Saturday, November 28, 2009

Isu Ular Naga Hebohkan Kabupaten Asahan Sumatera Utara













Ditulis oleh Siswoyo
Jumat, 09 Oktober 2009


PULORAKYAT,Asahan (Waspada): Lagi-lagi isu Ular Naga menghebohkan masyarakat. Kali ini isu itu muncul di Dusun IV, Desa Bendo Rawa, Kec. Pulorakyat, Kab. Asahan.

Kawasan rawa-rawa yang dijadikan areal pertanian, tiba-tiba berubah membentuk alur air sepanjang 400 meter lebih dan lebar 7 meter dengan kedalaman mencapai 4 meter. Selain itu, di tengah rawa-rawa, juga ditemukan lubang berbentuk lingkaran dan kedalamannya tidak dapat diukur secara pasti.

Untuk menuju ke sana, harus memanfaatkan perahu mini atau sampan kecil. Warga setempat, menduga fenomena alam ini merupakan jejak atau bekas tapak Ular Naga.

“ Heboh di sini, masyarakat sudah berbondong-bondong kemari untuk melihat bekas tapak Ular Naga,” kata Abdul Khalik Simanjuntak, warga Desa Aek Loba Pekan, Kecamatan Aekkuasan, Kabupaten Asahan kepada Waspada di lokasi kejadian, Kamis (8/10).

Akan tetapi, kata Khalik, kebenaran isu bekas tapak Ular Naga itu, masih simpang siur. “ Memang ini di luar akal pikiran manusia, tapi melihat bentuk alur air yang berkelok-kelok, mirip bekas kisaran (jalan) Ular Naga, apalagi ada kelokan yang kayak tapak kaki Ular Naga. Jika ini ulah tangan manusia, sepertinya sulit dipercaya, apalagi rawa-rawa ini berubah menjadi alur air hanya dalam kurun waktu satu malam,” ujar Khalik.

Dia kembali menuturkan, apabila kejadian itu fenomena alam berupa pembentukan alur sungai, maka alur itu akan sampai ke Sungai Asahan yang berdekatan dengan lokasi kejadian itu. “ Jika alur sungai, maka tembus ke Sungai Asahan, sedangkan ini tidak dan alurnya terputus, bahkan di tengah rawa terbentuk lagi alur lingkaran yang kedalamannya tidak dapat diprediksi secara pasti,” tukas Khalik.

Hal sama dikatakan Edi,40, warga Desa Padangmahondang, Kecamatan Pulorakyat. “ Banyak yang mengatakan alur ini merupakann bekas jejak atau tapak Ular Naga, dan ada juga yang menyebutkan tapak Ikan Pelus atau ikan berbentuk belut raksasa,” kata Edi.

Begitupun, Edi masih antara percaya dan tidak apakah alur air itu bekas tapak Ular Naga. “ Nggak yakin juga, tapi ntah apa ini, kalau ulah tangan manusia, mau berapa orang yang mengerjakannya, dan apa pula manfaatnya,” ujar Edi sambil menambahkan, beberapa tahun lalu, seorang warga mengaku pernah melihat tanah gambut di rawa-rawa itu bergerak mengejarnya.

Sementara, pemilik areal pertanian yang berubah menjadi alur air sepanjang ratusan meter itu, Muslim Manurung, 55, peristiwa itu diduga terjadi Sabtu (3/10) dinihari. Katanya kepada Waspada, sore sebelum kejadian, dia masih melihat areal pertaniannya utuh dengan tanaman berbagai jenis. “ Jumat sore, tanah gambut di areal ini masih ditumbuhi tanaman dan rumput-rumput liar, tapi Sabtu pagi, aku terkejut karena berubah membentuk seperti alur sungai, kakiku ini bergetar, kok ladangku berubah seperti ini,” kata Muslim.

Petani itu meyakini Ular Naga telah melintasi lahan pertaniannya, sehingga terbentuk alur air sepanjang ratusan meter dan lebar 7 meter dengan kedalaman mencapai 4 meter. Keyakinan Muslim ditambah lagi dengan adanya alur lingkaran di tengah rawa, dimana akar-akar pohon dan tumbuhan lainnya berpindah tempat ke tepi alur lingkaran itu. “ Mungkin Ular Naga itu masuk kembali ke dalam tanah melalui alur berbentuk lingkaran itu, apalagi kedalamannya tidak dapat diukur,” tukas Muslim.

Dan, atas kejadian itu, rencananya keluarga Muslim akan membuat acara kenduri dan sedekah sebagai upaya tolak bala. “ Mungkin ini pertanda bakal ada bencana besar, makanya kami akan menggelar acara tolak bala,” ujar Muslim.

