Sunday, January 24, 2010

Hutan Manggrove Digunduli / 10 Warga Tanjung Mulia Dibakar Hidup-hidup

Hutan Manggrove Digunduli


Sabtu, 23 Januari 2010
GEBANG-Terkait penangkapan 14 nelayan oleh petugas Polsek Gebang dengan tuduhan menebangi hutan mangrove secara illegal, kemarin (22/1) rombongan petugas Polres Langkat mendatangi lokasi penebangan untuk melakukan peninjauan.

Dengan menumpang sebuah boat, rombongan duduk berhimpit-himpitan. Jarak tempuh ke lokasi, memakan waktu enam jam. Pimpinan rombongan, Kabag Ops Kompol Dadi Purba didampingi Pabungpen Kompol Edy Darsono, Kasat Samapta AKP Alagan SH. Selain rombongan polisi, turut serta Badan Pemetaan Kawasan Hutan (BPKH) Sumut, Maruli Sihombing, Kepala Seksi Pengujian (KSP) Langkat, Zulfahrizal Alamsyah serta kepala lingkungan setempat selaku penunjuk jalan turun ke lokasi penebangan.

Pabungpen Kompol Edi Darsono mengatakan, selama enam jam di areal hutan mangrove Kec Gebang pihaknya masih melakukan penyidikan.(Joko)




10 Warga Tanjung Mulia Dibakar Hidup-hidup


Sabtu, 23 Januari 2010
MEDAN-KEMARIN malam, tempat rental playstation (PS) di Jl Sukarjo Gang Amal, tembusan Gang Panitera, Tanjung Mulia, Medan disiram bensin dan disulut api oleh seorang pemuda lingkungan tetangga. Akibatnya 10 warga yang mayoritas kaum ibu dan anak-anak, terbakar hidup-hidup.

Menurut Bunga, warga setempat yang menyaksikan langsung peristiwa itu, tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun 7 korban menderita luka bakar yang cukup parah, sedangkan 3 lainnya hanya luka ringan. “Semuanya langsung dibawa ke rumah sakit,” kata Bunga yang ditemui POSMETRO MEDAN di lokasi kejadian.

Bunga juga mengatakan, malam itu, seorang pria tetangga yang dikenal bernama Agus, datang dan langsung membakar tempat rental playstation yang sedang dipenuhi banyak anak-anak setempat.

“Dulu katanya si Agus dengan si Syahrial bertengkar gara-gara seloroh. Tapi itu sudah lama bang. Terus si Agus jadi dendam,” beber Bunga.

Sementara disebutkan Ucok, juga warga setempat, antara Agus dan Syahrial memang sudah lama tidak cakapan. Masalahnya menurut Ucok, Agus yang bekerja di PT Adira Finance, tak terima diledekin.

“Agus orangnya hitam, waktu itu dia baru pulang kerja. Trus dibilang si Syahrial ‘apa kau belum mandi’ hanya gara-gara itu, terus orang itu berantam,” kata Ucok.

Singkat cerita, kemarin sewaktu Agus melihat Syahrial sedang main playstation, dendamnya langsung dikobarkan dengan menyiramkan bensin ke arah Syahrial dan memantikan api. Akibatnya 10 warga yang berada di ruangan itu, terbakar.

Agus yang tinggal di Gang Subur itu pun tak luput dari jilatan api dan dimassa warga. Setelah peristiwa itu sampai ke telinga petugas Polsek Labuhan, Agus yang masih melajang itu diringkus dan sedang diinterogasi. (ali/widya/sahala/elfitra)



Desak Status Kepemilikan Lahan Enclave, Warga Sapo Padang Nginap di Kantor Camat


Sabtu, 23 Januari 2010
BAHOROK-SEDIKITNYA 75 warga Dusun Sapo Padang, Desa Batu Jonjong, Bahorok Langkat ‘tumpah’ dan memilih nginap gratis di Kantor Camat Bahorok, kemarin (22/1) petang. Aksi ini dipicu karena warga tak puas dengan penjelasan Sekdakab Langkat Drs Surya Djahisa, yang terkesan ‘menggantung’ kepastian status kepemilikan dan jaminan keamanan lahan enclave yang telah warga kuasai secara turun-temurun.

