Saturday, November 7, 2009

Wakil Bupati Kabupaten Deliserdang Tinja Tanggul Sungai Ular Yang Rusak Akibat Banjir



GALANG (Msi)
Curah hujan yang berlangsung dalam sebulan terakhir ini membuat warga di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Desa Timbang Deli Kecamatan Galang Kabupaten Deliserdang, was-was dan cemas, kecemasan warga tersebut cukup beralasan dengan masuknya musim hujan.
Wabup Deliserdang H Zainuddin Mars didampingi Kadis Sosial H Susmono MAP, Pl Kadis Infokom Maiber Sitompul SE serta Camat Galang H Hadisyam Hamzah SH, melihat lokasi tanggul Sungai Ular, di Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang.

Hal ini beralasan, karena kondisi Sungai Ular setiap memasuki musim hujan cenderung meningkat, arus air yang deras bisa menggerus pinggiran sungai dan menimbulkan abrasi, seperti banjir yang melanda Desa Kota Pari, Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai),karena meluapnya air Sungai Ular,ungkapan ini disampaikan Udin (47) warga Galang kepada beberapa wartawan

Camat Galang H Hadisyam Hamzah SH mengatakan, guna mengantisipasi meluasnya kerusakan pada tanggul tersebut pihak Kecamatan berkejasama dengan perusahaan yang sedang melakukan pembangunan irigasi di areal tersebut, telah membuat benteng penahahan agar tanggul tersebut tidak jebol, dikarenakan terjangan air yang mengalir deras dari hulu sungai.

Tingginya rasa kepedulian Pemkab Deliserdang kepada keluhan warganya, dibuktikan dengan hadirnya Wabup Deliserdang H Zainuddin Mars, bersama Kadis Sosial H Susmono MAP, Pl Kadis Infokom Maiber Sitompul SE, melihat langsung lokasi tanggul Sungai Ular, di Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang yang hampir jebol diakibatkan tingginya curah hujan yang menjadi pemicu utama naiknya debit air tanggul.

Wabup pada kesempatan itu mengintruksikan kepada Camat Galang beserta Muspika agar siaga dan membentuk posko untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi seperti terjadinya banjir diakibatkan jebolnya tanggul penahan sungai, yang bisa berakibat tergenangnya ratusan hektar sawah dan rumah penduduk.

Kepada masyarakat Wabup juga mengingatkan untuk tetap selalu waspada serta bergotong royong, membantu penimbunan/penahan di bibir sungai Ular yang sudah tergerus arus air sungai, sehingga kita dapat mengantisipasi banjir kiriman sedini mungkin, pungkas Wabup. (int)

Wednesday, November 4, 2009

Istana Raja Hulu Balang Lumpu Pusat Penyelenggaraan Adat Melayu



DELISERDANG – Bangunan peninggalan sejarah kejayaan Raja Melayu Deli ini dibangun pada tahun 1983 letaknya yang strategis berada di pusat Kecamatan Batang Kuis. Bentuk dan arsitekturnya yang masih murni mencerminkan kuatnya adat istiadat Melayu. Meski dibeberapa sudut bangunan ini telah mengalami perbaikan akibat rusak dimakan zaman, namun fungsi dasarnya masih tetap dipertahankan yakni sebagai pusat penyelenggaraan adat.

Kini, bangunan ini dikelolah oleh OK. Khaidar Aswan. Kepada wartawan, keturuna Raja Hulu Balang Lumpu ini menerangkan bahwa Istana warisan ini kerap dijadikan pusat observasi pengetahuan sejarah oleh pelajar sebab menyimpan begitu banyak arsip dokumentasi kejayaan Raja Tanah Deli.

“Selain dijadikan museum adat, peninggalan sejarah ini juga kita dijadikan sebagai wadah berkumpulnya pemuka adat untuk membicarakan permasalahan adat atau yang dikenal dengan istilah ‘kumpul rembuk’ kalau ada even kebudayaan, seperti festival kebudayaan melayu kita juga bisa manfaatkan alun-alun di depan,” ungkapnya.

