Saturday, November 28, 2009

Fosil Ular Raksasa Telah Ditemukan. Sapi Pun Dilahapnya…Nyam…Nyam…




Sapi Pun Diembatnya
Takut dengan Ular..? Itu alamiah, dan tidak dilarang karena potensi bahaya dimilikinya. Dengan yang kecil saja saja menyeramkan, apalagi dengan ular yang ukurannya lebih besar dari ular raksasa hasil imajinasi Hollywood dalam film Anaconda.
Dalam adegan film Anaconda, Jenifer Lopes berteriak histeris dan berlarian kesana kemari menghindar seekor ular pemangsa raksasa. Ular dalam film itu panjangnya 12,1 meter. Imajinasi para pembuat film Hollywood itu, masih kalah panjang dibanding fosil ular hasil temuan para ilmuwan baru-baru ini.
Fosil dari timur laut Kolombia ini menjadi pertanda bahwa saat masih hidup, binatang melata itu merupakan ular terbesar di dunia. Dari tulang punggung fosil ini, beratnya diperkirakan mencapai 1,35 ton atau antara 730 kg hingga 2,03 ton. Panjangnya dari hidung hingga ujung ekor mencapai 13 meter atau sekurang-kurangnya 10,64 meter hingga 15 meter.
“Benda ini (fosil ular) berbobot lebih berat daripada seekor bison, dan lebih panjang dari sebuah bus kota,” kata ahli ular Jack Conrad dari American Museum of Natural History di New York.
Sementara ahli fosil Jason Head dari University of Toronto Missisauga berujar, “Ular itu bisa menelan sapi dengan gampang. Seorang manusia juga dapat segera ditelan.Kalau ular itu masuk ke ruangan saya untuk memakan saya, maka dia akan kesulitan melewati pintu.”
Sebenarnya, monster melata itu di masa lalu mungkin melahap dan mengunyah buaya di hutan hujan tropis yang menjadi tempat tinggal mereka sekitar 58 juta hingga 60 juta tahun lalu. Para penemu fosil menamakan fosil ular tersebut “Titanoboa cerrejonensis” (baca: “ty-TAN-o-BO-ah sare-ah-HONE-en-siss”). Artinya, “ular boa yang sangat kuat dari Cerrejon. (Cerrejon adalah nama daerah tempat fosil ditemukan).
Titanoboa pertama kali disingkap di awal 2007 di Florida Museum of Natural History di Universitas Florida di Gainesville. Para ilmuwan kemudian melakukan rangkaian penelitian sebelum merilisnya dalam jurnal Nature, Kamis lalu. Namun para ilmuwan masih akan kembali ke Kolombia untuk menemukan beberapa bagian fosil yang belum ditemukan.
Ukuran tubuh titanoboa yang luar biasa memberi petunjuk tentang habitatnya. Dengan tubuh sebesar itu menunjukkan bahwa titanoboa hidup di suhu lingkungan yang hangat. Tampaknya temperatur di garis khatulistiwa meningkat bersamaan dengan suhu global. Ini kontras dengan hipotesis yang mengatakan bahwa suhu tidak akan naik.
“Ini adalah sebuah lompatan kalau diterapkan pada kondisi masa lalu dengan perubahan iklim, kata Head. Menurut Head, penemuan itu menggambarkan bahwa daerah di garis khatulistiwa akan menghangat bersama dengan bertambahnya usia planet. “Namun tidak akan ada lagi ular raksasa karena kita sudah memusnahkan habitat mereka dengan pembangunan dan penebangan hutan di wilayah ekuator,” kata Head.
Suku Boidae
Fosil ular yang ditemukan ini bisa dipastikan dari suku Boidae atau jenis-jenis ular berbadan besar seperti Anaconda, Boa, da Piton. Jenis ini termasuk primitif dan memiliki saki-saki (organ tubuh yang tidak berfungsi lagi), berupa sekat pinggul dan tungkai belakang. Meskipun tidak termasuk dalam jenis berbisa, namun cara ular ini memangsa korbannya cukup sadis. Yaitu dengan cara membelit dan menelan.
Dari hasil penelitian para ahli tersebut, ular ini adalah kombinasi antara jenis Boa dan Anaconda. Tubuh Titanoboa seperti tubuh seperti boa modern, namun berperilaku seperti anaconda dan menghabiskan waktu di dalam air. Kalau sedang di darat, Titanoboa akan bergerak melata.
Ular ini memiliki kemiripan dengan Anaconda Hijau yang masih termasuk keluarga Boa. Ular Amerika Selatan ini termasuk ular terbesar di dunia. Sepupunya, Phyton, mempunyai tubuh yang sangat panjang tapi dengan tubuh besarnya, anaconda hijau, nampak 2 kali lebih besar.
Saat ini, Anaconda Hijau dapat tumbuh lebih dari 29 feet atau 8,8 meter dengan berat lebih dari 550 pon atau 227 kg dan diameter kurang lebih 12 inci atau 30 cm. Diantara kerabat anaconda, anaconda hijau lah yang paling besar. Ukuran tubuh betinanya lebih besar daripada yang jantan. Anaconda hidup di rawa-rawa, air yang arusnya lemah.
Tubuhnya dirancang untuk mudah berjalan di air daripada di darat. Mata dan rongga hidungnya terletak di atas kepala sehingga memudahkannya untuk menyelam dan beraktivitas di dalam air. Pada masa kawin, terjadi kompetesi antar penjantan untuk memperebutkan sang betina dan hal ini terjadi selama 4 minggu.)
Anakonda dalam bahasa latin disebut Eunectes murinus termasuk dalam golongan phylum chordata, yaitu golongan hewan yang memiliki notokorda atau chorde yaitu tali sumbu tubuh syaraf belakang dengan rangka. Ukuran chordata beragam ada yang besar dan ada yang kecil dengan otak yang terlindung tengkorak untuk berfikir. Anakonda masuk dalam Kelas Reptil, Ordo Squamata, Keluarga Boidae, sejenis ular boa air.
Anakonda hidup di Amerika Selatan, sebelah timur Andes, sebagian besar di sungai Amazon, Orinoco dan Guianas. Habitat mereka di rawa-rawa dan semak belukar. Mereka tak pernah ditemukan jauh dari perairan. Rawa merupakan tempat favoritnya. Ketika mereka keluar dari air, tubuh anakonda akan dirundung oleh kutu-kutu atau jamur.
Seekor Anakonda memulai reproduksi dalam usia muda dengan masa kehamilan selama 6 bulan. Seekor betina dapat beranak 20 hingga 40 ekor dan kadang-kadang lebih dari 100 ekor. Anakonda yang baru lahir biasanya memiliki panjang 60 cm. Beberapa jam setelah mereka lahir sudah dapat berenang, berburu dan merawat dirinya sendiri. Setelah melalui proses perkawinan, anakonda akan tumbuh panjang namun lambat.
Ular dan Manusia

