Thursday, December 9, 2010

SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN RI DI TANJUNG JABUNG (1945-1949)

SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN RI DI TANJUNG JABUNG (1945-1949)

PRAKATA

Dengan rasa syukur yang se dalam-dalamnya kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Kuala Tungkal ini berhasil disusun. Penerbitan buku ini dimaksudkan pula untuk menghargai, mengenang, meneladani jasa para pejuang dan syuhada yang telah mendarmabaktikan segala-galanya untuk nusa, bangsa dan Negara yang didasari oleh ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kehadiran buku ini, dapat pula menambah perpustakaan sejarah perjuangan dalam rangka merebut kemerdekaan RI di seluruh tanah air pada umumnya, khusu di Tanjung Jabung Barat provinsi Jambi, sesuai dengan cita-cita masyarakat Tanjung Jabung Barat. Pada akhirnya, dalam batas waktu tertentu, berperan pula untuk mewariskan jiwa, semangat dan nilai-nilai ’45 kepada generasi penerus dalam mewujudkan Pancasila dan UUD 1945.

Sesuai dengan pribahasa yang mengatakan “tak kenal maka tak cinta” maka buku ini memperkenalkan jalanya perjuangan di daerah ini untuk dicintai, dipelihara jiwa dan semangatnya dalam mengisi kemerdekaandengan pemgangunan. “Tak ada gasing yang tak retak”, demikian pula dengan buku ini yang telah memakan waktu cukup lama dalam penyususnannya. Namun kami menyadari di sana-sini masih banyak kekuarangan dibandingkan dengan harapan agar- kejadian-kejadian, pertempuran-pertempuran tidak ada yang luput dari liputan buku ini. Keberanian untuk menerbitkan buku ini tentunya dengan pertimbangan bahwa kekurangan tersebut setelah dapat masukan akan disempurnakan lagi pada penerbitan berikutnya.

Penerbitan buku ini disusun oleh H. M. EFFENDI HASAN salah seorang tokoh pejuang di daerah Tanjung Jabung Barat pada tahun 2004. tidak ada rokan akarpun berguna, semoga ada mamfaatnya.











PERIODE TAHUN 1945

DETIK-DETIK PROKLAMASI KEMERDEKAAN

A. 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan RI dan Sambutan Masyarakat Kuala Tungkal

Kepala Kantor Telegraf Kuala Tungkal H. M. Kurchi/Madiah Syahbandar Kuala Tungkal, selalu mengikuti perkembangan dalam dan luar negeri melalui siaran-siaran radio yang didengarnya secara sembunyi-sembunyi supaya tidak diketahui oleh penguasa Jepang. Berita proklamasi kemerdekaan RI didengar oleh H. M. Kurchi pada tanggal 17 Agustus 1945, dan kemudian disebarluaskannya kepada tokoh-tokoh masyarakat dan pemuda. Pada tanggal 20 Agustus 1945 sejumlah pemuda antara lain M. Kasim, Tuhirang dan Duladji jam 07.00 pagi mengibarkan bendera merah putih di pelabuhan Kuala Tungkal, yang kemudian diikuti oleh pengibaran bendera oleh penduduk di rumahnya masing-masing.


Panglima Lasykar Sabilillah Front Tungkal Area H. Kasim Saleh


B. Terbentuknya Organisasi Perjuangan Pembentukan API dan Barisan-barisan Pemuda Pejuang

Tersiarnya berita proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 disambut gembira oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat Jambi khususnya.

Timbul jiwa patriotisme di kalangan pemuda-pemudi, tokoh masyarakat, alim ulama, cerdik pandai, mereka bersatu padu untuk mempertahankan kemerdekaan RI dan menantang penjajahan dari manapun datangnya.

Beberapa hari setelah pengibaran bendera merah putih pertama di Kuala Tungkal tanggal 20 Agustus 1945, maka diadakan pertemuan antara tokoh-tokoh masyarakat. Hasil pertemuan ini antara lain:

1. Membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang dipimpin oleh Syarkawi dengan wakilnya Indar Zaini.

2. Membentuk Barisan Hizbullah yang dipimpin oleh H. M. Daud.



Panglima Lasykar Hizbullah Front Tungkal Area KH. M. Daud Arief

Lasykar Hizbullah Kuala Tungkal (1945-1949)
dengan Komando KH. M. Daud Arif (Duduk tengah memegang tongkat)

Beberapa hari kemudian menyusul pula terbentuknya Lasykar Hulu Balang yang dipimpin oleh A. Manan Semat.

Di samping Organisasi Pemuda yang telah disebutkan di atas, masih ada beberapa Organisasi Pemuda Profesi yang ikut berjuang bersama-sama mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945.

PERIODE TAHUN 1946

A. Konsolidasi dan Pemyempurnaan Aparatur Pemerintah Sipil dan Pembentukan TRI Resimen II Divisi II Jambi

Pada tanggal 11 Februari 1946 d Sarolangun diadakan rapat para Perwira TRI Keresidenan Jambi yang dipimpin oleh Panglima Divisi II Kolonel Hasan Kasim, dan dihadiri oleh Kolonel Abunjani.

Sebagai keputusan rapat ialah:

1. Pembentukan Kesatuan TKR Keresidenan Jambi menjadi TRI Resimen II Provinsi Jambi.

2. Menunjuk Letnan Kolonel Teuku Mohd. Isya sebagai Komandan resimen II Jambi, yang pada waktu itu masih menjabag sebagai Kepala Polisi Kersidenan Jambi.

3. Menetapkan pangkat pada Perwira yang hadir dalam rapat secara defenitif mulai dari Letnan Dua sampai dengan Letnan Kolonel.

4. Peresmian TRI Resimen II Divisi II Jambi dan pelantikan para Perwira akan dilaksanakan di kota Jambi pada tanggal 24 Februari 1946.

Struktur dan Personalian Inti Resimen II/Divisi II Jambi adalah:

1. Komandan : Letnan Kolonel Teuku Mohd. Isa

2. Kepala Staf : Kapten R. A. Rachman Kadipan

Markas Resimen II/Divisi II Jambi berkedudukan di Jambi.

Panglima Divisi II Sumatera Selatan Kolonel Hasan Kasim pada tanggal 24 Februari 1946 meresmikan TRI Resimen II Divisi II Jambi dan melantik para Perwira dari pangkat Letnan Dua ke atas, bertempat di lapangan Tungkal Straat (sekarang terminal oplet kota Rawasari) kota Jambi.

Pada bulan April 1946 untuk melengkapi kekurangan personalia Resimen II Divisi II Jambi, atas permintaan Komandan Resimen II telah mendapatkan tambahan personalia dari Divisi II yaitu:

  1. Jawatan II Siasat

Letnan Satu A. Roni

Letnan Dua M. Nawawi

Letnan Muda Mukhtar

  1. Polisi Tentara

Letnan Satu R. Sumardi

Letnan Muda Saman Idris

Letnan Muda W. Sumardi

B. Terbentuknua Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI)

Akibat pelanggaran wilayah RI oleh kapal perang Belanda di perairan Kuala Tungkal dan melakukan provokasi serta pencegatan terhadap Kapal motor yang lewat, maka dari Palembang Sumatera Selatan didatangkan sepasukan ALRI. Pasukan ALRI ini berkekuatan 15 orang dengan Komandan Letnan Dia (Laut) Sanusi, di antara 7 (tujuh) orang ditempatkan di pelabuhan Kuala Tungkal dengan Komandan Sersa mayor (Laut) Arwansyah dan selebihnya ditempatkan di pelabuhan ALRI Kasang kota Jambi (sekarang pelabuhan kapal Pertamina Jambi)

Dengan makin gentingnya situasi perjuangan, pada bulan September 1948 pangkalan ALRI dipindahkan seluruhnya ke Kuala Tungkal, sedangkan pangkalan ALRI Jambi merupakan bagian dari kesatuan ALRI yang berpangkalan di Boom Baru palembang dnegan KOmandan Kaptem (Laut) Sarongsong.

