Showing posts with label ISU DUNIA. Show all posts
Showing posts with label ISU DUNIA. Show all posts

Sunday, August 26, 2012

300 Hektar Lahan Terbakar di Muarojambi


Gubernur HBA bersama Bupati Muarojambi Burhanuddin Mahir memadamkan api di Desa Arang-arang.(F:Humas)
Gubernur HBA bersama Bupati Muarojambi Burhanuddin Mahir memadamkan api di Desa Arang-arang.

















JAMBI – Sedikitnya 300 hektar lahan dan hutan di Kabupaten Muarojambi terbakar dalam waktu beberapa bulan terakhir. "Di Muarojambi ini merupakan salah satu lahan terluas yang terbakar. 300 hektar. Tempat lainnya yang banyak terbakar di kawasan konservasi hutan di Taman Nasional Berbak (TNB) dan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD)," ujar Trisiswo Raharjo, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi di sela-sela kegiatan gubernur meninjau lokasi kebakaran lahan di Desa Arang Arang, Kecamatan Kumpe Ulu, Muarojambi, kemarin. Menurut Trisiswo, kawasan yang terbakar di Desa Arang Arang sebagian besar merupakan lahan gambut yang terletak di areal penggunaan lain (APL). "Kebakaran ini terdeteksi sejak 13 Agustus 2012 lalu. Namun, tim Manggala Agni sudah kami siagakan sejak Juli lalu," kata Trisiswo.

Kata Trisiswo, saat ini pihaknya telah menempatkan sekitar 40 orang Manggala Agni di tiap titik kebakaran. Hanya saja, karena kawasan yang terbakar adalah lahan gambut dengan kedalaman antara 1,5 hingga tujuh meter menyebabkan proses pemadaman berlangsung lambat. "Dalam sehari, kami hanya dapat memadamkan api seluas 1,5 hektar. Karena posisi api berada di kedalaman tanah gambut, ini yang menjadikan kami kesulitan," ujarnya lagi.

Sementara itu, Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus mengatakan, pihaknya telah membentuk tim khusus penanganan kebakaran dan asap di Provinsi Jambi. Tim tersebut terdiri dari berbagai instansi terkait seperti, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, Dinas Sosial Tenaga Kerja (Dinsosnaker), Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Jambi.

"Kami dari Pemprov Jambi sudah melayangkan surat kepada pemerintah kabupaten/kota untuk serius ikut membantu penanganan kebakaran ini. Kami juga akan mengusulkan bantuan kepada pemerintah pusat untuk hujan buatan," katanya.

Tuesday, August 7, 2012

Warga Punden Rejo dan Sumber Rejo Mengeluh, Pembangunan Sumur Bor Tak Berfungsi

LUBUK PAKAM - Proyek pembangunan sumur bor oleh Dinas Cipta Karya di 2 Desa yakni Desa Sumber Rejo  Kecamatan Pagar Merbau dan Desa Punden Rejo Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang, sudah selesai pengerjaannya setahun silam. Namun, sampai dengan saat ini warga setempat masih menyimpan tanda tanya besar, untuk apa proyek itu dibangun dengan menyerap dana ratusan juta rupiah, jika hanya berfungsi sebagai pajangan, tanpa bisa difungsikan.

Warga Desa Punden Rejo Kecamatan Tanjung Morawa, bahkan masih menggunakan sumur galian yang mereka buat sendiri, meski airnya sangat kuning dan tidak layak dikonsumsi."sudah hampir setahun pembangunan sumur bor di desa kami selesai dibuat, tetapi sampai kini kami tidak mengerti apa fungsinya, toh sampai saat ini keluargaku masih cuci beras pakai air sumur di rumah yang kuning pekat,"ujar R Br Sitompul, ketika ditemui wartawan, selasa (7/8/2012).

Hal serupa juga diakui warga Sumber Rejo Kecamatan Pagar Merbau, yang menyebutkan bahwa sampai dengan saat ini dirinya harus membeli air untuk minum sehari-hari, dari depot air isi ulang. Sebab, air sumur di rumahnya tidak layak dikonsumsi."yang jelas sampai dengan saat ini kami masih harus mengeluarkan uang Rp 3.000/galon untuk air minum, air sumur kami manalah bisa dimunum, kuningnya minta ampun. Awak pikir dengan adanya pembangunan sumur bor, udah bisalah mengurangi pengeluaran beli air isi ulang, rupanya sama saja, nggak bisa digunakan juga,"bilang Sumi, warga sumber Rejo.