Belakangan, gedung seluas 9x7 meter persegi ini juga dijadikan tempat untuk
manasik haji, lanjut Khaidar. Meski saat ini, cagar budaya tersebut masih mendapatkan perhatian khusus dari para budayawan melayu, namun khidar juga berharap agar peninggalan sejarah ini juga menjadi perhatian khusus pemerintah guna bersaing dengan bentuk inovatif bangunan modern dan bukan semakin tergusur hingga punah.(int)

Mesjid Raya Al-Osmani,Di Kecamatan Medan Labuhan Tertua yang Betuah



Jalan-jalan ke Pelabuhan Belawan singgah sebentar di Pekan Labuhan, Kalau Anda ingin pengetahuan mari kita tinjau Mesjid Osmani di Labuhan, berjarak sekitar 19 Km dari pusat Kota Medan atau 5 Km dari Kota Pelabuhan Belawan disanalah terdapat mesjid tertua dizaman kerajaan Sultan Deli masa Kepemerintahan Sultan Al Osmani.

Melihat bentuk dan keunikkan dari banguna tua yang bertuah itu, mesjid Al Osmani bukanlah sembarang mesjid peninggalan sejarah justru hingga kini mesjid berwarna kuning kehijauan tersebut dikharomahkan sebagai pusat kegiatan Islam seperti tepung tawar keberangkatan haji maupun banyak dimanfaatkan sebagai lokasi acara para calon-calon Legislatif maupun Pilkada yang akan terpilih.

Bahkan Gubsu H Syamsul Arifin SE sebelumnya pernah membuat kegiatan doa bersama di Mesjid bertuah itu dan nyatanya benar, Syamsul terpilih saat ini menjadi rajanya di Sumut atau orang nomor satu di Propinsi terbesar No 3 di Indonesia ini.

Mesjid Al Osmani merupakan Mesjid tertua di Kota Medan, berlokasi di Kec.Medan Labuhan atau dikenal tanah Raja Lama Pekan Labuhan dan terbukti disini terdapat makam 3 Sultan.

Secara geografis, posisi keberadaan sekitar Mesjid Al Osmani juga terdapat sejumlah bangunan pekong maupun Wihara agama Budha persisnya di jalan Lama Pajak Pagi Pekan labuhan , disana terdapat tiga pekong .

Itu membuktikan ada hubungan erat antara kerajaan Sultan Deli dengan Chong Api sebab dalam sejarah kedua nya memiliki pengaruh yang cukup besar dimasanya.

Kota Medan memiliki kedudukan strategis berbatasan langsung dengan Selat
Malaka di bagian Utara, sehingga relatif dekat dengan kota-kota / negara yang lebih maju seperti Pulau Penang Malaysia, Singapura dan lain-lain.

Begitu juga secara demografis, Kota Medan diperkirakan memiliki pangsa pasar barang/jasa yang relatif besar dan tidak terlepas dari jumlah penduduknya yang relatif besar dimana tahun 2007 diperkirakan telah mencapai 2.083.156 jiwa. Demikian juga secara ekonomis dengan struktur ekonomi yang didominasi sektor tertier dan sekunder, Kota Medan sangat potensial berkembang menjadi pusat perdagangan dan keuangan regional/nasional.

Al-Osmani Berhubungan Erat dengan Istana Maimun

Berbicara tentang sejarah, awalnya terdapat kampung kecil bernama "Medan Putri". Perkembangan Kampung "Medan Putri" tidak terlepas dari posisinya yang strategis karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura, tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Kedua sungai tersebut pada zaman dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, sehingga dengan demikian Kampung "Medan Putri" yang merupakan cikal bakal Kota Medan, cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.

Lama kelamaan semakin banyak orang berdatangan ke kampung ini dan isteri Guru Patimpus yang mendirikan kampung Medan melahirkan anaknya yang pertama seorang laki-laki dan dinamai si Kolok. Mata pencarian orang di Kampung Medan yang mereka namai dengan si Sepuluh dua Kuta adalah bertani menanam lada. Tidak lama kemudian lahirlah anak kedua Guru Patimpus dan anak inipun laki-laki dinamai si Kecik.