PERIODE TAHUN 1947

JAMBI DAN PERANG KEMERDEKAAN PERTAMA

A. Angkatan Laut Belanda Memasuki Perairan Kuala Tungkal

Dalam Persetujuan Linggar Jati yang ditandatangani oleh pemerintah RI dan pemerintah Belanda pada tanggal 2 Maret 1947, pemerintah Belanda menyatakan pengakuannya terhadap kedaulatan pemerintah RI atas wilayah Jawa, Madura dan Sumatera.

Akan tetapi berdasarkan laporan-laporan yang diterima, Angkatan Laut Belanda sering mengadakan patroli di daerah perairan Kuala Tungkal (Kabupaten Tanjung Jabung) serta menagkap kapal-kapal yang lewat di perairan tersebut. Ini berarti pelanggaran terhadap Persetujuan Linggar jati. Oleh karena, maka pada awal bulan April 1947 Letnan Muda Ardjai dari Polisi Tentara Sub Detasemen Muara Sabak bersama Sersan Mayor Laisa dan Inspektur Polisi Marpi mendatangi kapal Angkata Laut yang beroperasi di sekitar Kuala Tungkal, Kampung laut yang amsih merupakan daerah perairan RI. Angkatan Laut Belanda yang berada di kapal diperingatkan bahwa mereka telah memasuki perairan RI dan minta supaya segera meninggalkan perairan tersebut. Pimpinan Angkatan Laut Belanda menyatakan bahwa mereka berada di Perairan Internasional dan langsung menahan Letnan Muda Ardjai dan rombongannya dengan tuduhan extrimis yang mengancam keamanan patroli Angkatan Laut Belanda. Tuduhan tersebut dibantah oleh Letnan Muda Ardjai dengan menyatakan bahwa mereka adalah Tentara Resmi RI (TRI), sebagai bukti dikemukakan bahwa mereka memakai pakaian seragam TNI lengkap dengan Tanda Pangkat dan Surat Perintah Jalan dari kesatuannya. Bantahan tersebut tidak diacuhkan oleh Angkatan laut Belanda dan Letnan Muda Ardjai bersama teman-temannya tetap ditahan.

Bebrpa saat kemudian, datang Kepala Kepolisian Keresidenan Jambi Komisaris Polisi Zainal Abidin bersama beberapa orang staf yang terdiri dari Ajun Inspektur Polisi Asmara Siagian, Komandan Polisi Sutarjo, Agen Polisi Arifin Maelan serta mahyudi Diah Syahbandar Kuala Tungkal dan Long Jakfar anggota Lasykar Hulubalang dengan dikawal oleh pasukan TNI bersenjata lengkap dipimpin oleh Letnan Muda M. Saman Idris Komandan PT Sub Detasemen Muara Sabak. Dalam pasukan tersebut turut Letnan Muda Nungcik Alcaff dan Letnan Muda Ilyas Jana’ib.

Kepada Pimpinan Angkatan Laut Belanda yang berada di kapal tersebut, Kepala Polisi KeresidenanJambi menyampaikan protes dan memperingtkan Angkatan Laut Belanda karena telah memasuki Perairan RI dan Angkatan Laut Belanda menyatakan bahwa masalah tersebut supaya dibicarakan nanti dengan Pimpinan Tentara Kerajaan Belanda di Palembang. Ternnya Kepala Polisi Keresidenan jambi bersama teman-temannya dibawa ke Palembang sebagai tahanan dengan tuduhan memprovokasi kapal perang Belanda.

Di Palembang, semua tawanan diajukan ke pengadilan dan dengan bantuan Gubernur Muda Sumatera Selatan Dr. M. Isa semua tawanan tersebut akhirnya di vonis bebas. Pada saat perjalanan dari tempat tahanan ke ruangan pengadilan selalu mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat Palembang di jalan yang dilalui dnegan mengacungkan tangan sebagai simpati terhadap perjuangan mereka.

Pada bulan Mei 1947, sebuah Kapal Dagang bernama KM. Bali ditangkap Belanda di perairan Kuala Tungkal dan kampung Laut menuju jambi. Selain barang-barang dagangan seperti beras, di kapal tersebut juga terdapat penumpang:

1. Kapten M. Thaib RH (Komandan Kompi Kuala Tungkal)

2. Sersan Mayor Cedet/Kadir Naning (Ajudan) dan beberapa orang pengawal

3. Pembantu Inspektur Kls. II Asmara Siagian (anggota polisi)

4. Guru Daud (Kepala Jawatan Agama Kuala Tungkal)

5. H. Abdullah Azis (Hakim Agama Kuala Tungkal)

6. H. Mohd. Thaib (Pegawai Kantor Agama Kuala Tungkal)

7. Gumri Abdullah (guru agama) dan beberapa orang sipil lainnya.

KM. Bali dengan semua penumpangnya di bawa ke Tanjung Pinang (Riau), sedangkan beras di buang ke laut.

Kapten M. Thaib RH dan Letda R. Umar serta anak buahnya ditawan di Tanjung Pinang, sedang penumpang sipil lainnya dibebaskan. Kapten M. Thaib RH dan anak buahnya baru dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan RI.

Dalam bulan Juni 1947, Letnan Muda A. Laman Yatub dan Sersan ALRI Tambunan ditangkap Belanda di perairan antara Kuala Tungkal dan kampung Laut, mereka bertugas membawa pejuang-pejuang dari Kuala Tungkal yang tergabung dalam Lasyakar Hulubalang untuk dikirim ke Front Muara Rupit/Lubuk Linggau.

B. Aksi Militer Belanda I (Perang Kemerdekaan Pertama)

Pada tanggal 27 Juli 1947 Belanda melancarkan Aksi Militer Pertama, berbagai kota besar di Jawa dan Sumatera diserang dan diduduki. Berlainan dengan kota-kota lainnya di jambi secara langsung tidak menglami serangan secara besar-besaran tetapi Belanda lebih meningkatkan blokade ekonominya dan perang urat syaraf yang telah dimulainya sebelum melakukan Aksi Militer Pertama. Dengan demikian, di Sumatera hanya Jambi dan Aceh saja yang tidak diserang Belanda pada aksi militernya yang pertama.

Belanda tidak menyerang Jambi secara besar-besaran karena diperkirakan Jambi mempunyai persenjataan yang lengkap yang didatangkan dari luar negeri, karena pada waktu itu jambi sempat mamur, dari hasil perdagangan barternya dengan Singapura memiliki senjata berat seperti meriam Anti Air Craft (AAC), Senapan Mesin 12,7 di samping senajata-senjata ringan.

Perairan yang menghubugkan Jambi dengan dunia luar seperti Kuala Enok, Kuala Tungkal, Kampung Laut dijaga ketat oleh kapal-kapal perang Belanda. Kapal-kapal dagang yang melintasi diperiksa, barang-barang yang dibawa dirampas dan orang-orang yang dicurigai ditangkap.