Pantauan awak media di setipa lokasi pembangunan proyek sumur bor tersebut, terdapat bangunan  dengan ukuran bangunan sekitar 1,5 m x 1,5 m. Bangunan tersebut sudah kokoh berdiri, di dindingnya juga sudah terpasang meteran listrik. Namun, keberadaannya masih belum bisa dirasakan masyarakat.

Sementara, sampai dengan berita ini disampaikan, Kadis Cipta Karya dan Pertambangan, Abdul Haris juga belum berhasil dikonfirmasi. Ketika akan diwawancarai di ruang kerjannya, seorang staf di dinas tersebut mengaku pimpinannya sedang tidak berada di tempat.

Friday, July 6, 2012

Statement
Hari Air Dunia 2012

HENTIKAN PERAMPASAN DAN EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM
TEGAKKAN KEDAULATAN AIR, PANGAN DAN ENERGI

Stop Privatisasi Dan Komersialisasi Air

Hari Air Dunia  diadakan setiap tahun pada 22 Maret sebagai sarana untuk memfokuskan perhatian semua kalangan, terutama pemerintah akan pentingnya air dan pengelolaannya yang berkeadilan. Hak atas Air juga telah ditetapkan sebagai Hak Asasi Manusia dalam Rapat Umum PBB, 28 Juli 2010, dan Republik Indonesia merupakan salah satu Negara yang mendukung.
Hari Air Dunia pertama kali direkomendasikan PBB pada Konferensi tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED), 1992 di Rio de Jenero, Brazil. Majelis Umum PBB menanggapinya dengan menetapkan  22 Maret 1993 sebagai Hari Air Dunia pertama.
The World is Thirsty Because We are Hungry merupakan tagline yang di pilih dalam peringatan Hari Air Dunia 2012 kali ini - seolah mengajak kita semua: seluruh tumpah darah Indonesia, untuk kembali menginsyafi hakikat pendirian republik ini, juga membuka mata; betapa negeri yang kaya raya akan sumberdaya alam ini telah berada dalam jurang pemisah antara sebagian kecil golongan yang menikmatinya dengan membeli dan sebagian besar rakyat Indonesia yang terabaikan Hak-Hak Asasi, serta juga Hak Konstitusinya. Air, Pangan, Energi dan kebutuhan vital lainnya telah menjadi hak eksklusif, yang hanya bisa diakses dengan membeli.  Air dan Pangan berlimpah di pasar, tapi tidak di rumah.
Disaat Indonesia masih impor pangan, lahan pertanian beririgasi teknis yang tidak lebih dari 30% itu, dibiarkan rusak, tercemar maupun dirampas atau dialih fungsikan. Gerakan masyarakat untuk menuntut dan melindungi lahan pertaniannya justru diabaikan dan dihadapi dengan kekerasan seperti di Bima, Mesuji Lampung dan Bulukumba. Sebagai gantinya pemerintah mempromosikan pertanian skala luas untuk perusahaan swasta-asing masuk ke Indonesia melalui skema Food Estate. Kebijakan yang kontra kedaulatan inilah yang menyebabkan berbagai pemonopoli pangan dunia seperti Monsanto, bebas masuk merusak sistem pertanian rakyat.
Hal ini bisa terjadi karena salah urus, salah orientasi dan abainya pemegang kekuasaan. Konstitusi dilanggar. Dalam setiap konflik perebutan sumberdaya antara rakyat dengan korporasi; pemerintah selalu memihak korporasi, ‘demi keamanan investasi’ yang telah menjadi arti baru dari defenisi Kemanan Nasional yang salah kaprah.
Upaya pencarian untung ala kapitalisme telah beranjak ke arah komodifikasi hampir semua aspek kemanusiaan dan alam, termasuk pangan dan energi. Seiring dengan akselerasi krisis, dimana semua sumber daya alam –yang melimpah di bumi Indonesia— telah dijadikan sebagai subjek rencana pembagian keuntungan diantara imperialis; bahkan air sebagai elemen paling dasar bagi keberlangsungan seluruh mahluk hidup termasuk manusia, telah dimasukkan kedalam daftar komoditas. Hal ini terefleksi dengan jelas dalam BUMN – Nasional Summit, dimana semua sektor vital telah diobral bebas bagi para pencari keuntungan tanpa perlindungan dari Negara.
DANONE, PALYJA-SUEZ, MONSANTO merupakan sebagian kecil dari contoh kuatnya pengaruh korporasi asing di Indonesia, sekaligus menunjukkan betapa lemahnya perlindungan hak warga oleh Negara.
Meski terus menimbulkan kerusakan lingkungan dan ditolak oleh masyarakat lokal, DANONE tetap bebas beroperasi sebagai perusahaan tertutup yang memperdagangkan AIR yang merupakan barang publik.
PALYJA (dan AETRA) yang tanpa proses lelang, dengan mudah mendapatkan kontrak konsesi layanan air di DKI Jakarta selama 25 tahun; gagal disemua target kontrak; menggelapkan aset publik, mencekik warga Jakarta dengan tariff selangit,  pun pemerintah tidak juga berbuat apa – apa. Bahkan, SUEZ – perusahaan induk PALYJA asal Perancis lebih didengar oleh pemerintah RI.
Singkatnya, sejak tunduk pada tekanan Bank Dunia lewat utang WATSAL yang memanipulasi konsepsi IWRM (Integrated Water Resources Management / Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu) yang berasal dari Dublin Principles; dimana maksimalisasi fungsi ekonomi air menjadi indikator utamanya, pemerintah telah menjerumuskan rakyat Indonesia pada pasar air. Untuk kepentingan ini, pembuatan UU no. 7/2004 pun tidak lepas dari intervensi kepentingan World Bank dan ADB. akhirnya Indonesia dipaksa menyatakan diri sebagai Negara yang mengalami krisis air dan berlakulah hukum besi pasar; supply terbatas dan demand yang tinggi. Air menjadi domain investasi dan modal, tidak lagi dianggap sektor vital yang mesti diproteksi.
Maka, pemerintahan yang seperti ini; mulai dari tingkat daerah hingga pusat (nasional), jika tidak segera kembali kepada mandat Konstitusi UUD 1945 dan membatalkan semua proyek – proyek privatisasi, komersialisasi dan komodifikasi kekayaan alam Indonesia, sudah selayaknya untuk turun atau diturunkan!

