Saturday, January 30, 2010

SBY RESMIKAN 2 PROYEK DI SUMUT


Rabu, 2010-01-27

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan Fly Over Amplas dan Medan Flood Control senilai Rp1 triliun.Agenda penting itu bersamaan dengan peresmian sejumlah proyek infrastruktur pekerjaan umum di Indonesia, dalam rangka program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II.

Agenda ini dipusatkan di pintu tol Kanci–Pejagan, Jawa Barat, kemarin. Pada kesempatan itu Presiden SBY berdialog langsung dengan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Syamsul Arifin melalui videoconference di Kantor Gubsu dan menanyakan manfaat kedua proyek tersebut. Gubsu Syamsul Arifin tidak sendiri. Dia didampingi Ketua DPRD Sumut HM Saleh Bangun, Wagubsu Gatot Pujonugroho, Sekdaprovsu RE Nainggolan,Wakapoldasu Brigjen Pol Syarifuddin, Kasdam I/BB Brigjen TNI Asman Yusri Yusuf , Pj Walikota Medan Rahudman Harahap.

Lalu, Bupati Sergai T Erry Nuriadi, Wakil Bupati Zainuddin Mars, Kadis Bina Marga Umar Zunaidi, Kepala Balai Sungai Wilayah Sumut II Yani Sulastri. Sebelum berdialog dengan Gubsu Syamsul Arifin, Presiden SBY sempat memberikan sambutan. Dia meminta kepada seluruh pemerintah daerah untuk melakukan perawatan infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah dan pihak swasta. Dengan melakukan pemeliharaan dan perawatan terhadap infrastruktur, seluruh perekonomian di daerah akan semakin maju dan rakyat mendapatkan pelayanan yang lebih baik di masa mendatang. “Dana untuk membangun infrastruktur mahal, diambil dari APBN, uang rakyat, uang negara.

Sebagian dikerjakan oleh swasta agar cukup untuk melakukan pembangunan infrastruktur di masa sekarang dan masa depan. Pesan saya, peliharalah dan jangan cepat rusak,” ujar Presiden SBY. Presiden SBY didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono pagi kemarin melakukan kunjungan kerja ke Cirebon didampingi oleh para menteri terkait. Dalam kunjungan kerjanya ini, Presiden bertolak dari Jakarta dengan menggunakan Kereta Api Luar Biasa Kepresidenan.

Selain proyek infrastruktur di Sumut, Presiden SBY meresmikan proyek Tol Kanci-Pejagan (Jawa Barat-Jawa Tengah), Jalan Layang Oerip Soemohardjo (Sulsel), Waduk Benel (Bali), Jembatan Cilaki (Jawa Barat), Sarana Pembangunan Air Minum IKK (Jawa Barat),Sarana Pembangunan Air Minum IKK (Jateng), Rusunawa (Jabar) dan Rusunawa (Jateng). Pada kesempatan tersebut, Presiden SBY didampingi oleh Menteri PU Djoko Kirmanto, Mensesneg Sudi Silalahi, Menegpora Andi Mallarangeng, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Presiden SBY juga menegaskan, dalam lima tahun mendatang pemerintah akan terus meningkatkan pembangunan seperti yang telah ditetapkan dalam tiga agenda pokok pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II.Ketiga agenda tersebut adalah pembangunan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat di seluruh tanah air, pembangunan demokrasi yang baik dan matang, dan meningkatkan pembangunan agar adil dan merata. “Itulah tekad kita, dan saya meminta kerja sama dari seluruh pemimpin di daerah agar agenda pembangunan itu bisa berjalan dengan baik dan kesejahteraan rakyat bisa kita tingkatkan,” tandasnya.

Di samping tiga agenda besar itu, lanjut Presiden, pemerintah juga telah memprioritaskan tujuh agenda penting yang harus dilakukan oleh seluruh jajaran kepala daerah. Ketujuh prioritas tersebut adalah mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, meningkatkan pendidikan, meningkatkan kesehatan, pembangunan infrasruktur. Lalu, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan menciptakan jajaran pemerintahan dan birokrasi yang responsif, transparan dan bebas korupsi.

Setelah selesai memberikan sambutan, Presiden SBY melanjutkan berdialog dengan Gubsu Syamsul Arifin. Presiden menanyakan soal manfaat proyek di Sumut yang baru saja diresmikannya. Mantan Bupati Langkat itu menyebutkan masyarakat merasakan manfaat pembangunan Fly Over Amplas. Fly over tersebut, kata Gubsu, merupakan jalan menuju ke Pulau Jawa dan Pekan Baru termasuk menuju ke Bandara Kuala Namu. Sebelum dibangun, di kawasan Amplas ini setiap hari pada jam-jam tertentu sering terjadi kemacetan lalulintas. Bahkan pada hari-hari besar, kemacetan bisa memakan waktu hampir dua jam.

“Setelah dioperasikan, kemacetan tidak terjadi lagi. Dan ini menambah indahnya Kota Medan karena adanya taman dan penghijauan,” tukas Gubsu. Begitu juga dengan pengendalian banjir (Medan Flood Control) sangat bermanfaat bagi masyarakat Kota Medan. Sebelum ada bendungan pengendali banjir yang dibangun menggunakan anggaran APBN,APBD Sumut dan bantuan Jepang itu, rumah pribadinya di Kampung Baru juga tak luput dari banjir. Bahkan genangan air hingga mencapai sepinggang orang dewasa. “Sebelum saya menjadi bupati dan gubernur, kawasan di sekitar rumah saya menjadi langganan banjir. Kalau sudah datang banjir bisa mencapai ke sepusat.