Dalam bulan Agustus 1947, pada saat makin memuncaknya Operasi Kapal Perang Belanda, seuah kapal Belanda mendekati Kuala Betara (Kabupaten Tanjung Jabung), kapal-kapal tersebut dikejar oleh Kapal Patroli ALRI NURI I dipimpin oleh Letnan Duna (Laut) M. Sanusi sebagai Komandan dengan 7 orang anak buahnya dengan berbekal semangat pantang mundur ”MERDEKA ATAU MATI”, mereka langsung menyerang kapal Belanda dan terjadi kontak senjata. Karena kekuatan senjata tidak seimbang, maka kapal Kapal NURI I mengalami rusak berat, dua anggota ALRI gugur, seorang di antaranya Kopral (Laut) Buang yang dimakamkan di Dabo Singkep. Kapal Nuri I bersama seluruh awak diseret ke Tanjung Pinang dan Letnan Duan (Laut) M. Sanusi yang mengalami luka berat beserta anak buahnya ditawan Angkatan laut Belanda.

Sementara itu di dataran jambi, untuk menjatuhkan mentak masyarakat dan pasukan, sebuah pesawat pemburu Belanda ”Mustang” terbang berputar-putar di atas kota Jambi dan melakukan penembakan di Paal Merah, kemudian terbang menyusuri sungai Batang Hari ke arah uluan pulau Musang dan seorang penduduk menjadi korban tewas pada saat itu. Sebuah kapal lambung ”Tek Kho Seng” yang berjhenti di Lubuk Ruso kena tembakan, kapal ini membawa perbekalan antara lain minyak untuk keperluan tentara yang berada di Uluan di bawah pimpinan Kapten A. Chatib dikawal oleh PT di pimpin oleh Letnan Muda Ardjai. Akibat penembakan itu, Kapten A. Chatib, Sersan Yunus dan Achmad seorang petugas gugur pada waktu itu juga.

PERIODE TAHUN 1948

A. Angkatan Laut Belanda Sering Masuk Ke Sungai Tungkal Sembari Melakukan Penembakan

Pada tanggal 4 Juni 1948, Kapal Patroli/Speed Boat Angkatan Laut Belanda memasuki sungai Tungkal sambil menembaki pelabuhan dan asrama TNI di jalan Kemakmuran, kontak senjata ini berjalan selam 1 (satu) jam. Dalam pertempuran ini gugur seorang Angkatan Laut kita bernama Pratu AL. A. Mana. Melihat dari pantai darat pelabuhan TNI/AL dan tentara cadangan melakukan perlawanan yang sangat gigih, Kapal Patroli Belanda mundur ke laut lepas.

Pada tanggal 20 Juli 1948, kapal perang Belanda kembali memasuki sungai Tungkal, dari laut kapal perang ini melakukan penembakan kepertahanan TNI/AD dan TNI/AL (kalau dilihat sekarang tempat pertahan TNI/AD dan TNI/AL di pantai daerah Ancol Beach). Dalam pertempuran ini gugur di pihak TNI/AD Pratu A. Kadir Syawal dan di pihak TNI/AL Pratu Basri Sete, selama 2 (dua) jam daerah pantai Parit III hingga Tangga Raja Ulu Parit I terus dihujani tembakan Meriam dan mortir serta senjata otomatis lainnya.

Pada tanggal 23 Desember 1948, kapal perang Belanda menembaki pertahanan TNI/AD di pantai Tanjung Solok Kampung Laut kecamatan Muara Sabak. Dalam pertempuran ini guru dari pihak TNI/AD Pratu Yusuf dan Pratu Amat. Setelah melakuakn penembakan di Tanjung Solok, pasukan Belanda mendarat di Kampung laut, sewaktu tentara melakukan pendaratan, salah seorang masyarakat Kampung Laut yang bernama Santung menyerang pasukan Belanda seorang diri dan dapat melukai salah seorang Tentara Belanda dan Santung dibrondong senjata otomatis dan gugur ditempat kejadian.

B. Penempatan Pasukan Untuk Perang Gerilya

  1. Bataliyon Jambi dipimpin oleh Mayor A. MArzuki mempersiapkan pemindahan basis komandonya dari Kebun Kelapa Kota Jambi ke Km 15 jalam Tempino, lokasi Onderneming Karet Pondok Meja (5 Km dari jalan raya)
  2. Bataliyon Merangin dipimpin oleh Letnan Kolonel Harun Sohar berkedudukan di Muara Tembesi, menempatkan pasukannya yang terdiri dari:
  3. Di Kuala Tungkal ditempatkan satu seksi kesatuan Angkatan Darat dengan Komandan Letnan MUda A. Fattah Leside dan satu Detasemen CPM dengan Komandan Letnan Muda Syamsul Bakhri dan wakilnya Sersan Mayor A. Murad Alwi, di samping itu terdapat satu kesatuan ALRI dengan Komandan Sersan Mayor. T. Anwar Syah.

PERIODE TAHUN 1949

KOTA KUALA TUNGKAL DIDUDUKI TENTARA BELANDA

A. Pembentukan Pasukan Selempang Merah

Pada tanggal 21 Januari 1949, dengan didudukinya kota Kuala Tungkal oleh Belanda, tokoh-tokoh masyarakat, alim ulama, cerdik pandai menyingkir ke luar kota, di antaranya berada di seberang Kuala Tungkal. mereka tanggal 25 Januari 1949 mengadakan pertemuan yang terdiri dari berbagai suku guna menghimpun kekauatan untuk mengadakan serangan balasan. Atas mufakat bersama, mereka membentuk Front Rimba dengan susunan pengurunya sebagai berikut:

Ketua : H. Syamsuddin (merangkap bendahara)

Wakil Ketua : A. Sanusi (Guru Parit Api-api)

Anggota : 1. H. Hanafiah (Kepala Parit Selamat)

2. Kadir (Kepala Parit Keramat)

3. Imran (Kepala Parit Bakau)

4. Zuhri (Kepala Parit Palembang)

5. Durasit (Kepala Parit Sungai Rawai)

6. Abdullah (Kepala Parit Api-api)

Bagian Penggempur : Abdul Selamat

Dibanti Oleh : 1. Zaidun

2. H. Saman Mangku (Pasar Kuala Tungkal)

3. H. Hanafiah (Kepala Parit Selamat)

Front Rimba membentuk barisan yang diberi nama ”Barisan Selempang Merah”.

Tujuan dari mendirikan Barisan/Lasyakar Selempang Merah ini adalah untuk menggempur Belanda yang menduduki Kuala Tungkal. Oleh sebab itu, harus dipilih siapa yang akan memimpin Barisan Selempang Merah, terutama waktu menyerbu/menyerang kedudukan Belanda.

Maka terpilihlah Abdul Samad yang disebut kemudian dnegan istilah ”Panglima” (lebih populer dengan sebutan ”Panglima Adul”). Disepakati pula bila Selempang Merah menyerang Belanda harus bersama dengan TNI dan taktik berada di bawah komando TNI.

