.

Bahkan diantara korban ada yang mengaku setelah berobat kepada pelaku, maka istrinya menggugat cerai.

Walau begitu, polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap HN dan belum menetapkan status sebagai tersangka karena masih diperlukan keterangan lain dan alat bukti. (A047/A024)