Indonesia, 22 maret 2012
TEGAKKAN KEDAULATAN AIR, PANGAN DAN ENERGI

Gerakan Rakyat Untuk Kedaulatan Indonesia
SPI – API – JRMK – KRuHA – WALHI – KIARA – KAU - LBH Jakarta - Solidaritas Perempuan – ICW –FPPI – UPC - Jakarta Bergerak - Green Student Movement – IHCS
Daerah Resapan Air Harus Dijaga
Berbagai Kegiatan Warnai Hari Air
 Selasa, 24/04/2012 
Daerah Resapan Air Harus Dijaga
Berbagai kegiatan digelar dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia (HAS). Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumbar dan dewan air gelar kegiatan peringatan Hari Air Sedunia (HAS).

Dalam peringatan serentak oleh badan ketahanan pangan PBB, FAO tahun 2012 ini diangkat tema, air dan ketahanan pangan. Di Sumbar berbagai kegiatan juga digelar, di antaranya semiloka dan talk show, mulai 21-24 April. Rangkaian kegiatan kampanye peduli air dilaksanakan melalui kegiatan lomba mewarnai tingkat SD, SMP dan SMA di Kantor PSDA Sumbar dan pemasangan baliho.

"Untuk menjaga air kita juga harus menjaga tempat resapan air," kata Yultekhnil, Ketua DPRD Provinsi Sumbar dalam seminar peringatan HAS, di Pangeran Beach Hotel, Selasa (24).