B. Front Rimba Disempurnakan

Untuk kelanjutan perjuangan, diperlukan pengumpulan dana/makanan secara lebih terkoordinir. Maka pada tanggal 15 februari 1949 di Pembengis ditetapkan penyempurnaan pengurus ”Front Rimba”, yaitu:

Ketua : H. Syamsuddin (merangkap bendahara)

Wakil Ketua : A. Sanusi (Guru Agama)

Kepala Penggempur : H. Saman (Kepala Parit Selamat)

Anggota : 1. Amri (Guru Agama)

2. H. Zakaria (Imam Mesjid)

3. Alan (Anggota DPW)

4. Tarli (Anggota DPW)

Dapur Umum : Rakyat Pembengis

Perbekalan : Dharma Bhakti Rakyat

Penerangan : Jawatan Penerangan yang Terdiri Dari Hasan. AR, Asrie Rasyid dan Rusli Rasyid.

Dokumentasi : Camat Masdar

Dengan penyempurnaan Front Rimba, maka persiapan-persiapan perlawanan bisa dilakukan dengan lebih baik dan terencana, banyak sumbangan dari masyarakat seperti beras, kelapa, sayur, ayam, ikan, gula, kopi, rokok dan lain-lainnya dibawa dengan perahu ataupun berjalan kaki. Tidak jarang dari mereka ikut mendaftarkan diri untuk bertempur melawan Belanda.

Khusus tugas penerangan adalah untuk menggugah semangat juang rakyat, melalui selebaran-selebaran yang dibuat secara sederhana yang isinya dikutip dari siaran ALL INDIA RADIO, BBC siaran untuk Timur Jauh yang isinya menguntungkan perjuangan.

Alat-alat seperti radio-Accu, stensil dan mesin tik diperoleh dari masyarakat yang dengan ikhlas memberikan untuk keperluan perjuangan. Radio accu disumbangkan oleh H. Dahlan seorang pengusaha dari Kuala Tungkal.

Setelah beberpa kali Pembengis di serang oleh Belanda karena letaknya yang tidak jauh dari Kuala Tungkal sekitar 7 (tujuh) Km, maka dirasakan tidak aman sebagai markas Front Rimba, oleh karenanya pengurus Front Rimba disebar keberbagai tempat.

C. Pertempuran-pertempuran di Kuala Tungkal

Pada tanggal 21 Januari 1949 jam 11.30 WIB, beberpa buah kapal Belanda menyerang Kuala Tungkal dengan melepaskan tembakan meriam dan mortir. Salah satu sasaran tembakan mereka adalah Masjid Raya (Jami’) Kuala Tungkal, pada saat manaumat Islam sedang bersiap-siap melaksanakan sholat jum’at.

Akibat serangan tersebut, shalat jum’at tidak berlangsung. Setelah merasa aman, Belanda mendaratkan pasukannya sambil terus melepaskan tembakan senjata berat untuk melindungi pasukannya yang sedang melakukan pendarata.

Pasukan TNI dipimpin oleh Letnan Muda A. Fattah mengadakan perlawanan sambil mundur ke arah Parit Gompong. Dua orang prajurit dan seorang pemuda pejuang guru bahasa Inggris bernama R. Selamat gugur kena tembak belanda pada saat akan meledakkan landman yang sudah dipasang sebelumnya di dekat Kantor Pos.

Pemerintah Kewedanaan Kuala Tungkal dipimpin oleh Wedana Noerdin bersama Kepala Polisi Wilayah I.P.I Mahyuddin Harahap, Camat Tungkal Ilir Masdar beserta staf Pemerintah Kewedanaan Kuala Tungkal di bawah hujan peluru meriam dan mortir mundur menuju desa Pembengis melalui Parit Gompong kecuali beberapa pejabat antara lain Camat Masdar, dari Kepolisian, Penerangan dan lain-lain, Wedana Noerdin, Kepala Polisi Mahyuddin Harahap dan lain-lain meneruskan perjalanan menuju Desa Parit Deli Betara Kiri Kecamatan Tungkal Ilir.

Pembengis adalah sebuah desa kecil yang terletak 7 (tujuh) Km dari Kuala Tungkal, penuh dengan para pengungsi yang terdiri dari berbagai golongan, di samping pejabat pemerintahan dan pasukan TNI.

Setelah Tentara Belanda mendarat di Kuala Tungkal, Belanda terus maju ke araha pembengis dengan maksud untuk mematahkan perlawanan pasukan TNI. Pada jam 17.00 WIB di Parit Gompong dihadang oleh Pasukan TNI yang dipimpin oleh Sersan Mayor Kadet Madhan. AR, sehingga terjadi tembak menembak selama 15 (lima belas) menit. Belanda kemudian mengundurkan diri ke Kuala Tungkal dengan menderita korban beberpa orang tewas dan luka-luka.

D. Serangan Pasukan TNI Pertama

Pada tanggal 23 Januari 1949, setelah mundur dari Kuala Tungkal, satu regu Pasukan TNI di bawah pimpinan Sersan Kadet Mayor Madhan. AR, ditugaskan Komandan Sektor 1023 untuk mengadakan patroli mengintai posisi Tentara Belanda. Di Parit Gompong mereka bertemu dengan Tentara Belanda sehingga terjadi pertempuran yang mengakibatkan beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka.

Pada tanggal 23 Januari 1949 malam, rakyat parit Selamat Seberang Tungkal, melakukan pembakaran asrama TNI di jalan Kemakmuran Lama Kuala Tungkal. Pasukan ini dipimpin oleh Abdul Samad (Adul).

E. Serangan Selempang Merah dan TNI

Seperti telah diuraikan, dengan didudukinya Kuala Tungkal oleh Belanda, maka tokoh-tokoh masyarakat di Parit Selamat tungkal III Kota Kuala Tungkal pada tanggal 25 Januari 1949 telah membentuk Front Rimba yang diketuai oleh H. Syamsuddin Penghulu Tungkal III.

Pengurus Front Rimba ini adalah mereka yang sudah mempelajari amalan Selempang Merah yaitu amalan yang didasarkan pada ajaran agama Islam yangmeyakini bahwa apabila amalan dilaksanakan sebagaimana yang sudah ditentukan, maka yang bersangkutan akan dapat terhindar dari peluru yang ditembakkan padanya.

Pembentukan Front ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat karena sesuai dengan keyakinan mereka, bahwa perang melawan penjajah Belanda, apabila gugur berarti masti syahid karena berjuang untuk kepentingan membela bangsa, negara dan agama seperti yang diajarkan oleh para ulama pada waktu itu.

Tanggal 7 Februari 1949 dengan menggunakan 9 (sembilan) buah perahu, dipimpin oleh Abdul Samad yang dikenal dengan panggilan Panglima Adul. 41 orang yang semuanya sudah mempelajari amalan Selempang Merah sebelum Belanda menduduki Kuala Tungkal, dengan bersenjatakan parang, pisau, keris, tombak dan senjata tajam lainnya, berangkat dari parit Selamat menuju Kuala Tungkal. Pasukan dibagi empat, masing-masing dipimpin oleh:

1. Abdul Smaad

2. H. Saman

3. H. Nafiah

4. Zainuddin


Panglima Lasykar Selempang Merah Front Tungkal Area H. Saman (Panglima Saman)



Panglima Selempang Merah bersama beberapa orang pimpinan pasukan Barisan Selempang Merah (BSM).

Keris senjata Panglima Haji Saman


Sebagian peralatan/senjata perang tradisional Lasykar Selempang Merah dalam melawan Agresi Militer Belnda di Kuala Tungkal tahun 1949


Pada jam 24.00 WIB, mereka meyerang pertahan Belanda secara serentak dan mendadak, Belanda tidak memperkirakan/menduga sebelumnya. Pertempurang terjadi sampai jam 09.00 WIB pagi. Karena penyerangan dilakukan secara tiba-tiba/mendadak, banyak Tentara Belanda yang menjadi korban, di antaranya terdapat tentara yang berpangkat Kapten. Barisan Selempang Merah 2 (dua) orang gugur yaitu Arup bin Wahid dan A. Rachman serta dua orang ditawan.