Pada zamannya, Guru Patimpus merupakan tergolong orang yang berfikiran maju. Hal ini terbukti dengan menyuruh anaknya berguru (menuntut ilmu) membaca Alqur’an kepada Datuk Kota Bangun dan kemudian memperdalam tentang agama Islam ke Aceh.

Keterangan yang menguatkan, adanya Kampung Medan ini adalah keterangan H. Muhammad Said yang mengutip melalui buku Deli In Woord en Beeld ditulis oleh N.Ten Cate. Keterangan tersebut mengatakan bahwa dahulu kala Kampung Medan ini merupakan Benteng dan sisanya masih ada terdiri dari dinding dua lapis berbentuk bundaran yang terdapat dipertemuan antara dua sungai yakni Sungai Deli dan Sungai Babura. Rumah Administrateur terletak diseberang sungai dari kampung Medan. Kalau kita lihat bahwa letak dari Kampung Medan ini adalah di Wisma Benteng sekarang dan rumah Administrateur tersebut adalah kantor PTP IX Tembakau Deli yang sekarang ini.

Sekitar tahun 1612 setelah dua dasa warsa berdiri Kampung Medan, Sultan
Iskandar Muda yang berkuasa di Aceh mengirim Panglimanya bernama Gocah
Pahlawan yang bergelar Laksamana Kuda Bintan untuk menjadi pemimpin yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli.
Gocah Pahlawan membuka negeri baru di Sungai Lalang, Percut. Selaku Wali dan Wakil Sultan Aceh serta dengan memanfaatkan kebesaran imperium Aceh, Gocah Pahlawan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi Kecamatan Percut Sei Tuan dan Kecamatan Medan Deli sekarang. Dia juga mendirikan kampung-kampung Gunung Klarus, Sampali, Kota Bangun, Pulau Brayan, Kota Jawa, Kota Rengas Percut dan Sigara-gara.

Dengan tampilnya Gocah Pahlawan mulailah berkembang Kerajaan Deli dan tahun 1632 Gocah Pahlawan kawin dengan putri Datuk Sunggal. Setelah terjadi perkawinan ini raja-raja di Kampung Medan menyerah pada Gocah Pahlawan.

Gocah Pahlawan wafat pada tahun 1653 dan digantikan oleh puteranya Tuangku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh pada tahun 1669, dengan ibukotanya di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.

Jhon Anderson seorang Inggris melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa
penduduk Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang tapi dia hanya melihat penduduk yang berdiam dipertemuan antara dua sungai tersebut. Anderson menyebutkan dalam bukunya “Mission to the East Coast of Sumatera“ (terbitan Edinburg 1826) bahwa sepanjang sungai Deli hingga ke dinding tembok mesjid Kampung Medan di bangun dengan batu-batu granit berbentuk bujur sangkar. Batu-batu ini diambil dari sebuah Candi Hindu Kuno di Jawa.

Pesatnya perkembangan Kampung "Medan Putri", juga tidak terlepas dari
perkebunan tembakau yang sangat terkenal dengan tembakau Delinya, yang
merupakan tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu. Pada tahun 1863, Sultan Deli memberikan kepada Nienhuys Van der Falk dan Elliot dari Firma Van Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) secara erfpacht 20 tahun di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. Contoh tembakau deli.
Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan berkualitas tinggi untuk pembungkus cerutu.

Kemudian di tahun 1866, Jannsen, P.W. Clemen, Cremer dan Nienhuys mendirikan de Deli Maatscapij di Labuhan. Kemudian melakukan ekspansi perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal (1869), Sungai Beras dan Klumpang (1875), sehingga jumlahnya mencapai 22 perusahaan perkebunan pada tahun 1874. Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sudah sangat luas dan berkembang, Nienhuys memindahkan kantor perusahaannya dari Labuhan ke Kampung "Medan Putri". Dengan demikian "Kampung Medan Putri" menjadi semakin ramai dan selanjutnya berkembang dengan nama yang lebih dikenal sebagai"Kota Medan".(INT)

Monday, November 2, 2009

PELABUHAN BELAWAN DIDUGA TEMPAT MASUKNYA LIMBA B3



Belawan, msi

Akibat lemahnya pengawasan dari berbagai instansi terkait, Pelabuhan Belawan selama beberapa tahun ini diduga jadi lokasi transit pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3 dari kapal-kapal pelayaran nasional maupun asing. Sehingga, dikhawatirkan perairan di kawasan pelabuhan akan tercemari ,