Dalam Seminar itu Yultekhnil mengingatkan bahwa air merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi kehidupan manusia, tanpa air manusia tidak akan bisa hidup karena air fungsi yang terpenting bagi seluruh kehidupan manusia seutuhnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ditjen, Sumber Daya Air dan pemakalah Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Dewan Sumber Daya Air, Tim Koordinasi PSDA dan PSI Unand.(*)

Tuesday, July 3, 2012

Pengerukan Sungai Belawan abaikan lingkungan

Selasa, 3 Juli 2012 s
Medan - Pengamat Lingkungan dari Universitas Sumatera Utara, Jaya Arjuna, menilai proyek pengerukan Sungai Belawan di wilayah utara Kota Medan selama ini mengabaikan aspek kelestarian lingkungan karena dikerjakan tanpa melalui koordinasi terpadu dengan pihak terkait.

"Lumpur dari hasil pengerukan alur Sungai Belawan selama ini ditimbun di sekitar Muara Sungai Deli," katanya di Medan, Selasa.

Pengerukan alur Sungai Belawan selama ini didanai oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I untuk memperlancar arus pelayaran di Pelabuhan Belawan.

Namun lumpur hasil pengorekan alur Sungai Belawan tersebut tidak ditimbun di lokasi yang tepat dari aspek lingkungan, melainkan dominan ditimbun di sekitar bantaran muara Sungai Deli.

Kekeliruan dalam memposisikan lokasi penimbunan lumpur Sungai Belawan, lanjut dia, mengakibatkan terjadinya pendangkalan di muara Sungai Deli dan banjir di sejumlah titik pemukiman penduduk di sekitarnya.

Jaya menambahkan, kondisi pendangkalan kawasan muara Sungai Deli diperparah lagi dengan endapan limbah yang berasal dari hasil penyaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi di Kecamatan Medan Marelan.

"Masalah pendangkalan muara Sungai Belawan seharusnya tidak perlu terjadi bila PT Pelindo I, PDAM Tirtanadi dan instansi terkait lainnya sejak awal melakukan koordinasi terpadu," ujarnya.

Intake Sejinjang tak Bisa Beroperasi


Debit Air Turun
Gubernur saat meninjau fasilitas IPA Tanjungsari baru-baru ini.(F:dok)
Gubernur saat meninjau fasilitas IPA Tanjungsari baru-baru ini.
KOTAJAMBI - Reservoar Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM TM) Kota Jambi di kawasan Tanjung Sari Jambi Timur yang dalam pengujian  pihak PDAM beberapa waktu lalu mengalami kebocoran, sudah diperbaiki. Perbaikan dilakukan Dinas PU melalui rekanan. Meski sudah diperbaiki, namun PDAM TM belum bisa melakukan pengetesan kembali atas reservoar tersebut.

Disampaikan Direktur Teknis PDAM TM, Fathul Hadi, pengetesan terhadap reservoar belum bisa dilakukan karena turunnya air permukaan Sungai Batanghari. ‘’Tes belum bisa dilakukan karena suplai air belum bisa masuk ke reservoar,” ungkap Fathul. Dijelaskannya, dengan kondisi air Sungai Batanghari yang rendah, intake Sijenjang yang mensuplai air ke reservoar tidak bisa beroperasi. Karena debit air berada di bawah sehingga tak bisa melakukan penyedotan. Dia belum bisa memastikan kapan ujicoba bisa dilakukan.

‘’Tergantung kondisi alam, kalau sungai masih seperti saat ini air tak bisa masuk ke intake,” sebutnya. Dimana saat ini ketinggian air sekitar 1,80 sampai 2 meter. Sedangkan untuk normal dibutuhkan ketinggian air 3 meter supaya air bisa masuk ke intake dan bisa disedot untuk dialirkan ke IPA Tanjung Sari dan setelah itu baru ke reservoar.

Ada solusi lain untuk mengoperasikan intake Sejinjang sehingga bisa mensuplai air ke reservoir, yaitu dengan cara membuat lubang pada besi penahan lumpur di landasan sungai supaya air bisa masuk. Namun untuk pekerjaan pembangunan intake ditenderkan oleh PU Provinsi melalui Sumber Daya Air Balai Sungai Sumatera VI. Sedangkan PDAM hanya sebatas mengusulkan supaya intake bisa beroperasi. Solusi tersebut sudah disampaikan, tapi apakah sudah dilaksanakan atau tidak, pihak PDAM belum mengetahuinya.