Dengan berhasilnya serangan pertama ini, maka menambah keyakinan masyarakat terhadap keampuhan amalan Selempang Merah, sehingga makin banyak yang menyampaikan keinginan mereka untuk bertempur menyerang Belanda.

F. Serangan Pasukan Gabungan TNI dan Selempang Merah Dari Parit VII Tungkal I

Pada tanggal 11 Februari 1949 serangan berikutnya terhadap Belanda dilakukan secara gabungan oleh pasukan TNI dipimpin oleh A. Fattah Leside dan Barisan Selempang Merah sebanyak 430 orang dipimpin oleh Panglima H. Abdul Hamid.

Pertempuran berlangsung di Parit III Tungkal V. Barisan Selempang Merah bertempur dengan gagah berani bersenjatakan parang, mandau, keris dan tombak. Dalam pertempuran terjadi perang tanding satu lawan satu. 45 (empat puluh lima) orang Barisan Selempang Merah termasuk Panglima H. Abdul Hamid gugur dekat bekas Pabrik Padai Kam Cang Kui. Seorang TNI dan Letnan Muda A. Fattah Leside menderita luka-luka. Di pihak Belanda juga berjatuhan banyak korban yang jumlahnya tidak dapoat diketahui dengan pasti.

G. Serangan Dari Parit Bakau dan Gugurnya Panglima Adul

Perahu pertama pada urutan paling depan adalah perahu penglima Adul bersama Sersan Mayor CPM Murad Alwi dan dua orang anggota CPM yaitu Kopral Badari dan Kopral Muhammad serta 7 (tujuh) orang anggota Selempang Merah antara lain Abdullah. Sersan Mayor CPM Buimin Hasan bersama beberapa anggota CPM dan Barisan Selempang Merah berada pada perahu urutan ketiga.

Setelah pasukan berada di tengah-tengah lautan, bertemu dengan sebuah kapal perang Belanda. Panglima Adul dan kawan-kawan segera melepaskan tembakan yang ditujukan kepada Tentara Belanda yang berada di atas kapal.

Seketika itu terjadi tembak-menembak yang gencar dari kedua belah pihak. Panglima Adul melompat ke dalam air dan berenang menuju kapal Belanda dengan tujuan naik ke kapal untuk menyerbu Tentara Belanda yang ada di atas kapal. Pada saat berpegang pada jangkar kapal, Panglima Adul terus diberondong dengan tembakan senapan mesin oleh Tentara Belanda sehingga pegangannya terlepas tenggelam dan tidak timbul lagi, Panglima Adul gugur ditempat tersebut.


Panglima Lasykar Selempang Merah Front Tungkal Area Abdusshamad (Panglima Adul) (Photo May 1937 saat Beliau masih di Johor Malaysia)


Tentara Belada terus melepaskan tembakan senapan mesin yang mengakibatkan beberapa perahu pecah atau terbalik, termasuk perahu dimana berada Sersan Mayor CPM. A. Murad Alwi. Seorang anggota Barisan Selempang Merah yang turut dalam perahu tersebut kena tembak dan gugur pada waktu itu juga.

Dalam hujan peluru Tentara Belanda itu, Sersan Mayor Murad Alwi berusaha untuk mencapai pantai Tangga Raja Ulu Kuala Tungkal, dengan cara mengambang dalam air, bernafas hanya melalui hidung, yang diusahakan tetap berada di atas permukaan air. Setelah dengan susuah payah berhasil mendarat di Tangga Raja Ulu, Murad Alwi baru menyadari kalau tangan kirinya tembus kena peluru yang ditembakkan Belanda.

Dari Tangga Raja Ulu, Murad Alwi segera menuju Parit Gompong dimana dia bertemu dengan teman-temannya yang kemudian membawanya ke Beramitam dan terus ke Teluk Nilau untuk mendapatkan pertolongan dan perawatan.

Dalam pertempuran ini, sebanyak 30 (tiga puluh) orang anggota Barisan Selempang Merah dan dua orang CPM yaitu Kopral Badari dan Kopral Muhammad gugur, sedangkan 15 orang lainnya luka-luka termasuk Sersan Mayor CPM. A. Murad Alwi. Sersan Mayor CPM. Buimin Hasan bersama anggota pasukan yang berada dalam perahunya dapat menyelamatkan diri dan mendarat di pantai.


Kapal Belanda di Kuala Tungkal diserang oleh Pasukan Selempang Merah dan TNI dengan menggunakan Perahu dan senjata pedang dan lain-lain. (lukisan)

H. Basis Penyerbuan Dipindahkan ke Pembengis

Setelah beberapa kali melakukan penyerbuan dari laut yang mengakibatkan banyaknya jatuh korban, maka tokoh-tokoh pimpinan baik dari TNI maupun Selempang Merah memutuskan untuk mengalihkan penyerbuan dari arah daratan. Lokasi dipilih sebagai pusat/basis untuk mempersiapkan pasukan adalah Pembengis yang letaknya lebih kurang 7 (tujuh) Km dari Kuala Tungkal.

Untuk menunjang/mengkoordinasikan pelaksanaan penyerangan melalui Front Rimba yang telah disempurnakan mengurus penerimaan bantuan dari masyarakat untuk keperluan perjungan seperti beras, kelapa, sayur-sayuran, ikan, gula, kopi, roti, rokok dan lain-lain, di samping mendaftarkan dan memilih mereka yang menyatakan keinginan untuk turut berjuang dan bertempur melawan Tentara Belanda,

Untuk keperluan, Front Rimba mendapatkan bantuan sebuah radio-accu dari H. Dahlan seorang pengusaha yang dapat dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang berguna untuk lebih memantapkan kelanjutan perjuangan. Informasi yang diperoleh oleh petugas-petugas Jawatan Penerangan yang tergabung dalam Front Rimba disebar luaskan kepada masyarakat antara lain dari siaran Radio BBC untuk Timur Jauh yang menguntungkan perjuangan.

Dengan gugurnya Panglima Adul dan Panglima H. Abdul Hamid, maka pimpinan Barisan Selempang Merah digantikan oleh Panglima H. Saman, yang selama ini selalu mendampingi Panglima Adul dalam penyerbuan-penyerbuan terhadap Tentara belanda.

Pada persiapan terakhir penyerbuan ke Kuala Tungkal, telah mendaftar pada Pengurus Front Rimba di Pembengis sejumlah 1000 (seribu) orang untuk turut bertempur menyerang Belanda, setelah seleksi oleh suatu Tim Penilai diterima sebanyak 441 (empat ratus empat puluh satu) orang, sisanya dipersiapkan sebagai cadangan.

Setelah semeua persiapan selesai dilakuakn, termasuk pengamaln ajaran/amalan Selempang Merah langsung Panglima H. Saman, maka pada tanggal 23 Februari 1949 sejumlah 441 (empat ratus empat puluh satu) orang yang terdiri dari anggota barisan Selempang Merah, TNI, Kepolisian, Pegawai Sipil, Pamong Desa dan alim ulama, dipimpin oleh Pangluma H. Saman menyerang kedudukan Belanda di Kuala Tungkal. Serangan ini meruapakan yang paling besar jumlah pasukannya dan yang terbaik persiapannya dibandingkan dengan serangan-serangan yang dilakukan sebelumnya.

Dalam Pasukan Penyerangan ini terdapat antara lain:

1. Sersan Mayor Kadet Madhan. AR (mewakili Komandan Sektor 1023 Front Tungkal Area) A. Fattah Leside yang sedang dirawat luka-lukanya, dengan 3 (tiga) orang anggota TNI lainnya, yaitu Sersan Syamsik, Kopral (L) Sakiban dan Kopral CPM Sahring.

2. H. Syamsuddin (Ketua Front Rimba/Penghulu Tungkal III)

3. M. Sanusi (Wakil Ketua Front Rimba)

4. Masdar Ajang (Camat Tungkal Ilir)

5. Komandan Polisi Zulkarnaen Idris, Bustami dan lain-lain

Pasukan dibagi menjadi 21 (dua puluh satu) kelompok yang dipimpini oleh seorang Ketua dan Wakil Kelompok yang langsung dipimpin oleh Panglima H. Saman. Pemberangkatan dilakukan dari Pembengis (Mesjid Tua) dan sebelum sampai di Kuala Tungkal berhenti beberapa saat di Mesjid Parit Gompong sambil melaksanakan amalan Selempang Merah sebagai persiapan terakhir sebelum dilakukannya penyerbuan.

Menjelang subuh, pasukan menyerbu Kuala Tungkal, menembus pos-pos penjagaan Belanda. Terjadi pertarungan satu lawan satu dengan persenjataan yang tidak berimbang. Pasukan Selempang Merah membakar rumah-rumah di sekitar tempat digunakan sebagai tempat tinggal/asrama Tentara Belanda, tanpa mengindahkan tembakan-tembakan mesin Belanda, sehingga banyak Tentara Belanda karena khawatir dan panik lari naik ke kapal perang mereka yang berlabuh di dermaga Kuala Tungkal.

Setelah mengamuk hamper selama 3 (tiga) jam, Barisan Selempang Merah mengundurkan diri kembali ke Pembengis dengan meninggalkan korban sebayak 30 (tiga puluh) orang gugur sebagai pahlawan. Di pihak Belanda juga jatuh banyak korban yang mati dan luka-luka berat maupun ringan.

Sejak terjadinya penyerangan itu, Tentara Belanda membuat rintangan-rintangan berupa pagar kawat berduri di sekeliling kamp mereka, supaya TNI dan Selempang Merah tidak akan menyerang lagi. Namun kenyataannya, TNI dan Selempang Merah tidak pernah menghentikan penyerangannya. Tentara Belanda yang keluar dari Kamp mengadakan patroli yang selalu dihadang dan dicegat oleh TNI dan Barisan Selempang Merah.

Pada tanggal 8 Maret 1949, kembali gabungan pasukan TNI dan Selempang Merah dengan kekuatan sebanyak 150 orang (seratus lima puluh) orang dipimpin oleh Panglima H. Saman menyerang kedudukan Belanda di Kuala Tungkal. Dalam penyerbuan ini, 68 (enam puluh delapan) orang Barisan Selempang Merah gugur, dan di pihak Belanda diperkirakan jatuh beberapa korban yang disaksikan langsung oleh mereka yang selamat kembali ke pangkalan.


Rute penyerang pasukan Gabungan Lasykar Selempang Merah dan TNI terhadap markas pertahanan Belanda dalam Agresi Militer II Belanda di Kuala Tungkal

I. Gugurnya Panglima Camak Dari Sungai Undan (Riau)

Pada tanggal 8 Maret 1949 pasukan Tentara Belanda mendarat di desa teluk Sialang, salah seorang anggota Selempang Merah kebetulan berada di pasar Teluk Sialang bernama H. Baslan melihat Tentara Belanda mendarat, H. Baslan anggota barisan Selempang Merah bersenjatakan parang bungkul. H. Baslan diberondong dengan senjata otomatis oleh Tentara Belanda dan gugur ditempat kejadian. H. Baslan semapt melukai lengan kiri seorang Tentara Belanda (Belanda asli)

Pada tanggal 16 Maret 1949, Panglima Camak Pimpinan Barisan Selempang Merah dari Sungai Undan (Riau) memimpin 250 (dua ratus lima puluh) orang Pasukan Barisan Selempang menyerbu Kuala Tungkal. Turut serta dalam penyerbuan ini 25 (dua puluh lima) orang pasukan TNI dipimpin oleh Sersan Mayor Kadet Madhan. AR.

Pasukan diberangkatkan dari Mesjid Tua Pembengis. Dalam penyerbuan ini, Panglima Camak di bawah hujan peluru yang ditembakkan belanda menyerbu bersama pasukannya, melompati pagar berduri langsung menyerbu Belanda yang berada di dalam kamp. Semantara pasukan TNI terus melepaskan tembakan untuk melindungi mereka. Karena kekuatan senjata tidak seimbang dimana pasukan Selempang Merah hanya menggunakan senjata tajam seperti parang, pedang, keris, badik, tombak dan semacamnya. Sedangkan Belanda menggunakan senajata modern otomatis seperti senapan mesin dan lain-lai, Pasukan Selempang Merah mengundurkan diri kembali ke Pembengis. Dalam pertempuran tersebut, Panglima Camak bersama 36 (tiga puluh enam) orang anggota Barisan Selempang Merah gugur.

J. Markas Sektor 1023 Berpinda-pindah

Setelah beberapa kali diserang oleh pasukan TNI bersama Barisan Selempang Merah yang berpangkalan di Pembengis, maka Tentara Belanda meningkatkan patrolinya ke Pembengis dan sekitarnya baik melalui laut dengan menggunakan Kapal patroli BO yang dilengkapi dengan senjata berat maupun melalui darat dari arah Parit Gompong sehingga pembengis tidak aman lagi.


Komandan Sektor 1023 Tungkal Area Letnan Muda A. Fattah Laside bersama staf.
Berdiri di depan dari kiri ke kanan: Sersan Mayor Moerad Alwie, Sersan Mayor Kadet Madhan AR, Letnan Muda A. Fattah Laside dan Sakiban. Duduk jongkok di depan Mayor Buimin Hasan.


Untuk kepentingan perjuangan selanjutnya tempat pemuatan dan persiapan perjuangan berpinda-pindah dari satu tempat ketempat lainnya (mobile). Komandan Sektor Letnan Muda A. Fattah Leside pertama kali memindahkan markasnya ke Parit VII kemudian ke Parit Bakau, Sungai Gebar dan terakhir pangkal Duri/Sungai Punggur.

Strategi dan taktik perjuangan selanjutnya tetap mempergunakan strategi dan taktik perang grilya (hita and run). Agar strategi dan taktik ini berjalan lebih efisien dan efektif, oleh karena Sektor 1023/Tungkal Area susunan Sektor atau Tungkal Area disempurnakan dengan susunan sebagai berikut:

  1. Komandan Sektor/Pertempuran:

Letnan Muda A. Fattah Leside didampingi Letnan (U) Makky Perdana Kusuma.

  1. Wakil Komandan:

Sersan Mayor KAdet Madhan. AR.

  1. Komandan Sub Sektor Sungai Betara/Parit Deli:

Sersan Mayor (L) T. Anwar Syah.