Hal ini dibuktikan dari penelusuran msi dilapangan. Hari kamis(7/2) tepatnya sekira pukul 11.30 WIB di kawasan Pelabuhan Belawan sinar mentari terasa terik. Ditengah cuaca yang gerah itu, ratusan buruh bongkar muat pelabuhan terlihat melakukan aktivitas bongkar muat barang berbagai jenis komoditi dari atas kapal-kapal niaga berbendera asing maupun domestic yang bersandar di dermaga pelabuhan.

Pantauan or, saat melintas di dermaga Pelabuhan Belawan persisnya di dermaga 203, mengundang perhatian sejumlah pekerja. Mereka tampak sibuk, mengerjakan pekerjaannya dari dalam kapal. Mereka sedikit terlihat kumuh, sebab muatan yang mereka keluarkan itu bukanlah jenis barang-barang cargo dan sejenis bahan baku makanan lainnya.

Namun, sejumlah pekerja tampak sibuk menarik selang berdiameter kurang lebih 5 inchi panjang 20 m ke atas kapal. Setelah beberapa saat kemudian, sebuah armada truk tangki langsung meluncur merapat ke dermaga bagian burutan lambung kapal Kery Expres IMO 7920962 itu.

msi berusaha mendekatinya, dan ternyata mereka sedang mengeluarkan puluhan ton minyak hitam atau pelumas bekas yang dikategorikan merupakan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dibawa kapal Kery Expres tersebut. Limbah berwarna hitam pekat dan memiliki aroma sangat menyengat itu sekitar dua tiga jam langsung habis di sedot dari dalam lambung kapal ke sebuah mobil tanki berplat polisi BK 9097 DF dan selanjutnya dikeluarkan dari pelabuhan untuk ditimbun disebuah lokasi tidak jauh dari kawasan pelabuhan.

Menurut informasi yang diperoleh msi dari sejumlah buruh pelabuhan menyebutkan kapal Kery Expres itu baru saja mengangkut ribuan lembu impor dari Australia. “Kapal ini tiba pada Kamis (7/2) pagi membawa ribuan ekor sapi asal Australi. Namun, setelah muatan kapal dibongkar, masih ada kegiatan bongkar muat bahan-bahan cair kapal yang disebut-sebut limbah,” ujar salah seorang buruh.

Menurutnya, selama beberapa tahun ini pada umumnya limbah serta oli bekas yang setiap kapal asing adalah jadi rebutan para pelaku usaha di Belawan. Bahkan, para peminatnya banyak yang tidak memikiki izin resmi dari instansi terkait. “Selama ini kita dengar, kalo mau mendapatkan limbah dari kapal-kapal yang sandar disini tidak perlu pakai izin segala. Pertama, kita sudah cukup menjalin hubungan yang baik dengan pejabat seluruh instansi pelabuhan. Kedua, pintar-pintar melakukan pendekatan terhadap nahkoda kapal. Tujuannya, agar limbah yang mereka bawa dari negeri asal diserahkan kepada kita, dan sekedar uang tip kita beri kepada para ABK, itu sudah cukup,” ujar salah seorang sumber yang pernah mengelola usaha penampungan limbah kapal.

Ironisnya, lanjut sumber selama ini kegiatan bongkar muat limbah B3 tersebut di back-up sejumlah oknum aparat. Sehingga bongkar muat limbah bias bebas tanpa ada hambatan dari petugas manapun. "Meski aktivitas pengumpulan limbah itu termasuk illegal, namun tak satupun petugas yang berani menghentikannya. Sebab, kawasan itu dikawal sejumlah oknum aparat lengkap berpakaian seragam, sementara petugas di sana hanya menunggu upeti saja," ucapnya.