‘’Sudah kita komunikasikan, tapi belum dikontrol apakah sudah dilaksanakan atau tidak,” sebutnya. Apakah dengan pembuatan lubang pada dinding tersebut tidak membuat lumpur akan masuk? Fathul menyebutkan tidak. ‘’Karena lubang yang dibuat berada di atas sedangkan lumpur berada di bawah,’’ ujarnya. Terkait nantinya bila pengetesan reservoar sudah dilakukan dan masih terjadi rembesan, Fathul mengatakan PDAM tak akan menerima serah terima reservoar tersebut karena akan membebani PDAM. ‘’Kita mau terima dalam kondisi baik, kalau masih merembes akan jadi beban PDAM, sedangkan kita tak memiliki anggaran renovasi. Tapi kalau sudah baik kita akan terima, selanjutnya ada kebocoran sudah menjadi resiko PDAM,” pungkasnya.

Sunday, July 1, 2012

 Puncak Peringatan Hari Air Dunia 2012
22 Mei 2012

 

Peringatan Hari Air Dunia merupakan suatu momentum yang sangat tepat untuk merenungkan segala perilaku kita terhadap air dan sumber-sumbernya, serta untuk berkomitmen dalam memulihkan dan melestarikan air dan sumber-sumbernya, agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dengan baik.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto dalam acara Puncak Peringatan Hari Air Dunia XX tahun 2012 di Situ Cipule, Kabupaten Karawang, Jawa Barat (12/5). Hadir pula diantaranya Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air (SDA), Muhammad Hasan, Inspektur Jenderal Kementerian PU, Basoeki Hadimoeldjono, Dirjen Sarana dan Prasarana Kementerian Pertanian, Sumarjo Gatot Irianto, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Aktivis Erna Witoelar dan sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian PU.
Sesuai dengan tema Hari Air Dunia XX yaitu Ketahanan Air dan Pangan, Djoko mengungkapkan bahwa salah satu permasalahan terkait ketersediaan air di Indonesia adalah masih rendahnya tampungan air per kapita di negara kita. Dari 700 triliun m³ potensi air di Indonesia, baru 200 miliar m3 atau kurang lebih 52,3 m3 per kapita yang dapat dikendalikan melalui 284 waduk di Indonesia.
Sedangkan total produksi padi yang dibutuhkan pada tahun 2014 adalah sebesar ± 78 juta ton gabah kering giling (GKG). Hal ini didasarkan oleh peningkatan kebutuhan beras nasional dan kebutuhan surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014 sesuai arahan Presiden RI.
“Berbicara tentang peningkatan produksi padi dari sudut pandang Kementerian PU adalah ekuivalen dengan bagaimana menjaga dan meningkatkan luas areal tanam pada tahun 2014”,Ir. Djoko Kirmanto, Dipl. HE. Berdasarkan data BPS tahun 2010, Indonesia memiliki total areal sawah seluas 9.45 juta Ha.
Sebagian besar diantaranya merupakan persawahan beririgasi (7,23 juta Ha; 76%), persawahan rawa pasang surut (488 ribu Ha; 5%), persawahan rawa lebak (172 ribu Ha; 2%), dan irigasi air tanah (92 ribu Ha; 1%). Selebihnya berupa sawah tadah hujan, sawah irigasi desa, dan ladang (1,473,810 Ha; 16%).
“Dari produksi padi nasional 2010 sebesar 66,5 juta ton, dengan luas panen sebesar 12,8 juta Ha dan produktivitas rata – rata nasional sebesar 4,6 ton/Ha diketahui bahwa persawahan beririgasi masih merupakan kontributor dominan sebesar kurang lebih 85 persen, sehingga perlu dijaga keberlanjutannya dalam rangka menjaga ketahanan pangan nasional”, jelas Djoko.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Pelaksana Panitia Nasional Peringatan HAD XX Tahun 2012, Sugiyanto menjelaskan bahwa penyelenggaraan Hari Air Dunia ke-20 tahun ini selain dilaksanakan di pusat, juga tercatat 19 provinsi yang menyelenggarakan Peringatan Hari Air Dunia di daerah.
Berbagai agenda Panitia Nasional yang telah dilaksanakan mulai Maret hingga Mei 2012 diantaranya Publikasi, Seminar Nasional dan Lokakarya, Kampanye Peduli Air, Gerakan Masyarakat seperti Aksi Donor Darah, Gerakan Bersih Sungai Ciliwung, Penanaman Mangrove, Gerakan Pembersihan Saluran Irigasi Tersier, Pameran Hari Air Dunia, dan lain sebagainya.
“Melalui kegiatan hari ini, diharapkan bahwa semua pihak terinspirasi, serta berkomitmen untuk melakukan tindak menghemat pemanfaatan air, dan memulihkan kondisi sumber daya air dan daerah tangkapan air yang telah mengalami degradasi fungsi dan daya dukungnya dalam rangka meningkatkan ketahanan air guna mendukung ketahanan pangan secara berkelanjutan”, jelas Sugiyanto. Dalam acara ini juga dilaksanakan demo Sistem Irigasi Tetes dan Sprinkler, Panen Padi, Tanam Pohon dan Tabur Benih Ikan, serta Gelar Tanaman Pangan. (siaran pers PU/eko)