Sebelumnya, warga berbondong bondong datang ke Kantor Camat pada Kamis (21/1) dini hari. Mereka mendesak Surya Djahisa segera mensyahkan status kepemilikan lahan mereka. Tapi warga tetap tak puas karena masih menunggu realisasi dari pertemuan yang akan diprakarsai Pemkab Langkat dengan kelompok pengusaha yang disebut sebut telah mengganti rugi tanah asal warisan turunan (engklave TNGL) tersebut.

Warga Sapo Padang yang telah puluhan tahun menduduki tanah tersebut meminta Pemkab dapat memfasilitasi, termasuk dalam hal jaminan kepemilikan tanah yang mereka usahai selama ini. Camat Bahorok Sekula Bangun yang dikonfirmasi POSMETRO MEDAN memebenarkan pihaknya telah melaporkan masalah warganya itu ke Pemkab Langkat. Bahkan Surya Djahisa telah turun dan bertatap muka dengan warga, namun masalah tak bisa serta bisa diselesaikan tanpa mengahadirkan pihak terkait, termasuk salah satu pengusaha yang disebut-sebut telah membeli tanah dari pemegang ahli waris sebelumnya .

“Kita juga tidak dapat memutuskan persoalan itu dengan mudah. Sedangkan warga ingin kasus itu dapat selesai segera, padahal kita telah membantu, termasuk mengajukannya ke pemkab untuk memfalisitasi pertemuan dengan pengusaha tersebut,” ujarnya. Sekula Bangun juga membantah, kalau aksi warga protes itu terus bertambah menjadi 200 orang, mana mungkin karena jumlah warga di sana tidak sebanyak itu. Ia juga mengakui masalah tersebut dipicu atas pengalihan status tanah engclave TNGL tersebut baru diserahkan ahli waris pada seorang pengusaha.

Namun setahunya bagaimana warga lain yang telah mendiami pernah diusir kelompk pemuda diduga suruhan. Seperti diketahui, kawasan tanah diklaim warga merupakan kawasan yang diperuntukkan bagi masyarakat tertinggal (KAT) dan diserahkan pengelolaannya pada Dinas Sosial Sumut seluas 10 hektar, hingga terbangun perumahana dan diketahui hanya 2 hektar, dan selebiuhnya digunakan warga tuk bercocok tanam. Namun setahu bagaimana, oleh ahli waris di sana, tanah itu malah dijual pada pengusaha, sehingga warga lain jadi resah, sebutnya. (Darwis)

Pipa Air Tirtanadi Pecah

Sabtu, 23 Januari 2010
MEDAN-Pelaksana Kepala Divisi Public Relations PDAM Tirtanadi, Ir Joni Mulyadi mengatakan, pasokan air dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Hamparan Perak terhenti akibat pecahnya pipa transmisi di lokasi Kompleks IPA Hamparan Perak.

“Saat ini kita tengah mengupayakan perbaikan kerusakan pipa tersebut, agar pasokan air ke pelanggan di wilayah Cabang Belawan Kota, Medan Labuhan dan sebagian Cabang Sei Agul dapat normal kembali. Gangguan diperkirakan akan berlangsung 3 hingga 4 hari. Tirtanadi sedang menyelidiki penyebab kejadian ini agar dimasa datang dapat diantisipasi,”katanya.

Kepada pelanggan yang mengalami gangguan air, Joni memohon mohon maaf dan diharapkan pelanggan menyampaikan keluhannya melalui SMS ke nomor 08126021905. (hendra

No comments:

Post a Comment