Kondisi tersebut jelas bertentangan dengan surat edaran yang dikeluarkan Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Belawan dengan nomor KL. 93/1/1/Adpel.Blw-2006, jelas menyebutkan, untuk menghindari penyalah-gunaan dan peredaran pelumas bekas palsu serta penimbunan limbah berbahaya di Pelabuhan Belawan khususnya di Kota Medan, maka diperintahkan agar seluruh aparat terkait agar lebih mengintesifkan pengeluarannya melalui Pelabuhan Belawan. Namun, faktanya hinga saat ini surat edaran tersebut hanya berlaku di atas kertas saja.
untuk mencegah dampak kerusakan terhadap lingkungan hidup di kawasan pelabuhan, seharusnya Adpel Belawan selaku penguasa Pelabuhan beserta jajaran instansi lain harus bias bertindak tegas. Sebab, segala jenis limbah yang masuk kategori berbahaya yang berasal dari kapal-kapal asing itu tidak bisa ditampung dan dibuang secara sembarangan .

“Hal itu jelas melanggar Peraturan Pemerintah nomor 03 tahun 2007 tentang, fasilitas pengumpulan dan penyimpanan limbah bahan berbahaya dan beracun di pelabuhan, kita minta agar segera dihentikan,”(tim)

AKIBAT DEPO BBM Ilegal Disinyalir Marak di Belawan MASYARAKAT NELAYAN MEDAN UTARA TIDAK BISA MELAUT



Belawan, msi
Depo-depo BBM illegal di sepanjang kawasan Jalan Medan Belawan hingga saat ini disinyalir marak beroperasi. Sesuai pantauan msi di Belawan, bisnis gelap tersebut sudah sejak lama berlangsung. Namun, para pelakunya seakan tidak tersentuh oleh aparat penegak hukum.
Hasil penelusuran media swara indonesia, terhadap sejumlah lokasi penampungan mulai dari pintu Jalan Tol Pelabuhan Raya, Kampung Salam, Jalan Medan Belawan KM 20,5 Makdin Baru Kel Belawan Bahari hingga di Jalan KL Yos Sudarso KM Kel Pekan Labuhan, Kp kurnia lingkungan IX pinggir sungai deli kelurahan belawan bahari nyaris setiap hari terlihat aktivitas penampungan BBM mulai dari jenis minyak kelapa sawit (CPO), solar, oli bekas, bensin.dan minyak tanah
Menurut sumber dari warga depo BBM ilegal tersebut juga di-back up oleh sejumlah oknum aparat. Mulai dari oknum polisi, TNI dan preman. “
menyebut terjadi kerja sama antara Pertamina, pemilik depo ilegal dengan pejabat Polri. Para pejabat itu akan mendapatkan setoran rutin atau insidental dari pemilik depo. Para pejabat juga bisa menjual DO (delivery order) resmi ke pemilik depo ilegal. Jika ada penggerebekan, aparat membocorkannya. Maka jangan heran, bila belakangan ini terjadi kelangkaan BBM dan banyaknya depo BBM ilegal, pejabat Polri itu justru bertambah gemuk.Warga Resah, Pengoplosan BBM di Belawan Semakin Marak
Warga masyarakat di Kecamatan Medan Belawan dan Medan Labuhan akhir-akhir ini mulai mengalami keresahan. Pasalnya, di kedua kawasan yang rata-rata memiliki warga nelayan tersebut hinga kini masih kerap dijadikan lokasi pengoplosan minyak tanah bersubsidi dan transit CPO (crude palm oil) dan BBM (bahan bakar minyak) jenis solar secara ilegal.

Seperti yang diutarakan beberapa warga nelayan kepada wartawan, Minggu (1/11). Disebutkan, mereka saat ini merasa khawatir dan resah sebab, sejumlah oknum yang dipercayakan mendistribusikan minyak tanah bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi kebutuhan rumah tangga itu diduga kuat masih saja melakukan penyelewengan.

Misalnya, lokasi yang berada di Kelurahan Belawan I dan Perumahan Nelayan Indah Kec Medan Labuhan, sering dijadikan lokasi pengoplosan yang dilakukan para mafia BBM. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat resah akibat beberapa oknum masyarakat yang melakukan transit CPO dan BBM Ilegal tersebut," ungkap warga yang identitasnya minta dirahasiakan.

Disebutkan, aktivita pengoplosan BBM dan transit CPO ilegal tersebut di dilakukan pada malam hari. Kegiatannyapun tak berlangsung lama, hanya sekitar dua jam saja. CPO dan BBM yang dibawa dari laut menggunakan boat ikan. Kemudian dimuat kedalam mobil tangki yang sudah disediakan. Setelah mobil tangki terisi penuh oleh CPO atau BBM, mobil tersebut berangkat ke KIM (Kawasan Industri Medan) dan kawasan Hamparan Perak untuk dijual kepada pengusaha," jelasnya kepada wartawan


Hal senada juga diungkapkan warga lain. Menurut salah seorang warga nelayan di Kampung Nelayan, kalau sudah melakukan aktivitas, suara berisik dari sebuah mesin penghisap BBM pada malam hari pun terdengar kuat. "Suara yang dikeluarkan dari mesin penghisap yang akan di isi CPO dan BBM illegal nyaring ditelinga. Bahkan kalau sudah masuk mobil tangki yang membawa CPO dan BBM illegal ini saya tidak bisa tidur karena suara berisiknya," tukasnya.


Dia mengakui, kegiatan tersebut sudah sempat terhenti beberapa minggu yang lalu. "Saya tidak tahu pasti mengapa kegiatan tersebut sempat berhenti. Tapi saya pun semakin tidak mengerti kenapa kegiatan tersebut kembali marak. Kami harapkan kepada aparat penegak hukum agar menutup lokasi pengoplos BBM ilegal yang berada di daerah ini," jelas Jongker.

Sementara itu, Ketua Umum Lembaga Pengawas Peredaran Minyak dan Gas (LP2 Migas), Drs Siswo Suparno SH yang dihubungi di Jakarta melalui telepon seluler mengatakan terjadinya aksi penyelewengan BBM jenis minyak tanah untuk kebutuhan masyarakat ini tidak terlepas akibat adanya kelalain dari pihak penegak hukum dan pengawsan pihak PT Pertamina.di lapangan

"Ada indikasi bahwa pengoplosan ini sengaja dibiarkan oleh oknum-oknum tertentu untuk meraih keuntungan secara pribadi dan kelompok. Jika jajaran penegak hukum tidak segera melakukan tindakan yang nyata dilapangan terhadap oknum-oknum yang mencoba melakukan penyelewengan minyak tanah ini, maka dipastikan tidak lama lagi kelangkaan BBM akan terus berlangsung yang membuat sengsara rakyat," ujarnya.

Untuk itu, kita mendesak kepada Kapolda Sumut beserta jajarannya agar dapat menyikapi keluhan-keluhan dari masyarakat. Selain itu di satu sisi, kita juga mendesak agar PT Pertamina UPms I Medan agar dapat bertindak secara tegas dengan mem PHU (Pemutusan Hubungan Usaha) bagi pelaku mulai dari agen hingga ke pemilik pangkalan yang terbukti telah menyelewengkan minyak dari peruntukannya. "Kebutuhan minyakbersubsidi bagi masyarakat pengguna, baik rumah tangga, usaha kecil menengah (UKM) dan nelayanharus tetap diutamakan," tukasnya. (tar)