Hari Air Sedunia: Tantangan Makin Besar

11 persen penduduk dunia atau 783 jiwa belum mendapatkan akses ke air minum yang aman.



VIVAnews -- Sudah 20 tahun peringatan Hari Air Sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret. Selama itulah disadari bahwa mengatasi masalah air menjadi tantangan yang tak kunjung usai.

Dalam peringatan tahun ini, PBB menyebut, masih ada 11 persen penduduk dunia atau 783 jiwa yang belum mendapatkan akses ke air minum yang aman. Dalam jumlah lebih besar, 2,5 miliar penduduk bumi, tidak memiliki fasilitas sanitasi yang baik.

Tantangan ke depan pun makin besar: menyediakan air bersih untuk rakyat miskin, bagaimana memberi makan bagi manusia yang jumlahnya meningkat dari 7 miliar menjadi 9 miliar jiwa di tahun 2050, belum lagi tantangan pemanasan global.

"Tekanan kebutuhan air makin besar, dari ekspansi pertanian untuk memenuhi kebutuhan makanan dan konsumsi energi, juga lemahnya manajemen air," kata Sekretaris Jenderal Ban Ki Moon dalam laporan PBB, seperti dilansir Reuters.

Peringatan Hari Air Sedunia juga diperingati di Jakarta, kota padat yang terus bergelut dengan problematika air, termasuk pencemaran oleh limbah, air tanah yang makin terserap, dan banjir.

Ratusan orang dari berbagai elemen berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia. Melakukan aksi damai, memancing kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk peduli dan melestarikan sumber daya air.

"Di antaranya, meningkatkan kepedulian akan semakin menurunnya kuantitas dan kualitas air yang tersedia dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi dan pelestarian serta perlindungan sumber-sumber air," kata Koordinator aksi yang juga Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Sugianto.

Aksi ini juga bertujuan untuk meningkatkan kerja sama antarbadan-badan pemerintah, lembaga internasional, LSM, dan sektor swasta dalam menjalankan program-program penyelamatan air. Serta meningkatkan pemanfaatan air dan sumber air secara bijaksana.

Sugianto menjelaskan, tema nasional Hari Air Sedunia 2012 adalah "Ketahanan Air dan Pangan". Ketahanan pangan erat kaitannya pada keberlanjutan sistem irigasi. Keberlanjutan dan pengelolaan irigasi menjadi suatu hal yang dominan untuk mencapai peningkatan produksi.

"Dengan target surplus 10 juta ton beras pada tahun 2014, memerlukan peningkatan produksi padi minimal 7 persen per tahun mulai tahun  2011," kata dia.

Menurutnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia memiliki total areal sawah seluas 9,45 juta ha. Sebagian besar di antaranya atau 7,23 juta ha merupakan sawah beririgrasi yang memberikan sumbangan terhadap 85 persen produk padi nasional 2009 dan 2010. Sisanya adalah sawah rawa pasang surut seluas 488,852 ha, sawah rawa lebak 171,994 ha, Jaringan Irigasi Air Tanah 92,090 ha, dan areal lainnya seperti sawah tadah hujan, sawah irigasi desa dan ladang seluas 1,473,810 ha.