Lampu Besar

Sementara, Butet Manurung, warga setempat, mengaku seminggu sebelum kejadian melihat dua bola lampu besar di tengah-tengah rawa. Dia menduga bola lampu itu milik warga yang sedang mencari ikan.

“ Kusangka lampu milik pencari ikan, makanya kubiarkan saja. Dan, keesokan paginya, aku melaporkan kejadian itu kepada Muslim Manurung, dan dia mengatakan tidak mungkin ada orang yang mencari ikan di tengah rawa malam hari,” ujar Butet.

Mimpi Bertemu Ular Naga

Di tempat terpisah, Siti Maria, 37, warga Afdeling IV, Desa Tunggul 45, Kecamatan Pulorakyat, mengaku sehari setelah kejadian mimpi bertemu Ular Naga.

Dia menceritakan, Minggu sore Siti diajak anak-anaknya melihat bekas jejak Ular Naga di desa tetangga. Akan tetapi, Siti menolaknya, karena dia tidak percaya, kecuali melihat langsung tubuh Ular Naga itu. “ Kubilang sama anak-anak, itu tahayul, mana ada Ular Naga,” ujar Siti.

Ternyata malam harinya, Siti bermimpi bertemu seorang Kyai berbaju putih dengan postur tubuh kurus tinggi. “ Pak Kyai itu menepuk bahuku, dan dia mengatakan, nduk, itu bukan tahayul, itu bendanya, dan ternyata dalam mimpiku itu, aku melihat Ular Naga besar dan panjang berwarna kuning keemas-emasan berkisar di tengah rawa-rawa yang berubah menjadi alur air tersebut,” ujar Siti menceritakan mimpinya.

Masih dalam mimpinya, kata Siti, Kyai berbaju putih itu berpesan, meskipun seribu manusia datang ke sana, namun tak ada yang dapat melihatnya, kecuali Siti, karena Ular Naga itu telah ghaib. “ Pak Kyai juga mengatakan, hal ini jangan dihebohkan, karena nanti Ular Naga itu akan pergi ke Sungai Asahan, dan akan terjadi bencana besar karena sungai tak mampu menampung tubuh Ular Naga itu,” cerita Siti.

Dan, sebaliknya, apabila tidak dihebohkan, maka keberadaan Ular Naga akan membawa rezeki bagi warga sekitar. “ Sawah yang selama ini terendam air, bakal kering, dan bisa kembali ditanami,” ujar Siti.

Sementara, paranormal dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Iman Suroso yang dihubungi Waspada melalui saluran telefon, mengatakan, fenomena itu bukan akibat Ular Naga, melainkan ular biasa yang postur tubuhnya sangat besar.

“ Bukan Ular Naga, tapi ular biasa, dan posisinya masih melingkar di sekitar desa itu,” kata Imam Suroso. Dia menambahkan, kejadian ini merupakan pertanda bakal ada bencana besar yang melanda Kabupaten Asahan. “ Bencana itu mungkin gempa atau banjir besar,” ujar Imam Suroso.

Berbeda dengan penuturan tokoh agama di desa itu, Gio. Menurutnya, kejadian itu murni fenomena alam. “ Ini bukan mistis, apalagi Ular Naga, tapi murni fenomena alam,” ujar Gio.

Alasannya, saat ini sedang musim hujan disertai angin kencang. “ Kemungkinan, alur air itu terbentuk akibat angin dan hujan deras,” jelas Gio.

Penjelasan Imam Suroso tentang bakal adanya bencana melanda Kabupaten Asahan, salah satunya banjir besar, berkaitan dengan dengan keterangan Kepala Data dan Informasi Bandara Polonia Medan, Firman (Waspada, Selasa (6/10). Katanya, saat ini laut China Selatan sedang terjadi pemanasan meningkat permukaan laut dan akan menyebabkan kawasan laut terjadi portec-portec (partikel) air dari pumpunan awan pesisir timur Sumatera Utara diprediksi akan berpeluang meningkatnya curah hujan, salah satunya di kawasan Kabupaten Asahan.

Hal sama dijelaskan Dr Muhammad Evri Chief Engineer Food Security Remoting Sensing Sumber Daya Alam Pusat Teknologi Inventarisasi SDA, BPPT Jakarta beberapa waktu lalu. Katanya, Typhoon Ketsana yang terbentuk di Semenanjung Selatan Cina, bergerak ke barat, dan imbas ekornya dapat menimbulkan hujan besar di wilayah besar Sumatera.

Hal ini menurutnya, mengindikasikan rawan banjir dan longsor, termasuk di wilayah Sumatera Utara, melihat trend data teranalisis, intensitas curah hujan di luar normal. (a37)

No comments:

Post a Comment