MENKEU TETAPKAN ALOKASI DAK 2009 RP24.819.588.800.000

Jakarta, 7/1/2009 (Msi) –
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menetapkan pengalokasian Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk tahun anggaran 2009 sebesar Rp24.819.588.800.000.
Penetapan alokasi DAK tersebut diputuskan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.171.1/PMK.07/2008 tentang Penetapan Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2009.
Dalam salinan PMK tersebut yang diterima di Jakarta, Rabu (7/1) disebutkan bahwa alokasi DAK 2009 ditujukan untuk 13 bidang, diantaranya, pertama bidang pendididkan sebesar Rp9.334.882.000.000.
Kedua, bidang kesehatan sebesar Rp4.017.370.000.000. Alokasi DAK untuk bidang kesehatan ini ditujukan guna meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak.
Ketiga, DAK bidang infrastruktur jalan yang dialokasikan untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan prasarana jalan sehingga dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi regional.
Besaran anggaran DAK untuk bidang ini Rp4.500.916.800.000.
Keempat, bidang infratruktur irigasi sebesar Rp1.548.980.000.000 yang ditujukan untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan prasarana sistem irigasi dalam rangka mendukung program peningkatan ketahanan pangan.
Kelima, bidang infratsruktur air minum dan sanitasi Rp1.142.290.000.000 yang ditujukan untuk meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan air minum serta penyehatan lingkungan demi kesehatan masyarakat.
Keenam, bidang pertanian sebesar Rp1.492.170.000.000 yang digunakan untuk meningkatkan sarana dan prasaranan pertanian di tingkat usaha tani, dalam rangka meningkatkan produksi guna mendukung ketahanan pangan.
Untuk kesembilan bidang lainnya yang mendapatkan alokasi DAK adalah, kelautan dan perikanan Rp1.100.360.000.000, prasarana pemerintahan Rp562.000.000.000, lingkungan hidup Rp351.610.000.000, keluarga berencana Rp329.010.000.000.
Juga bidang kehutanan Rp100.000.000.000, sarana dan prasarana perdesaan Rp190.000.000.000 serta perdagangan sebesar Rp150.000.000.000.
Untuk penyaluran DAK, dilakukan dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah. Pemindahbukuan tersebut harus sesuai dengan PMK tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah.
DAK adalah dana yang dialokasikan pemerintah pusat untuk membantu daerah dalam mendanai kebutuhan fisik dalam bidang-bidang seperti yang disebutkan di atas.(lnt)

Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk triwulan IV 2009 Rp 56,8 M Dana BOS Cair Hari Ini





KOTA JAMBI (MSI)- Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk triwulan IV 2009, hari ini (20/10), mulai dapat dicairkan sekolah se-Provinsi Jambi. Pencairan dilakukan di Kantor Pos. Manajer Operasional Kantor Pos Jambi Akhmad Sumaryadi mengatakan, sejak dana BOS tahap I, pihaknya telah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Provinsi Jambi.
Ia mengatakan, mereka telah menjadwalkan 20 Oktober untuk pencairan bantuan operasional itu. Tapi pencairan bisa dilakukan tidak sekaligus. Jadi tergantung sekolah dan bisa bertahap.
Sebanyak Rp 56,8 miliar lebih dana BOS tahun ini akan disalurkan ke sekolah-sekolah di Provinsi Jambi. Kantor Pos melansir, pada periode Oktober-Desember, dari jumlah itu, Rp 39,922 miliar lebih untuk 2.348 SD, dengan jumlah siswa 403.775.
Sementara untuk SMP sebanyak 577 sekolah se-Provinsi Jambi. Total dana Rp 16.685.306.250. “Jadi nanti pencairan dilakukan di kantor pos yang terdekat dari sekolah masing-masing,” terang pria berkumis itu.
Tahun ini terjadi peningkatan anggaran dana BOS dari tahun lalu. Dari surat Mendiknas kepada kepala daerah tertanggal 2 Desember 2008 lalu, kenaikan rata-rata 50 persen dari tahun anggaran 2008. Tahun ini BOS untuk SD negeri dan swasta di kabupaten sebesar Rp 397 ribu per siswa per tahun. Adapun di kota Rp 400 ribu per siswa per tahun. Sedangkan untuk SMP di kabupaaten juga lebih kecil dibanding di kota, masing-masing Rp 570 ribu dan Rp 575 ribu per siswa per tahun.
Lebih jauh Sumaryadi menguraikan persyaratan agar sekolah bisa mengambil dana tersebut. Dana BOS diambil kepala sekolah (kepsek) yang bersangkutan. Itu dilakukan dengan menunjukkan SK asli kepsek yang ditetapkan Dinas Pendidikan serta memberikan kopiannya.
“Termasuk agar menunjukkan identitas diri, termasuk kopiannya. Mereka juga harus menyerahkan asli MoU kepsek dan diknas kota/kabupaten dan membawa cap sekolah,” papar Sumaryadi.
Khsusus di Kantor Pos Besar Jambi, hari ini untuk SD, lalu hari kedua SMP. “Sedangkan hari ketiga untuk sejumlah sekolah dari Muarojambi, yaitu dari Sungaigelam, Kumpeh Ulu, dan Marosebo,” katanya.(Int)