"Untuk itu negara perlu merenungkan dan menghayati arti pentingnya air sebagai sumber kehidupan. Serta bersama-sama mengamankan upaya-upaya yang arif dan bijaksana untuk mendayagunakan, melestarikan, dan mengamankan sumber daya air yang merupakan milik bersama," kata Sugianto

Refleksi Hari Air Sedunia 2012 (3): Stop Penjajahan Atas Air

 

1332386053120402659
Slogan Hari Air Sedunia
Dalam sebuah acara diskusi kelompok terarah dengan para perwakilan warga masyarakat yang berasal dari 10 Desa/Kelurahan/Kampung di sekitar Cicurug dan Cidahu Kabupaten Sukabumi, salah satu warga bercerita :
”Saat ini kami kesulitan air, Pak. Air sumur semakin dalam. Air Sungai juga menyusut. Sawah kami juga sulit dialiri air kecuali harus memakai mesin pemompa. Ini karena pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang sudah menyedot air tanah demikian banyak. Pipa-pipa air mereka yang besar untuk kebutuhann pabrik membuat jatah air kami semakin berkurang.”
Ya, itulah kondisi saat ini dari masyarakat pengguna air di desa yang letaknya di Kaki Gunung Salak Kabupaten Sukabumi. Di dua kecamatan tersebut beroperasi 20 perusahaan AMDK. Faktanya, masyarakat yang tinggal di dekat sumber air pun, saat ini mulai kesulitan mengakses air bersih. Mereka seolah ’terjajah’ oleh perusahaan AMDK yang dengan peralatan canggihnya mampu mengambil air langsung dari sumbernya.
”Kami sempat rebutan dan konflik antar dusun gara-gara rebutan jatah, sampai-sampai pipa air ada yang dipotong dan dialihkan. Seperti perang saja, Pak.”
Demikian salah satu warga dari salah satu desa menegaskan kondisi yang memprihatinkan atas perebutan sumber air ini.
Penjajahan tak selalu berhubungan dengan ideologi, penjajahan juga menimpa sumberdaya ir.
Air adalah barang publik yang kini menjadi rebutan yang berujung konflik. Konflik skala Negara terjadi pada pejajahan Israel atas Palestina. Israel dengan program perluasan pemukiman yahudi, tak hanya merampas tanah rakyat palestina. Israel juga telah menutup akses warga palestina terhadap sumber air.
Republika online mengabarkan bahwa pembangunan pemukiman yahudi di atas tanah palestina membuat pasokan air tanah Palestina di Tepi Barat kritis dan mengkhawatirkan. Sumber air yang tersisa berjumlah 26 buah teracam dikuasai dan dirampas para pemukim Israel sebagai akibat kunjungan dan patroli rutin yang Israel lakukan. Menurut laporan Hareetz, sebagian sumber air berada di Dewan Daerah Mateh Binyamin. (Baca : Israel Rampas Puluhan Sumber Air Palestina)
Delapan mata air yang sepenuhnya diisi permukiman Israel, pemasangan pagar dan pencaplokan oleh pemukiman Yahudi telah digunakan guna menghalangi orang Palestina memperoleh akses ke air bersih.
Terjadi dampak ekonomi atas berkurangnya akses ke mata air. “Hilangnya akses ke mata air dan tanah yang berdampingan dengannya mengurangi penghasilan petani yang terpengaruh, yang dipaksa berhenti mengolah tanah atau menghadapi kekurangan produksi tanaman mereka,” kata laporan itu.
“Penjajahan” atas sumberdaya air sama artinya dengan penjajahan atas hak hidup manusia. Tanpa air akses terhadap kebutuhan dasar akan tertutup. Sektor pertaniaan yang input produksinya memerlukan air akan mati. Padahal air adalah barang publik yang siapapun berhak atasnya.
Hari ini, 22 Maret 21012 dunia memperingati Hari Air Sedunia yang sudah dicanangkan sejak tahun 1993. Dengan slogan “Water and Food Security” masyarakat diingatkan untuk memelihara ketahanan air demi kelangsungan kebutuhan pangan. Tanpa air pangan akan musnah. Perserikatanan Bangsa-bangsa (PBB) melalui UN-Water mengajak masyarakat dunia untuk mengkampanyekan slogan “Water and Food Security” mengingat semakin langkanya sumberdaya air yang layak konsumsi dan tekanan yang makin kuat terhadap air. Tindakan kecil seperti tidak membuang atau memboroskan makanan, diet sehat, mengkonsumsi makanan yang bergizi yang diproduksi dengan hemat air serta tindakan kecil yang bisa berdampak pada ketahanan ai dan pangan.
Selamat Hari Air Sedunia 2012. Hemat air untuk menyelamatkan pangan. Stop penjajahan atas air dengan memberi ruang yang adil bagi masyarakat.
Salam lestari.

Apa itu Hari Air Dunia?

Rabu, 21 Maret 2012

Hari Air Dunia digelar setiap tanggal 22 Maret, sebagai wadah untuk menyatukan fokus perhatian dunia kepada peran penting tersedianya air bersih dan mengupayakan tata kelola sumber daya air segar yang berkelanjutan.


Jakarta (ANTARA News) - Besok adalah Hari Air Dunia (HAD) atau World Water Day. Namun, apakah gerangan Hari Air Dunia itu sebenarnya?
Hari Air Dunia digelar setiap tanggal 22 Maret, sebagai wadah untuk menyatukan fokus perhatian dunia kepada peran penting tersedianya air bersih dan mengupayakan tata kelola sumber daya air segar yang berkelanjutan.

22 Maret dipilih sebagai satu hari dari satu tahun untuk merayakan ketersediaan air segar, sebagaimana direkomendasikan oleh Konverensi PBB tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan (UNCED).

Peringatan Hari Air Dunia pertama kali diselenggarakan pada 22 Maret 1993, ketika Sidang Umum PBB merestui program ini.

Sejak 1993, berbagai tema telah diangkat pada peringatan Hari Air Dunia:

1994 -- Peduli sumber daya air adalah tanggungjawab kita semua
1995 -- Air dan Perempuan
1996 -- Air untuk kota-kota yang haus
1997 -- Air dunia
1998 -- Air tanah -- sumber daya yang tak terlihat
1999 -- Semua orang tinggal di hilir
2000 -- Air untuk abad 21
2001 -- Air untuk kesehatan
2002 -- Air untuk pembangunan
2003 -- Air untuk masa depan
2004 -- Air dan bencana alam
2005 -- Air untuk kehidupan 2005-2015
2006 -- Air dan budaya
2007 -- Kelangkaan air
2008 -- Tahun internasional sanitasi
2009 -- Perairan lintas batas
2010 -- Kualitas air
2011 -- Air untuk perkotaan
2012 -- Air dan ketahanan pangan

Didukung oleh Ditjen SDA, Kementerian PU
Hari Air Dunia 2012 untuk Indonesia
Setiap tanggal 22 Maret di peringati sebagai Hari Air Dunia dengan tujuan menyatukan pemikiran yang sama dalam satu hari untuk ketersediaan air bersih, segar dan ketersediaannya terus berkelanjutan. Peringatan Hari Air Dunia mulai diperingati pada tanggal 22 Maret 1993 setelah disetujui oleh Sidang Umum PBB atas rekomendasi Konverensi PBB tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan ( UNCED), untuk lebih lengkapnya baca di ketahanan air dan pangan blognya Alamendah :) . Hari Air Dunia 2012 memilih tema Air dan Ketahanan Pangan ” Water and Food Security“. Sepertinya untuk kondisi Indonesia sekarang tema ini sangat cocok sekali, saat musim penghujan air melimpah kemana-mana sampai berita banjir yang menyebabkan gagal panen dan kerusakan lahan pertanian dan tempat tinggal. Sebaliknya disaat kemarau, kekurangan air juga menimbulkan gagal panen dan musim paceklik. Penyebabnya karena air dan serapannya kurang di kelola dengan baik, sayang sekalikan. Mari kita mulai dari lingkungan terkecil masing masing, keluarga kita. Semoga dengan adanya peringatan Hari Air Dunia setiap tahunnya, mereka yang mempunyai kepedulian menyatukan pikiran dan melakukan tindakan nyata serta bisa menggugah masyarakat terlibat langsung untuk menjaga kelangsungan ketersediaan air di Indonesia khususnya dan bumi umumnya. Pada Peringatan Hari Air Dunia 2012 untuk Indonesia ini, ysalma “baru bisa” share sebuah photo yang dianggap cocok dengan tema tahun ini, Air dan Ketahanan Pangan :) .