  1. Komandan Sub Sektor Sungai Pengabuan:

Sersan Mayor CPM A. Murad Alwi.

Di samping itu terdapat beberapa Kesatuan Tempur yaitu Kesatuan Tempur yang masing-masing dipimpin oleh Sersan Mayor CPM Buimin Hasan, Komandan Polisi Zulkarnaian Idris, Sersan Mayor (L) Sanusi dan Sakiban yang bergerak dari satu tempat ketempat lainnya (mobile). Untuk menyerang Belanda secara gerilya. Sampai diumumkannya Cease Fire Ipenghentian tembak menembak/gencatan sejata). Pengahadangan terhadap Tentara Belanda terus dilakukan di antaranya di Sungai Punggur, Teluk Sialang, paar Sungai Serindit, Pasar Teluk Nilau, Sungai Gebar dan lainnya.

Dalam pertempuran di Sungai Gebar pada bulan April 1949, patroli temtara belanda dihadang oleh pasukan TNI Angkatan Laut dipimpin oleh Sersan Mayor (L) T. Anwar Syah didampingi oleh Letnan (U) Makky Perdanan Kusuma. Setelah bertempur beberapa lama karena kalah dalam jumlah dan jenis senjata, pasukan TNI mundur dengan korban 3 (tiga) orang luka ringan di antaranya Letnan (U) Makky Perdanan Kusuma kena tembak dip aha kirinya.

Tanggal 12 April 1949, Tentara Belanda dengan menggunakan kapal BO bersenjata berat merapat di Pasar Desa Teluk NIlau, dengan mendaratkan pasukannya dengan bersenjata lengkap. Melihat Tentara Belanda mendarat, pasukan Barisan Selempang Merah menyebar di sekitar Pasar Teluk Nilau, melihat Tentara Belanda yang sedang beriringan berjalan menuju daratan, salah seorang anggota Barisan Selempang Merah bernama Aban menyerbu Tentara Belanda seorang diri, belum sempat sampai ke pasukan Tentara Belanda, Aban sudah diberondong dengan senjata otomatis Tentara Belanda dan Aban meninggal ditempat kejadian.

K. Serdadu KL. Belanda Di Tangkap

Pada awal bulan April 1949 setelah markas Sektor 1023 dipindahkan ke Pangkal Duri, sebuah kapal perang Belanda mendekati pantai Pangkal Duri. Sebelumnya Tentara Belanda memang sudah sering mengadakan patroli di sekitar pantai pangkal Duri karena bahwa markas Sektor 1023/Tungkal Area berada di tempat ini.

Kapal perang itu penuh berisi serdadu asli bangsa Belanda yang disebut Koningkelijke Leger (KL). Sebelum sampai di kuala Pangkal Duri, kapal kandas di tengah laut karena air sedang surut. Dengan sebuah sekoci 3 (tiga) orang serdadu Belanda menuju kuala Pangkal Duri dengan maksud menyelidiki situasi, tetapi tidak bias mendarat karena air surut.


Seorang Angkatan Laut Belanda yang tertawan oleh Tentara republik Indonesia (TRI)

sedang diintrogasi oleh Letnan Muda A. Haddy Kepala D. III Intel TNI. (lukisan)


Seorang di antaranya dengan menggunakan perahu nelayan yang kebetulan lewat berusaha untuk mencapai daratan Kuala Pangkal Duri dimana terdapat rumah-rumah penduduk dan sebuah Pos Pabean (Bea Cukai). Sebelum samapi di daratan, perahu sengaja dibalikkan oleh pemiliknya, kemudian oleh penduduk yang berada di Kuala Pangkal Duri Tentara Belanda tersebut ditangkap ramai-ramai dan dibawa ke Sungai Punggur, di antaranya turut Adnan Hasibuan seorang Pegawai Bea-cukai yang sedang bertugas di Kuala Pangkal Duri.

Melihat peristiwa tersebut, dua orang serdadu Belanda yang berada di atas sekoci segera kembali ke kapal. Di Sungai Punggur serdadu Belanda tersebut dibawa kepada Komandan Sektor 1023 A. Fattah Leside kemudian diperiksa oleh Letnan MUda A. Hadi Kepala Jawatan III?Intel Front Utara yang kebetulan sedang berada di desa tersebut dalam rangka tugasnya membantu situasi pertempuran di daerah Front Tungkal Area.

Sore harinya sebuah kapal patroli Belanda BO dilengkapi dengan senjata berat dan ringan melepaskan tembakan kea rah Kuala Pangkal Duri dan Sungai Punggur tanpa arah yang pasti (membabi buta). Serdadu Belanda kemudian naik ke darat terus melepaskan tembakan. Apsukan TNI mengundurkan diri kepedalaman sambil melepaskan tembakan balasan untuk memperlambat lajunya Tentara Belanda. Dalam peristiwa tersebut 30 (tiga puluh) orang penduduk ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Kuala Tungkal.


Letnan Muda A. Haddy Kepala D. III Intel TNI

L. Perundingan Genjatan Senjata dan Penyerahan Kedaulatan Republik Indonesia

Pada tanggal 27 Juni 1949 Pokok-pokok Persetujuan “Rum Royen” diumumkan yang isinya antara lain mengenai peghentian tenbak menembak dari kedua belah pihak. Pada tanggal 1 Agustus 1949 ditanda tangani persetujuan bersama “Penghentian Tembak Menembak” dari kedua belah pihak. Pengumuman pelaksanaannya disebarkan melalui radio, kawat keseluruhan jajaran TNI di Nusantara. Sedangkan dari pihak belanda H. Y. Lovink bertindak sebagai Wakil Tertinggi Mahkota Belanda di Jakarta, menyampaikan keseluruh Tentara Belanda. Penghentian tembak menembak ini diikuti dan diawasi oleh UNCI dan setelah poko persetujuan ini dilaksanakan barulah dilanjutkan Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Di Jambi pada tanggal 3 Agustus 1949 diumumkan penghentian tembak menembak oleh KUasa Militer Belanda, dengan memperbanyak intruksi/Perintah Penghentian Tembak Menembak itu dalam bentuk surat selebaran yang disebarkan dari pesawat udara karena kedudukan TNI berada di kantong-kantong gerilya.

Selebaran ini ditandatangani oleh Gubernur Militer Sumatera Selatan Dr. A. K. Gani, yang berbunyi sebagai berikut: “ATAS PERINTAH PANGLIMA TERTINGGI TNI TTKD. KUASA DIBERIKAN KON.SUM.KOL. HIDAYAT, MAKA SUMATERA SELATAN MEMERINTAHKAN KEPADA SEMUA KESATUAN TNI SERTA BADAN PERJUANGAN RAKYAT YANG BERSENJATA MENGHENTIKAN TEMBAK MENEMBAK DAN PERMUSUHAN SERTA TETAP DITEMPAT MASING-MASING MULAI TANGGAL 03 AGUSTUS 1949 JAM 24.00. WAKTU INDONESIA TTK PERINTAH HBS Dr. A.K. GANI”.

Asli kawat ini langsung disampaikan oleh Gubernur Militer Sumatera Selatan kepada Pemerintah Sipil Darurat Residen RI Jambi dan Komandan Sub Teritorial Jambi.

Sebagai kelanjutan dari kawat penghentian tembak menembak oleh Gubernur Militer Sumatera Selatan tersebut dikeluarkan pada intruksi-intruksi sebagai berikut:

1. Pemberitahuan kepada Komanda-komandan Pasukan (Batalyon, Kompi, Seksi) TNI tentang penentuan tempat berkumpul masing-masing kesatuan konsentrasi.