Anaconda dan Manusia
Dalam kitab-kitab suci, ular kebanyakan dianggap sebagai musuh manusia. Dalam Alkitab (Perjanjian Lama) diceritakan bahwa Iblis menjelma dalam bentuk ular, dan membujuk Hawa dan Adam sehingga terpedaya dan harus keluar dari Taman Eden. Dalam kisah Mahabharata, Kresna kecil sebagai penjelmaan Dewa Wisnu mengalahkan ular berkepala lima yang jahat. Dalam salah satu Hadits Rasulullah saw. pun ada anjuran untuk membunuh ‘ular hitam yang masuk/berada di dalam rumah’.
Anggapan-anggapan ini, bagaimanapun, turut berpengaruh dan menjadikan kebanyakan orang merasa benci, jika bukan takut, kepada ular. Meskipun sesungguhnya ketakutan itu kurang beralasan, atau lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang umumnya terhadap sifat-sifat dan bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh ular. Pada kenyataannya, kasus gigitan ular –apalagi yang sampai menyebabkan kematian– sangat jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kasus kecelakaan di jalan raya, atau kasus kematian (oleh penyakit) akibat gigitan nyamuk.
Pada pihak yang lain, ular pun telah ratusan atau ribuan tahun dieksploitasi dan dimanfaatkan oleh manusia. Ular kobra yang amat berbisa dan ular sanca pembelit kerap digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan keberanian. Empedu, darah dan daging beberapa jenis ular dianggap sebagai obat berkhasiat tinggi, terutama di Tiongkok dan daerah Timur lainnya. Sementara itu kulit beberapa jenis ular memiliki nilai yang tinggi sebagai bahan perhiasan, sepatu dan tas. Seperti halnya biawak, kulit ular (terutama ular sanca, ular karung, dan ular anakonda) yang diperdagangkan di seluruh dunia mencapai ratusan ribu hingga jutaan helai kulit mentah pertahun.
Dalam kenyataannya, ular justru kini semakin punah akibat aneka penangkapan, pembunuhan yang tidak berdasar, serta kerusakan habitat dan lingkungan hidupnya. Ular-ular yang dulu turut serta berperan dalam mengontrol populasi tikus di sawah dan kebun, kini umumnya telah habis atau menyusut jumlahnya.
Manusia sebenarnya tidak usah takut pada ular karena ular sendiri yang sebenarnya takut pada manusia. Ular tidak dapat mengejar manusia, gerakannya yang lamban bukan tandingan manusia. Rata-rata ular bergerak sekitar 1,6 km per jam, jenis tercepat adalah ular mambaa di Afrika yang bisa lari dengan kecepatan 11 km per jam. Sedangkan manusia, sebagai perbandingan, dapat berlari antara 16-24 km per jam.

No comments:

Post a Comment