Namun setelah dibangun pusat pengendalian banjir di Kota Medan,Alhamdulillah tujuh kecamatan di Kota Medan yang dihuni lebih kurang satu juta penduduk tidak lagi kebanjiran,” jelasnya. Dia juga menyebutkan di kawasan tersebut banyak berdiri pusat industri dan permukiman yang kalau terkena banjir, bisa mengganggu produksi dan ketenagakerjaan. Kepada Presiden SBY, Gubsu Syamsul Arifin juga melaporkan bahwa saat ini pihaknya sedang merencanakan pembangunan Waduk Lau Simeme-Deliserdang. Waduk ini akan berfungsi sebagai peningkatan pengamanan banjir Kota Medan dan sekitarnya.

Dilanjutkan dengan penyediaan air minum Kota Medan berkapasitas 3.000 liter per detik, pembangunan tenaga listrik dengan tenaga air berkekuatan 2.800 KW yang dapat menjadi proyek pariwisata. “Mengenai ini kami mengharapkan ada kucuran dana,” ujarnya. Pembangunan waduk tersebut membutuhkan pembebasan lahan seluas 385 hektare (ha) dengan biaya sebesar Rp60 miliar. Sedangkan biaya pembangunan kontruksi Rp1,6 miliar. Penambahan Rp600 miliar dari pemerintah pusat akan digunakan untuk pembangunan jalan poros tengah dan jalan negara sepanjang 150 kilometer.

Menyinggung soal listrik, Syamsul mengklaim masih terbaik di luar Pulau Jawa walau ada juga pemadaman. Terjadinya pemadaman listrik akibat adanya overhoul di luar jadwal. “Dalam waktu dekat kami akan melakukan peresmian mesin pembangkit listrik di Labuhan Angin dengan kekuatan 115 X 2 mega watt. Sedangkan pada bulan Maret peresmian proyek Pembangkit Listrik Asahan I,” katanya. Menyikapi usulan percepatan pembangunan waduk Lau Simeme Deliserdang, Presiden SBY memintanya tidak perlu khawatir.

Menurutnya, anggaran untuk pembangunan waduk yang memakan anggaran sekitar Rp1,4 triliun itu sudah masuk program Kementerian Pekerjaan Umum. “Pak Syamsul tak usah khawatir dengan pembangunan waduk tersebut. Karena di samping saya ada Menteri PU yang mengaku progress-nya sudah masuk program Kementerian PU,” jelas Presiden SBY. Gubsu Syamsul Arifin mengucapkan terima kasih kepada Presiden SBY yang berkenan meresmikan Fly Over Amplas sepanjang 586 meter senilai Rp124 miliar dan Medan Flood Control (pengamanan banjir kota Medan) senilai Rp818 miliar.

Dengan diresmikannya kedua proyek ini, lalu lintas menuju Kota Medan dan keluar dari Medan ke arah selatan menjadi lancar. Namun untuk mendukung Bandara Kualanamu, diharapkan Jasa Marga membangun ramp-on dan rampoff menuju dan keluar dari gerbang Tol Amplas. Dalam acara itu, Gubsu mengaku pembangunan waduk Lau Simeme sangat vital untuk menghindari ancaman banjir bagi Kota Medan, terutama untuk siklus 40 tahunan dan ketersedian air baku bagi bagi jutaan warga Medan, Binjai, Deli Serdang dan Karo (Mebidang-ro). Menurut Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumut II,Yani Sulastri yang hadir di acara itu, pembangunan waduk yang melingkupi enam desa dalam kawasan enclave (hutan) itu, memang sudah masuk dalam program Kementrian PU.

Namun begitu, soal ketersediaan dana dari loan (bantuan lunak luar negeri), sampai kini masih terus dijajaki.“Bila persoalan loan itu selesai, maka alokasi pembebasan lahan lebih kurang Rp150 miliar sudah siap ditampung di APBN. Sehingga dalam waktu dua sampai tiga tahun, megaproyek itu bisa dirampungkan. Kita berharap secepatnya terealisasi,” ujarnya. Kepala Bappeda Sumut Riadil Akhir Lubis menyebut, realisasi megaproyek itu sudah ditahap grand design yang disesuaikan dengan RUTRW Nasional, dan provinsi (Mebidang-ro), termasuk soal Amdal, rekomendasi SID, serta LARAP (dokumen pembebasan lahan).

Perkembangan pendanaan waduk, diakui Raidil, sebenarnya sudah masuk Blue Book Bappenas. Sehingga langkah berikutnya tinggal mencari loan untuk pendanaan fisik proyek, atau melalui Public Private Partnership (P3). Riadil tak menampik proyek ini sangat multipurpose. Yakni, selain sebagai sarana penjamin ketersediaan air baku, jawaban atas siklus banjir 40 tahunan bagi warga Mebidang-ro, juga sebagai jawaban atas krisis listrik dan masalah ketersediaan air untuk jaringan irigasi. Sebab,secara fisik Waduk Lau Simeme mampu menampung air hingga 33 juta meter kubik, dengan ketinggian air 253 meter di atas permukaan laut (DPL), dan tinggi waduk mencapai 73 meter dari dasar Lau Simeme.

“Dengan spesifikasi seperti ini, pembangunan waduk bukan hanya menyelamatkan Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, dan Karo dari siklus banjir 40 tahunan, dan menambah ketersediaan air baku PDAM Tirtanadi sebesar 3.700 liter per detik, tetapi juga memberikan jaminan pasokan air untuk jaringan irigasi sawah seluas 3.200 hektare di Desa Bandar Sibodas, Kabupaten Deli Serdang. Juga, mampu menghasilkan listrik mini hydro berkapasitas 2,8 Mega Watt (MW),” ujarnya.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment