Peduli Nasip Sungai
Banjir Bandang kecil dialami sungai Pawan dan Sungai kaiti yang memberikan dampak, jebolnya jembatan Kaiti yang menghubungkan Pasir dengan Desa Kaiti, kemudian tersumbatnya jembatan Pawan hingga membuat pinggir jembatan abrasi,
Banyak kerusakan di hulu sungai yang ditebangi tanpa perhitungan membuat keadaan sungi dalam hujan deras tidak dapat menahan potongan-potongan kayu yang datang, selain kerusakan sungai juga akan menjadi pendangkalan sungai.

Jembatan Pawan yang dihantam kayu-kayu tebangan liar di hulu Sungai yang dibawa arus banjir 17 Nopember 2010

Kerusakan terjadi pada Jembatan sungai Kaiti, setiap tahun kerusakan sarana jalan akibat kerusakan hutan di hulu sungai

Sungai Rokan
(jalur Kasimang-Rantau Ibuo-Ulak Patian-Bungo Tanjong-Rantau Binuang Sakti)
Kedangkalan sungai yang diakibatkan hutan wilayah rokan dibagian hulu dan sekitarnya, menjadikan sungai ini makin dangkal dan dimusim kemarau tidak dapat dilalui oleh pompong dan but. menurut pengakuan Bapak Saleh.
Para pencari ikan telah mengeluh dalam beberapa tahun terakhir, walaupun saat sekarang sudah banyak alat penangkapan ikan dibandingkan puluhan tahun yang lalu yang tebatas dengan alat, namun dengan banyaknya ikan saat itu tidak menjadi masalah.
Ada beberapa kampung yang masih bertahan pada saat ini adalah Desa Ulak Patian.

Juga suasana para Poikan disepanjang sungai ini dapat kami potret.

Demikian pentingnya sungai bagi kehidupan masyarakat, jika perusahaan perkebunan tidak menghormati kehidupan dan Alam ini, sudah suatu keterlaluan.
Ada Apa dengan Sei Bungo dan Kubang Buayo ?
Sei Bungo adalah sebuah desa terisolir, lebih kurang 50 KK, penduduknya sejak dahulu tidak pernah bertambah drastis.
Kampung ini sudah duatahun terakhir baru dapat dilalui oleh Sepeda Motor, sebelumnya dengan jalan kaki.
Kampung ini akan dijadikan kampung wisata, Lokasi di kaki Bukit Simolombu tepatnya di bagian Selatan Kota Pasirpengaraian, di kaki Bukit Adiantua, anak Bukit Simolombu, kampung ini terletak pada ketinggian 200-400 m dpl.
Suasana kampung ini sangat asri, walaupun sekarang kondisi itu tidak begitu sesejuk pada tahun 2000an.Sudah banyak hutan berubah kebun karet dan sawit, namun demikian masyarakat di desa ini tetap memiliki jiwa cinta akan lingkungan, terbukti dengan Sungai yang mengalir di tepi kampung dijadikan sebagai Sungai Larangan, maksudnya sungai yang dilarang ikan-ikannya ditangkap, penangkapan hanya dilakukan 1x setahun atau 2x setahun pada musim kemarau, Walau batas penangkapan larangan hanya 5 km sepanjang aliran sungai di kampung itu, hal ini telah menunjukkan upaya pelestarian dan pendidikan pelesatarian terhadap anak cucu mereka.
Begitu juga dengan daerah Kubang Buayo.
Daerah ini terletak di perbatasan Rokan Hulu dengan Sumatera Barat, dengan perbatasan Rao.
Di Sungai Kubang Buayo ini juga dibuat sebagai Sungai Larangan yang sama perinsipnya di Sungai Bungo.
Ada tempat tempat lainnya di Rokan Hulu yang memberlakukan cara seperti ini seperti di Kecamatan Rambah Hilir yaitu sebuah danau Oxbow juga dibuat larangan penangkapan ikan.
Ada lagi yang terdapat di Desa Kubu Manggih, namun sayang tempat ini sudah tidak lagi menjadi kegiatan Mengaru Tapah (menangkap ikan tapah dengan menutup sungai dengan kayu dan jalinan rotan)seperti tahun yang lalu. Terhentinya kegiatan tradisi ini sejak tahun 1998

Kampung Sei Bungo

Kampung Kubang Buayo

Pembuangan limbah berkala
Pada Tanggal 28 Februari 2010, secara tidak sengaja kami rokan.org melihat sebuah sungai yang airnya jernih.
pada saat tertentu akan tercemar oleh limbah pabrik (seperti gambar, saat kami sedang dilapangan), lokasi sungai ini di daerah Kuntodarussalam. Salah satu anak sungai yang terdapat dalam areal perkebunan sawit yang memiliki Pabrik.
salah seorang bersama kami yang tidak disebutkan identitasnya mengatakan, saya tau betul sungai ini sangat jernih dihari-hari biasa, dan ini adalah pembuangan limbah yang dilakukan oleh Pabrik Kelapa Sawit x yang membuang limbah secara berkala.
No comments:
Post a Comment