Saturday, March 19, 2011

Benteng Kota Cina Ditemukan di Marelan

Benteng Kota Cina Ditemukan di Marelan

MEDAN-Situs Kota Cina di Medan Marelan telah lama digali, bahkan sejak tahun 1970-an. Namun hingga kini sisa-sisa kejayaan Kota Pelabuhan terbesar di Selat Malaka pada abad ke-12 itu, belum tereksplorasi seluruhnya. Bahkan, di mana saja bangunan penting dari kota tua itu, belum terpetakan dengan baik.

Tapi geger batu bata di Lingkungan VII, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan, diperkirakan bakal membuka tabir masa lalu itu. Penggalian pun dilakukan tim dari Universitas Negeri Medan (Unimed) yang dipimpin sejarawan Sumut, Dr Phil Ichwan Azhari MS, Minggu (13/11). Bangunan yang diduga benteng Kota Cina itupun ditemukan pada kedalaman satu meter.

Penemuan ini berawal saat dua pekan lalu warga melakukan penimbunan Gang Kelinci, Lingkungan VII, Kelurahan Paya Pasir. Menurut Ansari alias Ain (49), saat itu di rumah keponakannya ada acara aqiqah. Agar undangan bisa melintas menuju rumah keponakannya itu, Ansari kemudian menimbun gang yang becek tersebut.

Dia mengambil batu bata ukuran besar yang sejak lama teronggok di sekitar Titi Miring (tak jauh dari Gang Kelinci, Red) untuk menimbun gang yang becek. Nah, entah dari mana informasi itu kemudian sampai ke Tim Unimed, mereka langsung mengadakan penelitian. Akhirnya, lokasi benteng Kota Cina yang sejak lama dicari pun ditemukan. Batu-batu sisa benteng yang terlanjur dijadikan penimbun gang pun diamankan. Sebagai penggantinya, Tim Unimed menimbun gang tersebut dengan batu bata yang baru.

“Waktu ada batu bata berserakan, maka kami mengutipnya untuk kami timbunkan di jalan (Gang, Red) depan rumah kami. Sebab, keluarga kami ada mau pesta aqiqah,” katanya ketika ditemui, Minggu (15/11) di rumahnya di Gang Kelinci. Pria yang kini tinggal di rumah tua peninggalan mertuanya itu menyatakan, selama ini dirinya tidak mengetahui tentang batu bata ini, sebab menurutnya batu bata yang ada, sama dengan batu bata yang selama ini diketahuinya. “Bentuknya sama, hanya besarnya saja yang berbeda. Batu bata peninggalan kota cina ini cukup besar,” bilangnya.

Menurut Ahmadi Sinaga, pria yang sejak tujuh tahun lalu berada di wilayah ini, sedikit memahami tentang titik situs Kota Cina. Hanya saja dirinya tidak mengetahui lebih mendetail tentang sejarah kota cina ini. Begitupun, Ahmadi Sinaga bersedia menemani wartawan koran ini.
Pria ini kemudian dengan leluasa menunjukkan situs kota cina dan tempat diperolehnya batu bata tersebut, yang diduga bekas benteng. Dia menjelaskan, batu penimbun gang itu hingga tempat asal batu bata itu. Bahkan, dia juga sudah mengukur panjang batu bata itu. Panjangnya sekura 26 Cm dengan lebar 13 Cm.

“Memang warga di sini tidak tahu kalau batu bata ini peninggalan benteng Kota Cina. Bagi warga sama saja semuanya jenis, batu bata ya batu bata. Makanya warga menjadikan batu bata peninggalan ini di gang agar tak becek,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, sejarawan nasional dan Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Pusis Unimed), Dr Phil Ichwan Azhari MS menyampaikan, situs Kota Cina ditemukan pada tahun 1970. Ketika itu sejumlah arkeolog dari Perancis melakukan penelitian di Medan Marelan dan melakukan penggalian. Sebelum tim asing itu melakukan penelitian, sama sekali tidak pernah diketahui ada situs sejarah di kawasan itu.

Menurutnya, dia bersama dengan mahasiswa Unimed akan terus melakukan penggalian untuk mengetahui lokasi benteng dan bangunan penting lainnya, sehingga Kota Cina bisa terpetakan dengan baik. Dia juga ingin mengetahui titik benteng situs Kota Cina ini seluas apa, dan hingga dimana saja batas-batasnya. “Kami terus melakukan penggalian, sekarang kami sudah melihat ada batu-batunya,” ujarnya. Mereka akan terus melakukan penggalian, sampai semuanya jelas.

Ichwan membeberkan, sejak ditemukan, situs Kota Cina telah terpendam. Untuk melakukan penelitian, harus dilakukan penggalian hingga satu meter lebih. Penggalian diperkirakan akan mengalami hambatan, karena di atas tanah tersebut telah banyak berdiri bangunan rumah warga

No comments:

Post a Comment