2. Supaya diadakan Perundingan Pendahuluan antara Wakil TBA yang terdiri dari Van Schendel dan Letnan Kolonel A. G. W. Navis dengan Local Joint Commitee yang terdiri dari Kolonel Abunjani, Bupati M. Kamil dan mayor Brori Mansyur.

Pada tanggal 5 Sepetember 1949 diadakan perundingan diruangan Kantor Bupati di Bangko, rombongan dari Local Joint Committee dikawal satu seksi TNI bersenjata lengkap dengan membawa bendera merah putih.

Perundingan berjalan lancer dengan hasilnya sebagai berikut:

1. Konsentrasi Pasukan TNI

a. Pasukan yang tergabung dalam batalyon “Gatot Kaca” berkumpul di Merlung dan Pelabuhan Dagang, sebagai Opsir penghubung ditnjuk Letnan Muda A. Hadi

b. Pasukan yang tergabung dalam Batalyon “Cindur Mato” berkumpul di Rantau Ikil dan Tanah Tumbuh, sebagai Opsir Penghubung ditunjuk Letnan Dua M. Nawawi.

c. Pasukan yang tergabung dalam Batalyon “Gajah Mada” berkumpul di Bangko sebagai Opsir Penghubung ditunjuk Letnan Satu Suhaimi.

2. Pemberitahun

a. Pemberitahuan untuk konsentrasi dan posisi Batalyon dalam gencatan senjata diserahkan kepada KOmandan Sub territorial Jambi melalui kurir-kurir.

b. Semua Komandan Batalyon akan dipanggil ke Muara Tembesi dan akan diberikan petunjuk oleh Mayor Brori Mansyur selaku Anggota Local Joint Commitee Indonesia daerah Jambi.

c. Sebelum tanggal 10 Oktober 1949, seluruh Tentara Belanda sudah harus ditarik dari kota-kota di luar kota Jambi, dan digantikan oleh pasukan-pasukan TNI.

d. Belanda diminta bantuannya dalam pemindahan anggota TNI dari kantong-kantong Gerilya tempat konsentrasi.

e. Pasukan Ayang Terbuang akan menduduki Muara Tebo.

f. Pasukan BT, BB, Regu CPM, Regu Polisi samapai waktunya bergerak ke Air Gemuruh dimana nanti pasukan Belanda meninggalkan Muara Bungo sehingga pasukan-pasukan ini segera menduduki Muara Bungo.

g. Mengenai Pasukan Batalyon Gatot Kaca, Mayor Brori Mansyur mengadakan perundingan pertama antara utusan batalyon Gatot Kaca Kapten (U) Soerjono dengan pimpinan Detasemen Tentara Belanda, di Kuala Tungkal terjadi ketegangan. Mayor Brori Mansyur di dampingi Mayor Z. Rivai langsung turun tangan berunding dengan Kapten Wolterbeck Kepala Staf Resimen Belanda di Parit Deli Kuala Tungkal.

Setelah diberikan penjelasan selengkapnya, barulah TNI di Kuala Tungkal bersedia untuk berkonsentrasi di Tungkal Ulu, yaitu anggota TNI Regu CPM yang dipimpin oleh Sersan Mayor A. Murad Alwi, pasukan Angkatan Laut di bawah pimpinan Sersan Mayor T. Arwansyah, sedangkan Polisi dipimpin oleh Inspektur polisi Mahyuddin tetap berada di Kuala Tungkal.

Untuk mengamankan Ceas Fire agar jangan sampai terjadi pelanggaran gencatan senjata tersebut oleh masing-masing pihak yang berperang dan berdasarkan hasil rapat Muara Tembesi 27 Oktober 1949 antara RI dan Belanda di bawah koordinasi UNCI/Komisi Tiga Negara disetujui bahwa semua pasukan TNI harus meninggalkan dan mengosongkan kantong-kantong. Untuk itu, utusan Local Joint Committee dari TNI Mayor Brori Mansyur dan dari pihak Belanda Letnan Satu Wolterbeck mempergunakan fasilitas Motor BO Belanda mengadakan rapat/pertemuan dengan Pimpinan Front Tungkal Area yang dihadiri antara lain Letnan Muda A. Fattah Leside, Sersan mayor Kadet Madhan. AR, Sersan Mayor Buimin Hasan, Sersan Mayor Arwansyah dengan pengawal Sersan Dua Syamsi, pada minggu pertama November 1949 di Parit Deli (Tungkal Ilir) menyampaikan intruksi dan mengatur tekhnis Pelaksanaan Evakuasi Pasukan TNI ketempat konsentrasi di Merlung bergabung dengan staf Batalyon Gatot Kaca dan rekan-rekan dari Front Sengeti Area. Selama menunggu penyelesaian selanjutnya, bantuan suplay dan logistik dikirim secara periodic ke Tungkal Ulu oleh fasilitas Belanda yang diatur oleh petugas Joint Committee.

Evakuasi tersebut jelas menimbulkan kekecewaan bagi pasukan Tungkal Area, apalagi daerah pedalaman kecuali kota Kuala Tungkal, utuh merupaka daerah Republik Indonesia dengan rakyatnya yang Republikien, tetapi dengan menyadari kepentingan yang lebih besar dalam perjuangan. Tidak ada alternatif lain, selain mematuhi intruksi evakuasi tersebut, dengan berat hati dan tetesan air mata sewaktu terjadi perpisahan dengan rakyat yang manunggal seperti ikan dan air dalam sukan maupun dukanya perjuangan menegakkan Republik Indonesia tercinta ini.

Sesudah tanggal 29 Desember 1949 dengan berhasilnya KMB dan sekaligus penyerahan Kedaulatan Republik Indonesia, pasukan Front Tungkal Area yang dipimpin oleh Letnan Muda A. Fattah Leside mendarat di Kota Kuala Tungkal mengambil alih tanggungjawab terhadap Koata Kuala Tungkal yang ditinggalkan Belanda. Dalam suatu upacara penaikan bendera merah putih di Lapangan Sepak Bola yang saat ini menjadi Terminal Kota. Bertindak selaku Inspektur Upacara Act. Kolonel Abunjani KOmandan STD/Garuda Putih Anggota Joint Committee yang sengaja dating dari Jambi. Selesai upacara diadakan do’a syukuran dan makan bersama yang diselenggarakan oleh Kepala Warga India di Kuala Tungkal Muhiddin.


Pemboman bekas markas pertahanan Tentara RI Bataliyon Gatot Kaca pimpinan Mayor Z. Riva'i oleh Belanda di Merlung. (lukisan)

Demikianlah riwayat perjuaangan ini dibuat untuk dapat diketahui oleh generasi penerus yang akan meneruskan perjuangan bangsa. Sengaja riwayat perjuangan Barisan Selempang Merah dan TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU, serta rakyat dan POLRI ini dibuat untuk kenang-kenangan bagi yang tinggal, kalau nanti para pelaku perjuangan sudah tidak ada lagi di bumi persada ini.

Riwayat perjuangan ini disadur dari catatan Sdr. Madhan. AR (mantan Wkl. Komandan Pertempuran Sektor 1023 Front Tungkal Area), catatan Patih Masdar selaku Camat Tungkal Ilir dan dari beberapa para pejuang yang masih hidup.


No comments:

Post a Comment

Post a Comment